top of page

Yesus dan Allah Yang Esa.


 


Menelusuri Kedudukan Kristus dalam Bingkai Monoteisme Sebuah kajian teologis, biblis, dan akademis untuk pembaca yang ingin memahami perdebatan ini secara jernih

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

Mengapa Pertanyaan Ini Penting


Bagi banyak orang Kristen, pertanyaan “siapa Yesus dalam kaitannya dengan Allah Yang Esa?” terasa sudah selesai dijawab sejak Konsili Nicea (325 M) dan Konstantinopel (381 M). Namun di ruang akademis Perjanjian Baru dan kajian Yahudi Bait Kedua (Second Temple Judaism), pertanyaan ini tetap hidup dan diperdebatkan secara serius — bukan oleh kelompok pinggiran, tetapi oleh para sarjana di jurnal-jurnal bereputasi seperti Journal for the Study of the New Testament, Journal of Theological Studies, dan Scottish Journal of Theology.

Artikel ini menelusuri satu jalur pemikiran akademis dan biblis yang menempatkan Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang diutus, dipermuliakan, dan diberi otoritas oleh Allah Bapa — tanpa menjadikan Yesus sendiri sebagai pribadi kedua dari satu hakikat ilahi yang setara secara ontologis dengan Bapa. Pendekatan ini sering disebut Kristologi Unitarian Alkitabiah (Biblical Unitarian Christology) atau monoteisme ketat berpusat-Bapa (strict Father-centered monotheism).

1. Dasar Biblis: “Allah Bapa” Sebagai Pusat Pengakuan Iman

Titik tolak kajian ini adalah bagaimana penulis Perjanjian Baru sendiri merumuskan pengakuan monoteistik mereka. Tiga teks sering menjadi jangkar:

•      1 Korintus 8:6 — “bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa... dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus.” Paulus tampak membedakan secara fungsional antara “satu Allah” (Bapa) dan “satu Tuhan” (Yesus), sebuah pola yang oleh sejumlah sarjana dibaca sebagai penegasan bahwa Bapa tetap menjadi identitas tunggal Allah Israel, sementara Yesus menempati posisi sebagai Tuhan yang diutus dan dipermuliakan-Nya.

•      Yohanes 17:3 — Yesus sendiri, dalam doa-Nya, menyebut Bapa sebagai “satu-satunya Allah yang benar,” dan menempatkan diri-Nya sebagai utusan-Nya.

•      1 Timotius 2:5 — “Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” — sebuah rumusan yang membedakan secara jelas antara Allah dan manusia Kristus Yesus sebagai pengantara.

Dari sisi biblis, pola konsisten yang ditemukan adalah Yesus berdoa kepada Bapa, tunduk kepada Bapa (Yohanes 14:28: “Bapa lebih besar dari pada Aku”), dan menerima otoritas, kemuliaan, serta kuasa penghakiman dari Bapa (Matius 28:18; Filipi 2:9-11). Struktur relasional ini — pengutus dan yang diutus, pemberi dan penerima otoritas — menjadi dasar argumen bahwa Kristologi Perjanjian Baru bersifat subordinasionis secara fungsional, tanpa harus berarti Yesus tidak memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

2. Dasar Teologis: Monoteisme Israel yang Diwarisi, Bukan Diubah

Secara teologis, argumen ini bertumpu pada satu premis penting: gereja mula-mula adalah komunitas Yahudi yang mewarisi Shema — “Dengarlah, hai Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4). Pertanyaannya adalah: apakah pengalaman iman terhadap Yesus mengubah struktur monoteisme itu, atau justru dijalankan di dalam struktur yang sama?

Sarjana seperti James F. McGrath, dalam bukunya The Only True God: Early Christian Monotheism in Its Jewish Context (University of Illinois Press, 2009), berargumen bahwa banyak teks Perjanjian Baru paling awal sesungguhnya konsisten dengan tradisi Yahudi tentang figur perantara ilahi (divine agency) — tokoh seperti Musa, Malaikat TUHAN, atau Kebijaksanaan (Wisdom/Sophia) yang bertindak dengan otoritas Allah tanpa dianggap setara hakikat dengan Allah sendiri. Dalam kerangka ini, Yesus dipahami sebagai agen tertinggi Allah — dipermuliakan, diberi nama di atas segala nama — tetapi tetap berada dalam relasi subordinat terhadap Bapa yang mengutus-Nya.

Filsuf-teolog Dale Tuggy (dikenal lewat artikelnya tentang Trinitas di Stanford Encyclopedia of Philosophy dan karyanya Monotheism, Heresy, and the Bible: Essays on Biblical Unitarianism) menggunakan alat analisis filsafat logika untuk menunjukkan bahwa jika “Allah” dalam Perjanjian Baru secara konsisten merujuk pada Bapa saja, maka menyamakan Yesus secara ontologis dengan Allah memerlukan lompatan metafisik yang tidak eksplisit dinyatakan oleh penulis-penulis Alkitab sendiri.

Sejarawan Perjanjian Baru Maurice Casey, dalam From Jewish Prophet to Gentile God: The Origins and Development of New Testament Christology (James Clarke & Co., 1991), memetakan bagaimana pemahaman tentang Yesus berkembang secara bertahap dari figur nabi Yahudi menuju gelar-gelar keilahian yang lebih tinggi seiring komunitas Kristen bergeser ke lingkungan budaya Yunani-Romawi — sebuah proses perkembangan doktrin, bukan penyataan yang sudah utuh sejak awal.

