MONOTEISME PAULUS
- tbsarono
- 2 hari yang lalu
- 16 menit membaca
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono
1 Korintus 8:4-6
“Satu Allah, yaitu Bapa, dari-Nya Segala Sesuatu; dan Satu Tuhan, Yesus Kristus, melalui-Nya Segala Sesuatu”

Abstrak
1 Korintus 8:4–6 merupakan salah satu formulasi monoteisme paling padat dalam
surat-surat Paulus. Di tengah lingkungan religius Korintus yang mengenal banyak theoi (“allah-allah”) dan banyak kyrioi (“tuan-tuan”), Paulus menegaskan dua proposisi yang tidak boleh dipisahkan dari konteksnya: “tidak ada Allah selain satu” dan “bagi kita hanya ada satu Allah, Bapa … dan satu Tuhan, Yesus Kristus.” Artikel ini berargumen bahwa struktur pemikiran Paulus tidak membentuk dua pusat ketuhanan yang saling bersaing. Sebaliknya, ia membangun sebuah monoteisme yang dapat disebut struktur sumber–mediasi–telos: segala sesuatu berasal dari satu Allah, yaitu Bapa (ex hou ta panta); segala sesuatu berlangsung melalui satu Tuhan, Yesus Kristus (di’ hou ta panta); dan keberadaan umat diarahkan kepada Allah (hēmeis eis auton).
Pembacaan ini diperoleh melalui analisis historis, leksikal, sintaktis, intertekstual, kanonik-Pauline, serta konteks argumentasi 1 Korintus 8–10. Artikel ini juga mempertimbangkan diskusi mutakhir mengenai apakah 1 Korintus 8:6 secara sengaja menggemakan Shema dalam Ulangan 6:4. Kesimpulan artikel ini adalah bahwa hubungan dengan Shema sangat mungkin dan secara teologis signifikan, tetapi tidak perlu dijadikan satu-satunya dasar penafsiran. Bahkan tanpa menjadikannya kutipan formal Shema, 1 Korintus 8:4–6 secara eksplisit mempertahankan keesaan Allah Israel, mengidentifikasi Bapa sebagai “satu Allah”, dan menempatkan Yesus Kristus sebagai “satu Tuhan” yang melalui-Nya segala sesuatu ada dan melalui-Nya komunitas orang percaya memperoleh keberadaannya.
Kata kunci: Paulus, monoteisme, 1 Korintus 8:6, satu Allah, Bapa, satu Tuhan, Yesus Kristus, Shema, Kyrios, penciptaan, berhala.
I. Pendahuluan: persoalan sebenarnya dalam 1 Korintus 8:6
Kesalahan terbesar dalam menafsirkan 1 Korintus 8:6 adalah membacanya sebagai definisi abstrak mengenai Allah yang berdiri sendiri. Paulus tidak sedang duduk sebagai filsuf yang menyusun traktat ontologi. Ia sedang menjawab persoalan konkret: apakah orang percaya boleh memakan makanan yang sebelumnya dipersembahkan kepada berhala.
Karena itu alur 1 Korintus 8 harus dipertahankan:
“pengetahuan” terdapat pada ayat 1–3; berhala dan keesaan Allah pada ayat 4–6; hati nurani pada ayat 7–10; kasih kepada saudara pada ayat 11–13.
Dengan demikian, monoteisme Paulus bukan sekadar jawaban terhadap pertanyaan “berapa jumlah Allah?” Monoteisme itu menentukan siapa yang disembah, dari siapa kehidupan berasal, kepada siapa hidup diarahkan, melalui siapa keberadaan umat dimungkinkan, dan bagaimana kebebasan orang percaya harus digunakan.
