top of page

Kapan ketuhanan Yesus?


“ALLAH TELAH MEMBUAT-NYA MENJADI TUHAN DAN KRISTUS”

Hermeneutika Kisah Para Rasul 2:36

Etimologi • Morfologi • Teks Bizantin • Kristologi Kebangkitan

 

Kajian akademis, teologis, dan biblis

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono



 

Abstrak


Kisah Para Rasul 2:36 sering dibaca seolah-olah Yesus baru memperoleh hakikat ilahi setelah menyelesaikan karya-Nya, mati, dan dibangkitkan. Pembacaan itu tidak memadai. Secara gramatikal, ayat ini tidak menyebut Yesus sebagai theos (Allah), melainkan menempatkan ho theos sebagai subjek yang “membuat/menetapkan” Yesus sebagai kyrios (Tuhan) dan christos (Kristus/Mesias). Bentuk aoris epoiēsen menyajikan tindakan Allah sebagai peristiwa penentu, tetapi tidak dengan sendirinya berarti penciptaan hakikat baru. Dalam konteks pidato Petrus, tindakan tersebut adalah kebangkitan, pemuliaan, penobatan, dan pengungkapan publik pemerintahan mesianik Yesus. Kesimpulan ini diperkuat oleh alur Lukas-Kisah Para Rasul: Yesus telah disebut Tuhan dan Kristus sebelum salib, sedangkan kebangkitan menandai fase baru pelaksanaan pemerintahan-Nya di sebelah kanan Allah. Perbandingan LAI-TB dan teks Bizantin menunjukkan perbedaan susunan kata, bukan perbedaan ajaran. Secara kanonik, Perjanjian Baru tidak mengajarkan bahwa Yesus baru menjadi Allah setelah Paskah; Yohanes 1:1 menempatkan sebutan theos pada Sang Firman sebelum inkarnasi, sedangkan Yohanes 20:28 merupakan pengakuan terhadap Dia yang bangkit, bukan proses pendewaan.

Kata kunci: Kisah Para Rasul 2:36, kyrios, christos, theos, kristologi, pemuliaan, teks Bizantin, adopsionisme.

Jawaban inti: Kisah Para Rasul 2:36 tidak mengatakan bahwa Allah menciptakan Yesus menjadi Allah. Ayat itu menyatakan bahwa Allah membangkitkan, membenarkan, menobatkan, dan mengukuhkan Yesus yang disalibkan sebagai Tuhan yang memerintah dan Mesias yang dijanjikan. Yang baru sesudah Paskah ialah tahap historis pelaksanaan serta pengungkapan pemerintahan mesianik-Nya, bukan hakikat ilahi-Nya.

1. Membaca Ayat Ini secara Hermeneutis

Hermeneutika yang bertanggung jawab harus membedakan empat tingkat pembacaan. Pertama, tingkat leksikal, yaitu kemungkinan arti sebuah kata. Kedua, tingkat morfologis-sintaktis, yaitu bentuk kata dan hubungan gramatikalnya. Ketiga, tingkat literer-intertekstual, yaitu fungsi ayat dalam pidato Petrus serta hubungannya dengan Yoel 2/3, Mazmur 16, dan Mazmur 110. Keempat, tingkat kanonik-teologis, yaitu bagaimana pernyataan ini berhubungan dengan keseluruhan Lukas-Kisah Para Rasul dan kesaksian Perjanjian Baru.

Urutan itu penting karena etimologi tidak boleh dipakai sebagai jalan pintas menuju dogma. Asal-usul sebuah kata dapat menjelaskan sejarahnya, tetapi makna aktual ditentukan oleh pemakaian, tata bahasa, dan konteks. Sebaliknya, pembacaan kanonik juga tidak boleh menghapus urutan sejarah keselamatan yang benar-benar ditekankan Lukas: Yesus yang telah menjalani pelayanan, ditolak, disalibkan, dibangkitkan, dan ditinggikan kini memerintah dalam cara yang baru.

2. LAI dan Teks Yunani Bizantin

LAI-TB menerjemahkan:

“Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Teks Bizantin Robinson-Pierpont berbunyi:

Ἀσφαλῶς οὖν γινωσκέτω πᾶς οἶκος Ἰσραήλ, ὅτι καὶ κύριον καὶ χριστὸν αὐτὸν ὁ θεὸς ἐποίησεν, τοῦτον τὸν Ἰησοῦν ὃν ὑμεῖς ἐσταυρώσατε.