3. Dasar Akademis: Perdebatan yang Masih Berlangsung

Penting dicatat secara jujur: ini adalah wilayah yang diperdebatkan, bukan konsensus tunggal. Arus utama kajian Kristologi awal — dipelopori nama-nama seperti Larry Hurtado (One God, One Lord: Early Christian Devotion and Ancient Jewish Monotheism, 1988; Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity, 2003), Richard Bauckham (God Crucified: Monotheism and Christology in the New Testament, 1998), dan James D.G. Dunn(Christology in the Making, 1980) — justru berargumen bahwa penyembahan kepada Yesus muncul sangat dini dalam sejarah gereja dan menunjukkan bahwa Yesus dimasukkan ke dalam “identitas ilahi” Allah Israel tanpa merusak monoteisme Yahudi.

Namun di sisi lain, sarjana seperti Peter Hayman dalam artikelnya “Monotheism—A Misused Word in Jewish Studies?” (Journal of Jewish Studies, 1991) dan Margaret Barker mempertanyakan apakah kategori “monoteisme ketat” itu sendiri secara historis akurat untuk menggambarkan Yudaisme Bait Kedua — sebuah pertanyaan metodologis yang berdampak langsung pada bagaimana kita menafsirkan kedudukan Yesus.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa pertanyaan “apakah Kristologi Perjanjian Baru bersifat unitarian atau trinitarian” bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab semata dengan mengutip satu ayat, melainkan memerlukan penelusuran metodologis yang cermat atas bahasa, konteks budaya Yahudi Bait Kedua, dan pola penyembahan gereja mula-mula.

4. Menariknya ke Ranah Praktis: Apa Artinya Bagi Iman Sehari-hari?

Terlepas dari posisi mana yang diambil seseorang, ada beberapa pelajaran rohani praktis yang bisa ditarik dari kajian ini:

•      Doa dan penyembahan tetap berpusat pada Bapa melalui Yesus. Pola doa Yesus sendiri (“Bapa kami yang di surga...”) mengajarkan jemaat untuk mengarahkan penyembahan kepada Bapa, sambil mengakui Yesus sebagai jalan dan pengantara yang melaluinya doa itu disampaikan (Yohanes 14:6; 1 Timotius 2:5).

•      Kerendahan hati Kristus menjadi teladan relasional. Filipi 2:5-11 — sering dikutip dalam kedua kubu teologis — menunjukkan Yesus yang taat, merendahkan diri, dan menerima kemuliaan dari Bapa. Terlepas dari perdebatan ontologis, pola ketaatan dan kerendahan hati ini tetap menjadi teladan etis yang universal bagi pembaca.

•      Kehati-hatian dalam berteologi. Sejarah menunjukkan bahwa perumusan doktrin tentang pribadi Kristus memakan waktu berabad-abad dan melibatkan perdebatan yang intens di kalangan orang percaya yang serius mempelajari Kitab Suci. Ini mengajak pembaca majalah rohani untuk mendekati topik ini dengan kerendahan hati intelektual, bukan dogmatisme yang menutup diskusi.

Penutup: Satu Pertanyaan, Banyak Jalur Penelitian yang Sah

Kajian tentang kedudukan Kristus dalam monoteisme tetap menjadi salah satu bidang paling produktif dalam studi Perjanjian Baru kontemporer. Jalur yang ditempuh di atas — berpusat pada keesaan Bapa dan kedudukan Yesus sebagai Anak yang diutus dan dipermuliakan — memiliki dukungan biblis dan akademis yang serius, sebagaimana ditunjukkan oleh karya McGrath, Tuggy, dan Casey. Pada saat yang sama, pembaca perlu mengetahui bahwa mayoritas sarjana Kristologi awal (Hurtado, Bauckham, Dunn) menempuh jalur berbeda yang menyimpulkan Yesus dimasukkan sangat dini ke dalam identitas ilahi Allah Israel tanpa merusak monoteisme.

Tujuan akhirnya bukan memaksakan satu kesimpulan, melainkan mengundang pembaca untuk kembali membaca Kitab Suci dengan cermat, mengenal sejarah perdebatan ini secara jujur, dan bertumbuh dalam kerinduan mengenal Allah — Bapa dan Yesus Kristus yang diutus-Nya — secara lebih dalam.

 

Daftar Pustaka Terpilih

1. McGrath, James F. The Only True God: Early Christian Monotheism in Its Jewish Context. Urbana: University of Illinois Press, 2009.

2. Tuggy, Dale. Monotheism, Heresy, and the Bible: Essays on Biblical Unitarianism. Theophilus Press, 2023.

3. Casey, Maurice. From Jewish Prophet to Gentile God: The Origins and Development of New Testament Christology. Cambridge: James Clarke & Co., 1991.

4. Hurtado, Larry W. One God, One Lord: Early Christian Devotion and Ancient Jewish Monotheism. Edinburgh: T&T Clark, 1998.

5. Bauckham, Richard. God Crucified: Monotheism and Christology in the New Testament. Grand Rapids: Eerdmans, 1998.

6. Dunn, James D.G. Christology in the Making. London: SCM Press, 1980.

7. Hayman, Peter. “Monotheism—A Misused Word in Jewish Studies?” Journal of Jewish Studies 42 (1991): 1–15.

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Monotheisme Yesus

Ringkasan Eksekutif Yesus Kristus secara eksplisit menegaskan keesaan Allah yang tunggal. Contohnya, Yesus mengutip Syahadat “Dengarlah, hai Israel: TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4) dal

 
 
 

Komentar


bottom of page