top of page


KETUHANAN YESUS YANG DIRAGUKAN
Kisah Para Rasul 2:36 KETUHANAN YESUS DIPERTARUHKAN Kajian Teks Bizantin, Etimologi, Morfologi, Sintaksis, Konteks Lukas–Kisah Para Rasul, dan Kristologi Dogmatis Abstrak Kisah Para Rasul 2:36 merupakan salah satu teks kristologis Perjanjian Baru yang paling mudah disalahpahami: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Pembacaan superfisial terhadap ungkapan Yunani κύριον καὶ χριστὸ
28 Agu


Pemerintahan Teokrasi
TEOKRASI Dari Pemerintahan Israel Kuno hingga Bayang-Bayang Otokrasi Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Teokrasi dalam Perjanjian: Kedaulatan Allah, Legitimasi Manusia, dan Batas-Batas Kekuasaan Sakral Ringkasan eksekutif Teokrasi, dalam arti teologis yang paling ketat, bukanlah “pemerintahan para rohaniwan”, melainkan tatanan yang mengakui bahwa kedaulatan terakhir berada pada Allah. Yosefus, yang memperkenalkan istilah Yunani theokratia dalam Against Apion II.164–165, membedaka
27 Agu


KESELAMATAN YHWH & JESUS KRISTUS
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono AKULAH YAHWE dan tidak ada juru selamat selain AKU (Yes 43:11) dan Klaim Eklusif keselamatan tentang Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru Ringkasan Eksekutif Pertanyaan pokok artikel ini adalah apakah pernyataan Deutero-Yesaya bahwa YHWH satu-satunya penyelamat—terutama Yesaya 43:10–13 dan 45:5–7, 18–25—menunjuk kepada “entitas ilahi yang sama” dengan klaim-klaim Perjanjian Baru bahwa keselamatan tidak terdapat di luar Yesus, terutama Kisah Para
26 Agu


Jembatan monotheisme dan Tritunggal
Monoteisme Yahudi, Kabbalah, dan Tritunggal Kristen Pdt. Dr. Timotius Bakti Saarono Ringkasan eksekutif Draf yang paling kuat secara akademis sebaiknya tidak berusaha membuktikan bahwa Kabbalah identik dengan Tritunggal, melainkan membangun sebuah jembatan konseptual terbatas: bagaimana keesaan Allah dapat dibicarakan bersama dengan diferensiasi internal, manifestasi, agensi, atau relasi tanpa serta-merta berubah menjadi politeisme. Pendekatan ini selaras dengan penelitian me
26 Agu
BAPA DAN AKU SATU
MAKNA KRISTOLOGIS "AKU DAN BAPA ADALAH SATU" (YOHANES 10:30): KAJIAN FILOLOGIS, EKSEGETIS, DAN HISTORIS-DOGMATIS ATAS KESATUAN ESENSI DAN SERUAN ELOI ELOI LAMA SABAKHTANI Jurnal Teologi Sistematika dan Biblika Kajian Lepas — Bidang Kristologi Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Jurnal Teologi Sistematika dan Biblika Abstrak Artikel ini mengkaji secara filologis, eksegetis, dan historis-dogmatis pernyataan Yesus dalam Yohanes 10:30, "Aku dan Bapa adalah satu" (ἐγὼ καὶ ὁ πατὴρ ἕν ἐσ
26 Agu


Ontologi Kristologis dan Monoteisme : Analisis Biblika Teologis atas Keilahian Yesus, Penyembahan, Doa, dan Tahta Eskatologis
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono,MA,M.Th,M.Pd.K Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Introduksi Teologis: Navigasi Kristologi Biblika dan Monoteisme Penyelidikan mengenai identitas keilahian Yesus Kristus (deitas Christi) dalam konteks Perjanjian Baru merupakan salah satu fondasi utama pembentukan dogma Kristen. Kerangka berpikir para penulis Perjanjian Baru berakar secara tidak terpisahkan pada monoteisme Yahudi masa Bait Allah Kedua yang berpusat pada Shema Yisrael sebagaimana terc
25 Agu


Perdebatan fakta dan historis Si eden
Taman Eden: Historis-Literal atau Figuratif? Pemetaan Perdebatan teologis Lintas Tradisi Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Tidak ada satu jawaban tunggal: perdebatan tentang apakah narasi Eden (Kejadian 2-3, termasuk Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat) bersifat historis-literal atau figuratif membelah semua tradisi Kristen utama, tetapi konsensus lintas-tradisi yang muncul adalah bahwa poin teologisnya (dosa, kematian, keterasingan dari Allah, dan Kristus sebagai Adam kedua) dipe
24 Agu