Transliterasi:

Asphalōs oun ginōsketō pas oikos Israēl, hoti kai kyrion kai christon auton ho theos epoiēsen, touton ton Iēsoun hon hymeis estaurōsate.

Terjemahan sangat harfiah sesuai urutan Bizantin ialah: “Dengan pasti, karena itu, hendaklah seluruh rumah Israel mengetahui bahwa baik Tuhan maupun Kristus, Dia itu, Allah telah menjadikan—Yesus ini, yang kamu sendiri salibkan.” Terjemahan kontekstual yang lebih alami ialah: “Karena itu, hendaklah seluruh umat Israel mengetahui dengan pasti bahwa Allah telah mengukuhkan Yesus ini—yang kamu salibkan—sebagai Tuhan dan Mesias.”

Teks Bizantin bukan “terjemahan”, melainkan bentuk teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang dominan dalam tradisi manuskrip Bizantin. Dibandingkan dengan NA28, perbedaan pada ayat ini terutama berupa susunan kata. Teks Bizantin menyatukan kedua predikat—kyrion kai christon—lalu menempatkan auton dan ho theos sebelum verba. Teks kritis menempatkan auton di antara kedua gelar dan ho theos setelah verba. Kedua susunan menyampaikan isi proposisional yang sama: Allah adalah pelaku; Yesus adalah pihak yang ditetapkan; “Tuhan” dan “Kristus” adalah predikat-Nya. Tidak ada penambahan atau penghilangan yang menghasilkan perbedaan doktrinal pada ayat ini.

Unsur

Teks Bizantin

LAI-TB

Penilaian terjemahan

Kesimpulan

oun

“Jadi”

Tepat: ayat 36 adalah kesimpulan dari bukti ayat 22-35.

Kepastian

asphalōs ... ginōsketō

“harus tahu dengan pasti”

Tepat dan alami; imperatif orang ketiga diterjemahkan sebagai keharusan.

Audiens

pas oikos Israēl

“seluruh kaum Israel”

Tepat; secara harfiah “seluruh rumah Israel”, yakni umat perjanjian secara kolektif.

Pelaku

ho theos

“Allah”

Tepat; bentuk nominatif menunjukkan subjek.

Tindakan

epoiēsen

“telah membuat ... menjadi”

Secara leksikal mungkin, tetapi dapat disalahpahami secara ontologis. Dalam konteks, “menetapkan/mengukuhkan/menobatkan sebagai” lebih menjelaskan fungsinya.

Penerima tindakan

auton ... touton ton Iēsoun

“Yesus ... itu”

Tepat; teks Yunani sangat deiktis dan menekan kesinambungan: Yesus yang disalibkan adalah Yesus yang dibangkitkan dan ditinggikan.

Dua predikat

kai kyrion kai christon

“Tuhan dan Kristus”

Isi terpelihara. “Baik Tuhan maupun Mesias” akan memperlihatkan konstruksi korelatif dan arti christos dengan lebih transparan.

Tanggung jawab audiens

hon hymeis estaurōsate

“yang kamu salibkan”

Tepat; kata ganti hymeis bersifat eksplisit dan menegaskan kontras antara keputusan manusia dan tindakan Allah.

 

Kapitalisasi “Tuhan” dalam bahasa Indonesia membantu pembaca mengenali gelar ilahi. Namun, huruf besar-kecil dalam edisi Yunani modern adalah keputusan editorial; manuskrip majuskul awal tidak menyediakan perbedaan kapitalisasi modern sebagai bukti teologis. Karena itu, bobot gelar kyrios harus ditentukan dari konteks, bukan tipografi.

3. Analisis Etimologi dan Makna Kata Kunci

3.1 Asphalōs — dengan pasti

Kata ἀσφαλῶς adalah adverbia dari ἀσφαλής, yang secara historis berkaitan dengan gagasan “tidak jatuh/tidak tergelincir”, lalu berkembang menjadi “aman, teguh, dapat dipercaya, pasti”. Dalam ayat ini kata tersebut bukan sekadar menyatakan perasaan yakin, melainkan kepastian yang dituntut oleh kesimpulan argumentatif Petrus. Israel harus mengenali keputusan Allah berdasarkan kebangkitan dan Kitab Suci.