Kajian mutakhir memperkuat pentingnya membaca 1 Korintus 8 dalam konteks argumentasi surat secara keseluruhan. Michael J. Gorman dalam komentarnya tahun 2025 memperlakukan 1 Korintus sebagai surat yang serentak teologis, pastoral, dan misioner, sehingga proposisi tentang Allah tidak dilepaskan dari pembentukan kehidupan jemaat. Eric C. Redmond juga menempatkan 8:1–13 di dalam persoalan “knowledge and eating liberties”: pengetahuan yang benar tentang Allah dan berhala tidak boleh menghasilkan kesombongan, tetapi harus dikendalikan oleh kasih. (Google Books)
Karena itu tesis utama artikel ini ialah:
Monoteisme Paulus dalam 1 Korintus 8:4–6 adalah pengakuan bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang merupakan sumber segala sesuatu dan tujuan keberadaan manusia; sedangkan Yesus Kristus adalah satu Tuhan yang melalui-Nya segala sesuatu ada dan melalui-Nya umat memperoleh kehidupannya. Struktur ini sekaligus bersifat kosmologis, soteriologis, relasional, kultis, dan etis.
II. Teks Yunani dan struktur sintaktis
Teks Yunani 1 Korintus 8:6 berbunyi:
all’ hēmin heis theos ho patēr, ex hou ta panta kai hēmeis eis auton, kai heis kyrios Iēsous Christos, di’ hou ta panta kai hēmeis di’ autou.
Secara harfiah:
“Namun bagi kita: satu Allah, Bapa, dari siapa segala sesuatu, dan kita kepada-Nya; dan satu Tuhan, Yesus Kristus, melalui siapa segala sesuatu, dan kita melalui Dia.”
Teks Yunani tersebut secara tekstual stabil dalam tradisi utama Perjanjian Baru. Struktur paralelnya juga sangat jelas. (Greek Bible)
Perhatikan arsitektur kalimat Paulus:
Struktur | Bapa | Yesus Kristus |
Bilangan | heis — satu | heis — satu |
Gelar | theos — Allah | kyrios — Tuhan |
Identifikasi | ho patēr — Bapa | Iēsous Christos |
Relasi terhadap ta panta | ex hou — dari-Nya | di’ hou — melalui-Nya |
Relasi dengan umat | eis auton — kepada/untuk Dia | di’ autou — melalui Dia |
Kesejajaran ini sangat penting. Paulus tidak menulis dua kalimat yang tidak berhubungan. Ia menyusun satu pengakuan dengan dua bagian yang secara retoris berpasangan.
1. Heis theos ho patēr
Frasa heis theos ho patēr paling wajar berarti:
“satu Allah, yaitu Bapa.”
Ho patēr mengidentifikasi siapakah “satu Allah” yang sedang dimaksud Paulus.
Paulus bukan hanya berkata bahwa Allah “bersifat kebapaan”. Ia memberikan identifikasi. Dalam struktur ini, “Bapa” bukan salah satu dari banyak allah. Bapa adalah referen dari heis theos.
Pernyataan tersebut sesuai dengan ayat sebelumnya:
oudeis theos ei mē heis“tidak ada Allah selain satu” (8:4).
Maka 8:6 menjawab pertanyaan yang secara implisit muncul dari 8:4:
Siapakah Allah yang satu itu?
Jawaban Paulus:
Bapa.
Inilah titik pertama yang tidak boleh dikaburkan oleh sistem teologi apa pun yang dibawa dari luar teks.
III. “Tidak ada Allah selain satu”: dasar absolut monoteisme Paulus
Ayat 4 mendahului ayat 6:
“Kita tahu bahwa berhala tidak mempunyai keberadaan sebagai allah di dalam dunia dan bahwa tidak ada Allah selain satu.”
Kalimat ini berfungsi sebagai kontrol hermeneutik terhadap seluruh ayat 5–6.
Dengan kata lain, pembacaan terhadap “satu Tuhan, Yesus Kristus” tidak boleh menghasilkan kesimpulan bahwa Paulus kini mengajarkan dua allah. Jika interpretasi kita terhadap ayat 6 menghasilkan dua Allah yang sejajar, interpretasi itu telah bertabrakan dengan proposisi Paulus sendiri dalam ayat 4.
Urutannya ialah:
ayat 4: Allah hanya satu.
ayat 5: masyarakat mengenal banyak yang disebut “allah” dan “tuan”.
ayat 6: bagi kita satu Allah adalah Bapa dan satu Tuhan adalah Yesus Kristus.
Ini merupakan struktur polemis terhadap politeisme.