Kapan ketuhanan Yesus?
“ALLAH TELAH MEMBUAT-NYA MENJADI TUHAN DAN KRISTUS” Hermeneutika Kisah Para Rasul 2:36 Etimologi • Morfologi • Teks Bizantin • Kristologi Kebangkitan Kajian akademis, teologis, dan biblis Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Abstrak Kisah Para Rasul 2:36 sering dibaca seolah-olah Yesus baru memperoleh hakikat ilahi setelah menyelesaikan karya-Nya, mati, dan dibangkitkan. Pembacaan itu tidak memadai. Secara gramatikal, ayat ini tidak menyebut Yesus sebagai theos (Allah), melaink
24 Agu


BAHAYANYA SKANDAL FIGURATIF TAMAN EDEN
Argumen pihak yang menilai penafsiran "Eden sepenuhnya figuratif" berisiko 1. Fondasi doktrin dosa asal dan paralel Adam–Kristus Argumen utama berpusat pada Roma 5:12-21 dan 1 Korintus 15:21-22, di mana Paulus membangun paralel langsung antara Adam sebagai kepala federal umat manusia yang jatuh dan Kristus sebagai kepala federal yang menebus. Bagi banyak teolog sistematika, paralel ini bekerja secara logis-teologis hanya jika Adam adalah figur historis riil, sebagaimana Krist
24 Agu


Hilangnya Eden dan Pohon kehidupan
1. Lokasi Eden menurut teks (Kejadian 2:10-14) Teks sendiri memberi penanda geografis yang cukup spesifik: "Adapun sungai yang mengalir dari Eden... lalu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, Pison... Yang kedua, Gihon... yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kus. Yang ketiga, Tigris... yang keempat, Efrat." Dua sungai — Tigris (Hiddekel) dan Efrat — masih ada sampai sekarang, mengalir dari dataran tinggi Anatolia (Turki) melalui Mesopotamia (Irak modern) ke Teluk Pe
24 Agu


Skandal Pohon terkutuk
Thought for 13s Pohon Eden dan Kayu Golgota: Tipologi, Etimologi, dan Makna Teologis Pembalikan (reversal) antara pohon yang membawa kejatuhan dan kayu yang membawa keselamatan. 1. Kerangka Tipologi: Dua "Pokok" dalam Sejarah Keselamatan Dalam teologi biblika, "pohon" di Eden (Kej. 2:9, 17) dan "kayu" salib bukan dua objek yang kebetulan sama-sama terbuat dari kayu — keduanya difungsikan Alkitab dan tradisi gerejawi sebagai locus keputusan eksistensial umat manusia: Pohon Pe
24 Agu


FIRDAUS SEBAGAI REALITAS HISTORIS, GEOGRAFIS, DAN TEOLOGIS:Suatu Kajian Biblis-Teologis atas Eden, Pohon Kehidupan, dan Janji Keselamatan dari Kejadian 3:15 hingga Lukas 23:43
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono,MA,M.Pd ABSTRAK Kajian ini meneliti klaim teologis bahwa Firdaus (Taman Eden) bukanlah sebuah figur sastra atau mitos etiologis, melainkan sebuah realitas historis-geografis yang di dalamnya Allah menempatkan dasar-dasar keselamatan bagi umat manusia. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika historis-gramatikal, penelitian ini menelusuri tiga jalur argumentasi: pertama, argumentasi geografis berdasarkan data toponimi dan hidrologi dalam Kejadi
21 Agu


KESELAMATAN DI EDEN
SERI KAJIAN BIBLIKA & MISTIK YAHUDI KESELAMATAN DI EDEN Mengapa Allah Menyingkirkan Pohon Kehidupan? Tinjauan Biblika–Teologis dan Mistik Yahudi (Kabbalah) Edisi Edukatif — Diperluas untuk Pembelajaran dan Refleksi Kejadian 3:22–24 dalam Terang Patristik, Midrash, dan Zohar Pendahuluan Kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3 sering dibaca hanya sebagai narasi hukuman: manusia melanggar perintah, lalu diusir dari Eden. Namun ada satu detail yang kerap terlewat, padahal ju
20 Agu