3.2 Ginōsketō — hendaklah mengetahui/mengakui

Γινωσκέτω adalah imperatif kini aktif orang ketiga tunggal dari γινώσκω. Subjeknya ialah frasa kolektif “seluruh rumah Israel”. Verba ini berarti mengetahui, mengenali, atau mengakui. Aspek kini menyajikan pengenalan itu sebagai sikap yang harus berlaku, tetapi tidak boleh dibebani secara berlebihan seolah-olah bentuk kini selalu berarti tindakan tanpa akhir. Tekanan utamanya ialah perintah publik: umat harus sampai pada pengakuan yang pasti.

3.3 Kyrios — tuan, penguasa, Tuhan

Κύριος berkaitan dengan ranah kuasa atau otoritas dan dalam pemakaian umum dapat berarti pemilik, tuan, atau penguasa. Dalam Septuaginta, kata ini sangat sering dipakai untuk menyajikan nama ilahi YHWH, sehingga memiliki resonansi teologis yang kuat. Namun, tidak setiap pemakaian kyrios otomatis berarti “YHWH”; konteks harus memutuskan.

Dalam Kisah Para Rasul 2, konteks itu sangat padat. Petrus mengutip Yoel: “barangsiapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Kis. 2:21), kemudian Mazmur 110:1: “Tuhan berkata kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku” (Kis. 2:34-35), lalu menyimpulkan bahwa Yesus adalah kyrios. Mazmur 110 tetap membedakan Allah dari tokoh yang duduk di sebelah kanan-Nya, tetapi tokoh mesianik itu menerima pemerintahan surgawi dan penghormatan yang jauh melampaui penggunaan sopan “tuan”. Karena itu, gelar tersebut bersifat mesianik, kerajaan, dan beresonansi ilahi, tanpa menyamakan pribadi Yesus dengan pribadi Bapa.

3.4 Christos — Yang Diurapi/Mesias

Χριστός berasal dari χρίω, “mengurapi”, dan merupakan padanan Yunani bagi Ibrani מָשִׁיחַ (māšîaḥ), “yang diurapi”. Dalam Kisah Para Rasul 2:36 kata ini masih berfungsi sebagai gelar, bukan sekadar nama keluarga. “Kristus” berarti Mesias yang dijanjikan, khususnya raja keturunan Daud yang ditetapkan Allah. Terjemahan “Mesias” akan lebih langsung bagi pembaca modern, walaupun “Kristus” mempertahankan istilah gerejawi tradisional.

3.5 Theos — Allah

Etimologi θεός tidak pasti, sehingga teologi tidak boleh dibangun dari dugaan akar katanya. Secara morfologis, ὁ θεός dalam ayat 36 adalah nomina nominatif maskulin tunggal dengan artikel dan berfungsi sebagai subjek: Allah-lah yang melakukan tindakan. Kata ini tidak menjadi predikat bagi Yesus pada ayat tersebut. Dengan demikian, Kisah Para Rasul 2:36 tidak berbunyi “Yesus dijadikan theos”.

3.6 Epoiēsen — membuat, menjadikan, menetapkan

Ἐποίησεν berasal dari ποιέω, verba yang memiliki medan makna luas: melakukan, membuat, menyebabkan, menjadikan, menetapkan, mengangkat, atau memperlakukan seseorang sebagai sesuatu. Dalam konstruksi objek plus pelengkap objek, ποιέω dapat berarti “menjadikan/menetapkan seseorang sebagai ...”. Contoh semantis yang berdekatan terdapat ketika orang ditetapkan untuk suatu tugas atau jabatan, bukan diciptakan dari ketiadaan.

Karena itu, kata “membuat” dalam LAI tidak salah, tetapi perlu ditafsirkan. Pilihan yang paling tepat secara kontekstual ialah menetapkan, mengukuhkan, atau menobatkan. Peter Balla mengusulkan nuansa manifestatif—Allah memperlihatkan kepada publik siapa Yesus itu—dan menghubungkannya dengan pembacaan Athanasius. Rumusan “membuat dikenal” menjelaskan akibat teologis ayat, walaupun secara leksikal “menetapkan/mengukuhkan sebagai” lebih dekat dengan struktur kausatifnya. Kedua nuansa bertemu pada gagasan intronisasi: status pemerintahan Yesus dikukuhkan dan dinyatakan melalui kebangkitan serta pemuliaan.

4. Morfologi dan Sintaksis Lengkap

Bentuk Yunani

Lemma dan morfologi

Fungsi serta makna dalam ayat

Ἀσφαλῶς

ἀσφαλῶς; adverbia

“Dengan pasti”; memodifikasi perintah mengetahui.