Paula Fredriksen mengingatkan bahwa istilah modern “monoteisme” harus digunakan dengan hati-hati ketika menggambarkan dunia religius kuno. Orang Yahudi dapat mengakui keberadaan berbagai makhluk surgawi atau kekuatan spiritual tanpa menganggap semuanya sebagai Allah Israel atau memberikan kepada semuanya loyalitas penyembahan yang sama. Karena itu monoteisme kuno tidak seharusnya direduksi menjadi klaim bahwa masyarakat kuno menganggap tidak ada makhluk supernatural lain sama sekali. Yang paling menentukan adalah keunikan Allah Israel dan loyalitas penyembahan kepada-Nya. (Cambridge University Press)
Pertimbangan ini justru membantu memahami Paulus. Ia dapat mengatakan:
“ada yang disebut allah dan tuan”,
namun sekaligus:
“tidak ada Allah selain satu.”
Tidak ada kontradiksi. Ayat 5 berbicara tentang dunia klaim religius; ayat 4 dan 6 berbicara tentang realitas teologis yang diakui Paulus.
IV. “Bagi kita” tidak berarti kebenaran relatif
Frasa penting berikutnya adalah:
all’ hēmin“tetapi bagi kita”.
Apakah artinya: orang Kristen mempunyai satu Allah, sementara kelompok lain mempunyai allah-allah mereka sendiri yang sama-sama benar?
Tidak.
Ayat 4 telah menutup kemungkinan tersebut dengan pernyataan universal:
“tidak ada Allah selain satu.”
Karena itu hēmin, “bagi kita”, merupakan bahasa identitas dan loyalitas komunitas, bukan relativisme ontologis.
Paulus sedang berkata:
dunia memberikan loyalitas kepada banyak kekuatan;
komunitas kita mengenal siapa yang benar-benar Allah dan kepada siapa hidup kita diarahkan.
Inilah monoteisme sebagai identitas perjanjian dan loyalitas.
Dengan demikian, pernyataan “bagi kita” dapat dipahami seperti deklarasi kewargaan teologis:
inilah realitas yang menentukan keberadaan kami.
V. Bapa sebagai sumber: ex hou ta panta
Bagian selanjutnya sangat menentukan:
ex hou ta panta“dari-Nya segala sesuatu.”
Preposisi ek/ex dengan genitif pada dasarnya menunjuk asal, sumber, atau titik dari mana sesuatu berasal.
Karena itu Bapa digambarkan sebagai:
asal fundamental segala sesuatu.
Bukan hanya asal jemaat.
Bukan hanya asal keselamatan.
Tidak ada pembatas eksplisit setelah ta panta.
Ta panta secara normal berarti “segala sesuatu”, “semuanya”, atau dalam konteks kosmologis “seluruh ciptaan”.
Konteks ayat 5 bahkan menyebut:
“di surga atau di bumi.”
Karena itu horizon pembicaraan Paulus sudah bersifat kosmik.
Maka terjemahan yang paling kuat ialah:
satu Allah, Bapa, dari siapa seluruh realitas ciptaan berasal.
Konsep ini sejalan dengan penggunaan Paulus di tempat lain. Roma 11:36 menyatakan:
“dari Dia, melalui Dia dan kepada Dia segala sesuatu.”
Sementara 1 Korintus 11:12 kembali mengatakan bahwa “segala sesuatu berasal dari Allah.”
Jadi dalam teologi Paulus, Allah bukan satu keberadaan di antara banyak keberadaan. Ia adalah sumber universal.
VI. Bapa sebagai tujuan: hēmeis eis auton
Kemudian Paulus mengatakan:
kai hēmeis eis auton.
Terjemahan lama kadang-kadang menghasilkan kesan “kita di dalam Dia”. Namun eis tidak identik dengan en.
Eis memiliki gerak atau orientasi:
“kepada”, “menuju”, “untuk”.
Karena itu gagasan yang lebih tepat ialah:
“dan kita untuk Dia”atau“dan keberadaan kita diarahkan kepada-Nya.”
Bapa bukan hanya archē, sumber.
Ia juga telos, tujuan.
Dengan demikian kehidupan mempunyai struktur:
dari Allah → kembali kepada Allah sebagai tujuan.