HUBUNGAN ADAM HISTORIS DAN KRISTUS FUTURIS
1. Hubungan Soteriologis: Adam Historis dan Kristus sebagai Adam Kedua Dalam teologi Perjanjian Baru, khususnya dalam surat Paulus (Roma 5:12–21 dan 1 Korintus 15:21–22, 45–49), Paulus mensejajarkan Adam dan Yesus Kristus secara historis dan eskatologis. Metodologi Perbandingan Paulus: Paulus menggunakan pendekatan sejarah (realitas faktual), bukan sekadar perbandingan sastra. Jika Adam adalah figuratif atau tokoh mitos belaka, maka konsekuensi teologisnya sangat fatal bagi d
20 Agu


Patologi Kepemimpinan Pastoral:
Kematangan Diri dan Narsisme Kegagalan dalam pelayanan gerejawi kerap kali ditafsirkan secara dangkal sebagai kejatuhan moral spontan, krisis finansial, atau kelelahan pelayanan (burnout). Namun, penelusuran akademis yang mendalam menunjukkan bahwa kegagalan pastoral yang bersifat destruktif dan berulang berakar pada patologi karakter yang mendasar: ketidakdewasaan psikologis, ketidakselesaian konflik internal dengan diri sendiri, dan hadirnya narsisme pastoral yang kronis. J
14 Agu


Yesus dan Allah Yang Esa.
Menelusuri Kedudukan Kristus dalam Bingkai Monoteisme Sebuah kajian teologis, biblis, dan akademis untuk pembaca yang ingin memahami perdebatan ini secara jernih Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Mengapa Pertanyaan Ini Penting Bagi banyak orang Kristen, pertanyaan “siapa Yesus dalam kaitannya dengan Allah Yang Esa?” terasa sudah selesai dijawab sejak Konsili Nicea (325 M) dan Konstantinopel (381 M). Namun di ruang akademis Perjanjian Baru dan kajian Yahudi Bait Kedua (Second Tem
11 Agu


Kharisma dan Karakter: Mengapa Keduanya Harus Berbanding Lurus — Tinjauan Biblis, Teologis, dan Mistik Yahudi
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Pendahuluan Dalam wacana kepemimpinan modern, kharisma sering dipahami sebagai daya tarik personal yang memikat orang lain untuk percaya, mengikuti, bahkan tunduk. Namun pemahaman ini sesungguhnya adalah penyempitan dari makna aslinya. Kata charisma berasal dari bahasa Yunani kharis, yang berarti "anugerah" atau "sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma". Sosiolog Max Weber-lah yang kemudian meminjam istilah ini dari tradisi teologis dan mengubah
10 Agu


Objek Fisik atau Abstraksi Pikiran? Meninjau Historisitas Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat Melalui Lensa Dekat Timur Kuno dan Hermeneutika Sakramental"
Membahas historisitas Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat (Etz ha-Da’at Tov v’Ra) dalam Kitab Kejadian sering kali menabrak dinding skeptisisme modern. Argumen yang menyatakan bahwa "tidak ada spesies pohon yang secara biologis sanggup mengubah paradigma pemikiran manusia" atau "tidak ada nama ilmiah/taksonomi dari pohon tersebut" adalah keberatan yang wajar jika kita menggunakan kacamata reduksionisme materialis. Namun, menolak fakta sejarah Pohon Kejadian sem
8 Agu


Historisitas Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Yang Jahat: Analisis Hermeneutis Akademis, Teologis, dan Mistik atas Kejadian 3
Pdt. Dt. Timotius Bakti Sarono Perdebatan mengenai sifat teks dalam Kejadian 3—apakah narasi Taman Eden, kejatuhan manusia, serta keberadaan Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Yang Jahat (ʿēṣ haddaʿaṯ ṭōḇ wārāʿ) bersifat fakta sejarah konkrit (res gestae) atau sekadar alegori figuratif—merupakan salah satu titik krusial dalam hermeneutika alkitabiah. Dalam wacana teologi modern, terdapat kecenderungan untuk mereduksi narasi Kejadian 3 menjadi mitos puitis atau simbolisme
7 Agu


Monoteisme Kenosis: Menjelaskan Kehadiran Allah dalam Yesus Kristus
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono Pendahuluan Sejak awal, iman Kristen berangkat dari satu pengakuan yang diwarisi langsung dari Yudaisme: Allah itu esa. ShemaIsrael — "Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" (Ul 6:4) — adalah fondasi yang tidak pernah ditinggalkan oleh jemaat mula-mula, termasuk oleh Paulus sendiri, yang justru mengutip ulang keesaan Allah ini bahkan ketika berbicara tentang Kristus (1 Kor 8:6). Pertanyaannya kemudian: bagaimana pengalaman
5 Agu
bottom of page