οὖν

οὖν; partikel inferensial

“Karena itu/jadi”; menandai kesimpulan dari ayat 22-35.

γινωσκέτω

γινώσκω; kini, aktif, imperatif, orang ke-3 tunggal

“Hendaklah mengetahui/mengakui”; verba utama.

πᾶς

πᾶς; adjektiva nominatif maskulin tunggal

“Seluruh”; menerangkan oikos.

οἶκος

οἶκος; nomina nominatif maskulin tunggal

Subjek kolektif: “rumah/kaum”.

Ἰσραήλ

Ἰσραήλ; nama diri tak berdeklinasi

Genitif fungsional: “rumah Israel”.

ὅτι

ὅτι; konjungsi isi

Memperkenalkan apa yang harus diketahui: “bahwa”.

καὶ ... καὶ

καί; konjungsi korelatif

“Baik ... maupun/kedua-duanya”; menggabungkan dua predikat.

κύριον

κύριος; akusatif maskulin tunggal

Predikat akusatif bagi auton: “Tuhan/Penguasa”.

χριστόν

χριστός; adjektiva substantival akusatif maskulin tunggal

Predikat akusatif kedua: “Kristus/Mesias”.

αὐτόν

αὐτός; pronomina akusatif maskulin tunggal

Objek langsung epoiēsen: “Dia”.

ὁ; artikel nominatif maskulin tunggal

Menandai theos sebagai subjek definit.

θεός

θεός; nomina nominatif maskulin tunggal

Subjek epoiēsen: “Allah”.

ἐποίησεν

ποιέω; aoris, aktif, indikatif, orang ke-3 tunggal

“Membuat/menetapkan/mengukuhkan”; tindakan penentu Allah.

τοῦτον

οὗτος; pronomina demonstratif akusatif maskulin tunggal

“Ini”; menunjuk secara tegas kepada Yesus.

τόν

ὁ; artikel akusatif maskulin tunggal

Menyertai nama Yesus dalam aposisi.

Ἰησοῦν

Ἰησοῦς; nama diri akusatif maskulin tunggal

Aposisi yang mengidentifikasi auton: “Yesus”.

ὅν

ὅς; pronomina relatif akusatif maskulin tunggal

Objek estaurōsate: “yang”.

ὑμεῖς

σύ; pronomina nominatif orang ke-2 jamak

Subjek eksplisit dan emfatik: “kamu sendiri”.

ἐσταυρώσατε

σταυρόω; aoris, aktif, indikatif, orang ke-2 jamak

“Kamu menyalibkan”; keputusan manusia yang dikontraskan dengan keputusan Allah.

 

Struktur inti klausa ialah: ὁ θεός (subjek) + ἐποίησεν (verba) + αὐτόν (objek) + κύριον καὶ χριστόν (dua pelengkap/predikat objek). Jadi, tata bahasanya bukan “Allah menjadikan Tuhan menjadi Kristus”, bukan pula “Yesus menjadi Allah”, melainkan “Allah menetapkan Dia sebagai Tuhan dan Mesias.”

Bentuk aoris epoiēsen menggunakan sudut pandang perfektif: tindakan dipandang sebagai satu keseluruhan. Aoris tidak dengan sendirinya berarti bahwa hasilnya baru ada untuk pertama kali secara ontologis atau bahwa setiap aspek status Yesus mulai pada satu detik tertentu. Kontekslah yang mengidentifikasi peristiwa penentunya, yaitu kebangkitan-pemuliaan (Kis. 2:32-35). LAI memakai “telah”, sebuah cara wajar menyampaikan aoris dalam bahasa Indonesia, tetapi “telah” tidak boleh dijadikan argumen bahwa hakikat Yesus berubah dari bukan-ilahi menjadi ilahi.

5. Alur Pidato Petrus: Dari Salib kepada Takhta

Ayat 36 adalah klimaks, bukan pernyataan terisolasi. Alur Kisah Para Rasul 2:22-36 bergerak sebagai berikut:

•    Yesus dari Nazaret telah disahkan Allah melalui perbuatan kuasa, mukjizat, dan tanda selama pelayanan-Nya (ay. 22).

•    Penyerahan dan kematian-Nya berada dalam rencana serta pengetahuan Allah, sekalipun manusia bertanggung jawab atas penyaliban-Nya (ay. 23).

•    Allah membangkitkan Dia karena maut tidak mungkin menguasai-Nya (ay. 24, 32).