Paulus menghasilkan monoteisme yang bersifat teleologis.
Pertanyaan teologisnya bukan hanya:
“Siapa yang menciptakan saya?”
tetapi juga:
“Untuk siapa saya hidup?”
Jawaban 1 Korintus 8:6:
untuk Bapa.
Ini menjelaskan mengapa penyembahan berhala merupakan kesalahan fundamental. Penyembahan berhala bukan hanya kesalahan memilih objek ritual. Ia mengalihkan arah keberadaan manusia dari tujuan sejatinya.
Manusia berasal dari Allah dan seharusnya hidup menuju Allah.
VII. Satu Tuhan: heis kyrios Iēsous Christos
Setelah mengidentifikasi “satu Allah” sebagai Bapa, Paulus melanjutkan:
kai heis kyrios Iēsous Christos.
“dan satu Tuhan, Yesus Kristus.”
Kata kyrios mempunyai rentang semantik luas. Dalam bahasa Yunani umum, kata tersebut dapat berarti tuan, pemilik, penguasa, atau orang yang mempunyai otoritas. Tetapi dalam Septuaginta, Kyrios juga sangat sering digunakan untuk menerjemahkan nama Allah Israel.
Karena itu penggunaan Kyrios oleh Paulus untuk Yesus tidak boleh direduksi menjadi sapaan sopan seperti “Tuan Yesus”.
Paulus memakai gelar ini secara konfensional:
“Jesus is Lord.”
Roma 10:9:
“mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan.”
Filipi 2:11:
“setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.”
2 Korintus 4:5:
“kami memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan.”
Maka “satu Tuhan” dalam 1 Korintus 8:6 menunjukkan otoritas unik dan universal Yesus Kristus dalam tata iman Paulus.
Namun ada sesuatu yang harus dipertahankan dengan presisi: Paulus tidak menyebut Yesus “Bapa” dalam ayat ini.
Ia mempertahankan identifikasi:
satu Allah — Bapa.
satu Tuhan — Yesus Kristus.
Keduanya tidak dicampurkan secara terminologis.
Justru struktur ini harus diterima sebagaimana Paulus menuliskannya.
VIII. Apakah Paulus sedang menggemakan Shema?
Ulangan 6:4 dalam Septuaginta berbunyi:
Kyrios ho theos hēmōn Kyrios heis estin.
“TUHAN Allah kita, TUHAN itu satu.”
1 Korintus 8:6 menggunakan tiga unsur yang sangat mencolok:
heis — satu,theos — Allah,kyrios — Tuhan.
Karena itu banyak sarjana melihat adanya gema Shema.
Michael F. Bird mempertahankan bahwa pemahaman Yesus dalam tulisan awal orang percaya harus ditempatkan di dalam lingkungan Yahudi dan Yunani-Romawi serta berpendapat bahwa kesaksian awal tentang Yesus memberikan kepada-Nya posisi yang secara radikal melampaui figur perantara biasa. (Baylor University Press)
Emad Atef Ezzat Hanna pada 2023 bahkan menghasilkan satu monograf yang seluruhnya dikhususkan untuk 1 Korintus 8:6, dengan pembahasan konteks, eksegesis, kemungkinan formula pra-Paulus, Shema, dan hubungan ayat tersebut dengan persoalan makanan persembahan berhala. (Google Books)
Namun terdapat suara berbeda. Andrew Perriman, dalam karya 2022 dan pembahasan lanjutan tahun 2025, menilai bahwa hubungan langsung 1 Korintus 8:6 dengan Shema sering dibebani kesimpulan lebih besar daripada yang sanggup ditanggung oleh bukti verbalnya. Ia lebih menekankan “satu Allah” sebagai Allah Israel dan “satu Tuhan” sebagai Yesus yang ditinggikan dan diberi pemerintahan atas bangsa-bangsa. (Google Books)
Karena perdebatan tersebut, kesimpulan metodologis paling presisi adalah:
1 Korintus 8:6 sangat mungkin menggemakan Shema, terutama karena konteks eksplisit tentang keesaan Allah dan penggunaan heis–theos–kyrios. Namun kita tidak perlu menggantungkan seluruh makna ayat ini pada teori bahwa Paulus secara teknis “membagi” setiap unsur Ulangan 6:4.