•    Mazmur 16 dibaca sebagai nubuat mengenai kebangkitan Sang Mesias, bukan mengenai Daud sendiri (ay. 25-31).

•    Yesus ditinggikan di sebelah kanan Allah dan mencurahkan Roh yang dijanjikan (ay. 33).

•    Mazmur 110 menjelaskan penobatan-Nya di sebelah kanan Allah sampai semua musuh ditaklukkan (ay. 34-35).

•    Karena itu, Israel harus mengakui Yesus yang disalibkan sebagai Tuhan dan Mesias (ay. 36).

Kontras retorisnya tajam: “kamu menyalibkan”, tetapi “Allah membangkitkan dan mengukuhkan.” Salib adalah keputusan penolakan manusia; kebangkitan dan pemuliaan adalah putusan pembenaran Allah. Demonstratif “Yesus ini” menjaga kesinambungan pribadi: bukan figur surgawi lain, melainkan Yesus yang sama yang ditolak kini memerintah.

Mazmur 16 bahkan disebut sebagai nubuat mengenai “kebangkitan Kristus” pada ayat 31. Secara naratif, orang yang mati dan dibangkitkan itu sudah diidentifikasi sebagai Kristus; ayat 36 karena itu tidak harus berarti Ia baru pertama kali menjadi Mesias setelah bangkit. Demikian pula, pelayanan-Nya telah disahkan Allah sebelum salib (ay. 22) dan kematian-Nya terjadi menurut rencana Allah (ay. 23). Ini melemahkan pembacaan adopsionistik yang membayangkan seorang manusia biasa baru dipilih secara mendadak sesudah kematian.

6. Yoel, Mazmur 16, dan Mazmur 110

Pembacaan Petrus bersifat intertekstual. Kutipan Yoel mengenai pencurahan Roh dan seruan kepada “nama Tuhan” membentuk bingkai keselamatan eskatologis. Penelitian C. M. Blumhofer menunjukkan bahwa pengolahan teks Yoel dalam Kisah Para Rasul 2 berkaitan dengan visi pemulihan eskatologis Israel. Dalam alur pidato, Yesus yang ditinggikan mencurahkan Roh dan kemudian disebut Tuhan; narasi dengan demikian mengarahkan pembaca untuk melihat keselamatan “dalam nama Tuhan” berpusat pada Yesus, meskipun Allah Bapa tetap dibedakan sebagai sumber tindakan.

Mazmur 16 berfungsi sebagai bukti kebangkitan. Mazmur 110 berfungsi sebagai teks intronisasi: Allah mengundang “Tuanku” duduk di sebelah kanan-Nya. Duduk di sebelah kanan tidak berarti Yesus baru mulai ada atau baru memperoleh hakikat ilahi; itu adalah metafora kerajaan untuk otoritas, kemenangan, dan pemerintahan. Penelitian tentang pemuliaan dalam Kisah Para Rasul juga menunjukkan bahwa Lukas mengaitkan berkat keselamatan dengan karya Yesus yang telah ditinggikan, bukan karena kematian diabaikan, melainkan karena kebangkitan dan akses ke hadirat Allah menyelesaikan serta menyatakan keberhasilan karya-Nya.

7. Apakah Yesus Baru Menjadi Tuhan Setelah Menyelesaikan Tugas-Nya?

Jawabannya harus dibedakan menurut makna “menjadi”.

7.1 Tidak, jika yang dimaksud ialah hakikat ilahi atau identitas terdalam

Lukas telah memakai gelar kyrios bagi Yesus sebelum salib. Elisabet menyebut Maria “ibu Tuhanku” ketika Yesus masih dalam kandungan (Luk. 1:43). Malaikat menyatakan pada kelahiran-Nya bahwa telah lahir “Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Luk. 2:11). Petrus mengakui Dia sebagai “Kristus dari Allah” jauh sebelum penyaliban (Luk. 9:20). Yesus juga memakai Mazmur 110 untuk menanyakan bagaimana Mesias yang adalah anak Daud dapat disebut Daud “Tuhan” (Luk. 20:41-44).

Karena itu, Lukas tidak membangun cerita tentang manusia biasa yang baru memperoleh gelar Tuhan setelah berhasil menjalankan misi. C. Kavin Rowe, Jason Staples, dan Matjaž Celarc, dengan penekanan yang berbeda, menunjukkan bahwa pemakaian kyrios dalam Lukas mengikat identitas Yesus dengan pemerintahan Allah Israel dan membangun kristologi naratif yang tinggi sebelum peristiwa Paskah.

7.2 Ya, jika yang dimaksud ialah fase baru pemerintahan mesianik-Nya

Kebangkitan-pemuliaan benar-benar menghasilkan keadaan historis baru. Yesus yang telah merendahkan diri, menderita, dan disalibkan kini menjalankan pemerintahan sebagai Mesias yang bangkit; Ia duduk di sebelah kanan Allah, mencurahkan Roh, menjadi pusat seruan keselamatan, dan memimpin misi kepada bangsa-bangsa. Dengan kata lain, Ia tidak menjadi Tuhan dari keadaan “bukan Tuhan”, tetapi dikukuhkan sebagai Tuhan dalam modus pemerintahan Paskah—Tuhan yang disalibkan, bangkit, ditinggikan, dan kini memerintah.

Analogi penobatan menolong bila dipakai secara terbatas. Seorang raja dapat sudah menjadi pewaris yang sah dan dikenali identitas kerajaannya sebelum upacara, lalu pada penobatan menerima pelaksanaan publik jabatan itu. Kebangkitan bukan sekadar seremoni simbolis; ia merupakan kemenangan riil atas maut dan awal zaman eskatologis. Namun, analogi ini menjelaskan mengapa tindakan baru tidak harus berarti hakikat pribadi baru.

7.3 Rumusan teologis yang paling tepat

Secara ontologis, Sang Anak tidak diciptakan menjadi ilahi setelah ketaatan-Nya. Secara ekonomis dan mesianik, Yesus yang berinkarnasi masuk ke tahap baru pemerintahan setelah menyelesaikan karya penderitaan, kematian, dan kebangkitan. Maka frasa “Allah membuat-Nya menjadi Tuhan dan Kristus” menunjuk pengangkatan, intronisasi, vindikasi, dan manifestasi, bukan deifikasi.

8. Apakah Yesus Baru Disebut Theos Setelah Mati dan Bangkit?

Pertama-tama, Kisah Para Rasul 2:36 tidak menyebut Yesus theos. Frasa ὁ θεός adalah subjek dan dalam konteks menunjuk kepada Allah/Bapa; Yesus adalah objek yang diberi predikat kyrios dan christos. Karena itu, pertanyaan tentang “kapan Yesus disebut theos” tidak dapat dijawab hanya dari ayat ini.

Dalam korpus Lukas-Kisah Para Rasul, gelar utama untuk mengartikulasikan kemuliaan Yesus ialah kyrios, disertai fungsi-fungsi seperti mencurahkan Roh, memberi keselamatan, menerima seruan, mengampuni, memerintah, dan menghakimi. Lukas tidak memakai kosakata filosofis Nicea dan tidak sering memberi predikat theos secara langsung kepada Yesus; Kisah Para Rasul 20:28 sendiri memiliki persoalan teks dan sintaksis sehingga tidak bijaksana dijadikan satu-satunya dasar. Namun, ketiadaan predikat eksplisit yang sering bukan berarti ketiadaan kristologi ilahi. Narasi dapat menyatakan identitas melalui tindakan, prerogatif, nama, penghormatan, dan hubungan dengan teks-teks YHWH.

Dalam cakupan kanonik Perjanjian Baru, jawabannya tegas: tidak, Yesus tidak baru menjadi atau baru pertama kali dikenali sebagai ilahi setelah kebangkitan. Yohanes 1:1 menyatakan bahwa Sang Firman “adalah theos” pada awal narasi, sebelum inkarnasi (Yoh. 1:14). Sesudah kebangkitan, Tomas menyapa Yesus, “Tuhanku dan Allahku” (ho kyrios mou kai ho theos mou, Yoh. 20:28). Pengakuan Tomas merupakan klimaks pengenalan terhadap Dia yang sejak prolog telah diidentifikasi, bukan laporan bahwa kebangkitan mengubah makhluk non-ilahi menjadi Allah.

Perlu dibedakan antara urutan pewahyuan dan awal keberadaan ontologis. Seorang tokoh dapat dikenali secara penuh pada akhir cerita tanpa baru mulai menjadi dirinya pada saat pengenalan itu. Yohanes 20:28 adalah pengenalan Paskah; Yohanes 1:1 adalah kerangka ontologis prolog. Lukas mengekspresikan pola serupa dengan perangkat naratif berbeda: identitas sebagai Tuhan telah ditandai sejak kisah kelahiran, sedangkan kebangkitan memperlihatkan dan mengaktifkan pemerintahan-Nya secara eskatologis.