Mengapa?
Karena argumentasi monoteistik Paulus sudah jelas bahkan dari sintaksis 1 Korintus 8 sendiri.
Ayat 4: Allah satu.
Ayat 5: dunia mempunyai banyak klaim ketuhanan.
Ayat 6: bagi komunitas Paulus, satu Allah adalah Bapa dan satu Tuhan adalah Yesus Kristus.
Hubungan dengan Shema memperkaya makna ini, tetapi bukan satu-satunya penyangga makna.
Charles Cleworth dalam studi hermeneutik 2025 secara khusus memperingatkan bahwa konteks historis Yahudi abad pertama, meskipun sangat penting, dapat dibebani secara berlebihan sebagai satu-satunya kunci penafsiran 1 Korintus 8:6. Teks harus tetap diuji melalui koherensi linguistik, sastra, teologis, dan pragmatisnya sendiri. (DOI)
IX. “Melalui-Nya segala sesuatu”: apakah berbicara tentang penciptaan?
Bagian kedua mengenai Yesus berbunyi:
di’ hou ta panta“melalui siapa segala sesuatu.”
Di sinilah salah satu perdebatan terpenting muncul.
Apakah “segala sesuatu” berarti seluruh ciptaan, atau hanya keselamatan dan keberadaan komunitas baru?
Pembacaan kosmologis memiliki alasan sintaktis yang sangat kuat.
Paulus menggunakan ungkapan yang sama:
ta pantapada kedua sisi struktur.
Bapa:
ex hou ta panta.
Yesus:
di’ hou ta panta.
Jika ta panta pertama berarti seluruh realitas, sangat tidak alami apabila ta panta kedua tiba-tiba dipersempit menjadi “hal-hal yang berhubungan dengan jemaat” tanpa penanda linguistik.
Selain itu ayat 5 sudah menyebut surga dan bumi.
Konteksnya kosmik.
Karena itu pembacaan paling alami adalah:
segala sesuatu berasal dari Bapa dan segala sesuatu ada melalui Yesus Kristus.
Michael Bird mempertahankan pembacaan kosmologis ini dalam percakapan mutakhir mengenai ayat tersebut, sedangkan Perriman memberikan pembacaan alternatif yang berusaha menempatkan “segala sesuatu” lebih dekat kepada misi bangsa-bangsa dan pemerintahan Mesias. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan ini masih hidup dalam penelitian kontemporer. (postost.net)
Secara sintaktis, pembacaan kosmologis tetap lebih ekonomis karena tidak memerlukan perubahan referen ta panta di tengah paralelisme.
Dengan demikian:
Bapa = sumber universal.
Yesus = perantara universal.
Tetapi Paulus menjaga pembedaan preposisinya:
bukan ex untuk Yesus,
melainkan dia.
X. Arti teologis perbedaan ex dan dia
Inilah salah satu aspek paling presisi dari teks.
Paulus tidak menggunakan preposisi secara acak.
Untuk Bapa:
ἐξ — ex: “dari”.
Untuk Yesus:
διά — dia: “melalui”.
Maka 1 Korintus 8:6 mengandung suatu tata relasional:
asal → Bapa
mediasi → Yesus Kristus
tujuan → Bapa
Bila diringkas:
dari Bapa — melalui Yesus — untuk Bapa.
Ini tidak berarti bahwa Yesus hanya alat impersonal. Kata Kyrios justru menempatkan-Nya sebagai pribadi yang memegang otoritas unik atas komunitas dan berperan dalam keseluruhan karya yang dinyatakan Paulus.
Namun tata preposisional tersebut tidak boleh dihapus.
Paulus memang membedakan:
sumber pertama,
mediasi,
dan tujuan.
Inilah sebabnya saya mengusulkan istilah “monoteisme sumber–mediasi–telos” sebagai sintesis eksegetis artikel ini.
Istilah ini bukan dimaksudkan sebagai dogma baru. Ia hanyalah cara singkat untuk menggambarkan tata bahasa Paulus.