9. Apakah Kisah Para Rasul 2:36 Mengajarkan Adopsionisme?

Sebagian peneliti historis pernah membaca formula ini sebagai sisa kristologi pemuliaan yang lebih awal: Yesus dianggap baru menjadi Mesias atau Tuhan pada kebangkitan. Pembacaan itu menangkap satu unsur yang benar—ayat ini sungguh menekankan perubahan status historis melalui pemuliaan—tetapi menjadi berlebihan bila menyimpulkan perubahan hakikat atau adopsi seorang manusia yang sebelumnya tidak memiliki identitas mesianik.

Peter Balla menilai konteks pidato lebih sesuai dengan intronisasi dan demonstrasi publik daripada adopsionisme. Bukti internalnya mencakup pengesahan pelayanan Yesus sebelum kematian, rencana Allah yang mendahului salib, penyebutan “kebangkitan Kristus” sebelum kesimpulan ayat 36, serta penggunaan Mazmur kerajaan. Celarc memperluas argumen itu secara naratif: Lukas telah menggunakan “Tuhan”, “Juruselamat”, dan “Yang Kudus” bagi Yesus dalam kisah awal, lalu memperlihatkan bagaimana kebangkitan mengantar-Nya ke pemerintahan universal.

Kesimpulan yang paling seimbang ialah:

•    Grammar alone: tata bahasa menyatakan tindakan Allah yang menghasilkan status/fungsi baru; ia tidak sendirian membuktikan doktrin praeksistensi.

•    Immediate context: status baru itu ialah pemerintahan Paskah di sebelah kanan Allah.

•    Lukan narrative: Yesus sudah dikenali sebagai Tuhan dan Mesias sebelum Paskah, sehingga “baru menjadi Tuhan dari bukan-Tuhan” tidak cocok dengan cerita Lukas.

•    Canonical theology: pemuliaan Sang Anak yang berinkarnasi kompatibel dengan identitas ilahi yang mendahului inkarnasi; pemuliaan tidak sama dengan penciptaan keallahan.

Maka Kisah Para Rasul 2:36 bukan teks adopsionistik dalam pembacaan final Lukas-Kisah Para Rasul, sekalipun bahasa pemuliaannya harus dibiarkan berbicara dengan kekuatan penuh.

10. Makna Teologis dan Pastoral

Pertama, ayat ini menyatakan pembalikan putusan. Dunia menilai Yesus layak disalibkan; Allah menyatakan-Nya layak memerintah. Kebangkitan adalah vindikasi terhadap identitas dan misi-Nya.

Kedua, ayat ini menyatukan salib dan takhta. Tuhan yang diberitakan gereja bukan penguasa yang menghindari penderitaan, melainkan Dia yang pemerintahan-Nya bercorak pengorbanan. Identitas “Yesus yang kamu salibkan” tidak dihapus oleh kemuliaan; justru yang tersalib itulah yang ditinggikan.

Ketiga, gelar Kristus mengikat Injil pada janji Allah kepada Israel. Pidato Petrus bukan pemutusan dari Kitab Suci Israel, melainkan klaim bahwa janji Daud, pencurahan Roh, kebangkitan, dan pemerintahan eskatologis mencapai puncak dalam Yesus.

Keempat, gelar Tuhan menuntut respons. Imperatif “hendaklah mengetahui” berlanjut pada pertanyaan pendengar, pertobatan, baptisan dalam nama Yesus Kristus, dan penerimaan Roh (Kis. 2:37-39). Pengetahuan kristologis dalam Kisah Para Rasul bukan informasi netral, melainkan pengakuan yang mengubah kesetiaan.

Kelima, frasa “yang kamu salibkan” tidak boleh dipakai untuk menuduhkan kesalahan turun-temurun kepada semua orang Yahudi. Secara retoris Petrus berbicara sebagai seorang Yahudi kepada sesama Yahudi dalam kerangka panggilan pertobatan perjanjian; secara historis penyaliban adalah hukuman Romawi. Aplikasi yang sah bersifat teologis-universal: penolakan manusia terhadap Kristus dijawab oleh anugerah dan panggilan pertobatan Allah.

Kesimpulan

LAI-TB menerjemahkan Kisah Para Rasul 2:36 secara wajar, tetapi kata “membuat ... menjadi” perlu dijelaskan agar tidak dibaca sebagai penciptaan hakikat ilahi. Teks Bizantin memperlihatkan struktur yang tegas: ho theos adalah pelaku, auton/touton ton Iēsoun adalah objek yang sama dengan Yesus tersalib, sedangkan kyrion dan christon adalah dua predikat. Epoiēsen paling baik dipahami dalam konteks sebagai menetapkan, mengukuhkan, menobatkan, dan dengan demikian menyatakan secara publik.

Yesus tidak diangkat dari “bukan Tuhan” menjadi “Tuhan” dalam arti ontologis setelah menyelesaikan tugas-Nya. Ia telah disebut Tuhan dan Mesias dalam narasi Lukas sebelum salib. Sesudah kebangkitan, yang terjadi ialah intronisasi dan pelaksanaan baru pemerintahan mesianik-Nya: Sang Tersalib kini duduk di sebelah kanan Allah dan mencurahkan Roh. Kisah Para Rasul 2:36 juga tidak mengatakan bahwa Yesus baru menjadi theos; kata theos dalam ayat ini menunjuk kepada Allah sebagai subjek. Secara kanonik, penyebutan Sang Firman sebagai theos sebelum inkarnasi dan pengakuan Tomas sesudah kebangkitan menunjukkan bahwa Paskah menyatakan serta meneguhkan identitas Yesus, bukan menciptakan keallahan-Nya.


 

Daftar Pustaka

Balla, Peter. 1996. “Does Acts 2:36 Represent an Adoptionist Christology?” European Journal of Theology 5(2): 137-142. Teks lengkap

Blumhofer, C. M. 2016. “Luke’s Alteration of Joel 3.1-5 in Acts 2.17-21.” New Testament Studies 62(4): 499-516. DOI

Celarc, Matjaž. 2025. “Jesus Christ as the Lord in Luke-Acts: A Case Study in Early Christology.” Studia Nauk Teologicznych 20: 119-144. DOI

Culy, Martin M., dan Mikeal C. Parsons. 2003. Acts: A Handbook on the Greek Text. Waco, TX: Baylor University Press.

Danker, Frederick W., Walter Bauer, William F. Arndt, dan F. Wilbur Gingrich. 2000. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature. Edisi ke-3. Chicago: University of Chicago Press.

Kilgallen, John J. 2001. “The Use of Psalm 16:8-11 in Peter’s Pentecost Speech.” The Expository Times 113(2): 47-50. DOI

Moffitt, David M. 2016. “Atonement at the Right Hand: The Sacrificial Significance of Jesus’ Exaltation in Acts.” New Testament Studies62(4): 549-568. DOI

Nestle, Eberhard, Erwin Nestle, Barbara Aland, dan Kurt Aland, ed. 2012. Novum Testamentum Graece. Edisi ke-28. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft.

Novenson, Matthew V. 2010. “Can the Messiahship of Jesus Be Read off Paul’s Grammar? Nils Dahl’s Criteria 50 Years Later.” New Testament Studies 56(3): 396-412. DOI

Robinson, Maurice A., dan William G. Pierpont, ed. 2018. The New Testament in the Original Greek: Byzantine Textform. Repositori teks

Rowe, C. Kavin. 2006. Early Narrative Christology: The Lord in the Gospel of Luke. BZNW 139. Berlin: De Gruyter. Pratinjau buku

Staples, Jason A. 2018. “‘Lord, Lord’: Jesus as YHWH in Matthew and Luke.” New Testament Studies 64(1): 1-19. DOI

Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru, Kisah Para Rasul 2:36. Teks daring

Catatan Metodologis

Penelitian dihentikan setelah teks Yunani Bizantin dan kritis terverifikasi, makna morfologis-sintaktis terpetakan, perbedaan tafsir adopsionistik dan intronisasi terwakili, serta klaim kristologis utama diperiksa terhadap konteks Lukas-Kisah Para Rasul dan studi jurnal. Perselisihan yang tersisa bukan mengenai bentuk dasar ayat, melainkan mengenai seberapa jauh gelar kyrios memasukkan Yesus ke dalam identitas ilahi; artikel ini mempertahankan perbedaan pribadi antara Bapa dan Anak sekaligus mengakui kristologi naratif yang tinggi.

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Monotheisme Yesus

Ringkasan Eksekutif Yesus Kristus secara eksplisit menegaskan keesaan Allah yang tunggal. Contohnya, Yesus mengutip Syahadat “Dengarlah, hai Israel: TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4) dal

 
 
 

Komentar


bottom of page