XI. 1 Korintus 15:24–28 sebagai kontrol teologis
Tafsiran terhadap 1 Korintus 8:6 sebaiknya diuji dengan 1 Korintus 15:24–28 karena keduanya berasal dari surat yang sama.
Dalam pasal 15, Paulus menggambarkan akhir pemerintahan Mesias:
Yesus harus memerintah sampai semua musuh ditaklukkan.
Kemudian kerajaan diserahkan kepada “Allah dan Bapa”.
Pada akhirnya tujuan yang disebut Paulus adalah:
“supaya Allah menjadi semua di dalam semua.”
Struktur ini sangat penting.
1 Korintus 8:
segala sesuatu dari Bapa,segala sesuatu melalui Yesus,kita untuk Bapa.
1 Korintus 15:
Yesus menjalankan pemerintahan sampai musuh ditaklukkan,kemudian pemerintahan mencapai tujuannya dalam supremasi Allah.
Artinya, Paulus mempunyai pola konsisten:
Allah Bapa adalah sumber dan tujuan final, sedangkan Yesus Kristus menjalankan peranan mediatif dan pemerintahan yang universal.
Maka 1 Korintus 8:6 dan 15:24–28 saling menerangkan.
XII. Filipi 2:9–11: Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa
Filipi 2:9–11 juga memberikan pola sangat penting.
Paulus mengatakan bahwa Allah meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, sehingga setiap lutut bertekuk dan setiap lidah mengaku:
“Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Tetapi kalimat tersebut berakhir:
“bagi kemuliaan Allah Bapa.”
Sekali lagi terdapat struktur yang mirip:
Yesus menerima pengakuan universal sebagai Tuhan,
namun hasil akhirnya adalah kemuliaan Allah Bapa.
Maka dalam Paulus, pengakuan:
“satu Tuhan, Yesus Kristus”
tidak bersaing dengan pengakuan:
“satu Allah, Bapa.”
Keduanya terdapat dalam tata relasional yang konsisten.
XIII. 2 Korintus 4:5: pola terminologis Paulus
Paulus menulis:
“sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena Yesus.”
Lalu ayat berikutnya berbicara tentang:
“Allah yang berfirman: dari dalam gelap akan terbit terang.”
Di sini kembali terlihat pola bahasa Paulus.
Yesus disebut Kyrios.
Allah tetap disebut Theos.
Pola yang sama muncul dalam pembukaan banyak surat Paulus:
“Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus.”
Ini menunjukkan bahwa 1 Korintus 8:6 bukan pemilihan terminologi yang kebetulan.
Ia mencerminkan grammar teologis Paulus yang stabil.
XIV. Monoteisme Paulus dan persoalan berhala
Penafsiran 1 Korintus 8:6 belum selesai sebelum sampai ke pasal 10.
Di pasal 8 Paulus mengatakan:
berhala “tidak ada apa-apanya” sebagai allah.
Namun di pasal 10 ia memperingatkan bahwa partisipasi dalam ritus berhala dapat membawa manusia ke dalam persekutuan dengan kuasa jahat.
Keduanya tidak bertentangan.
Berhala bukan Allah.
Namun praktik penyembahan berhala tetap dapat mempunyai konsekuensi spiritual.
Sin-Pan Daniel Ho dalam penelitian 2023 menunjukkan kuatnya resonansi teologis antara 1 Korintus 8:6 dan narasi padang gurun di pasal 10. Pengakuan satu Allah dan satu Tuhan tidak berhenti sebagai teori; pengakuan tersebut menjadi dasar penolakan terhadap persekutuan kultis dengan berhala. DOI: 10.3390/rel14070906. (DOI)
Inilah alasan monoteisme Paulus bersifat praktis.
Jika hanya ada satu Allah,
maka penyembahan tidak dapat dibagi.
Jika hanya ada satu Tuhan,
maka loyalitas hidup tidak dapat dibagi.
XV. Dari monoteisme menuju etika kasih
Konteks 1 Korintus 8 dimulai bukan dengan kata “Allah” tetapi dengan perdebatan tentang “pengetahuan”.
“Pengetahuan membuat sombong, tetapi kasih membangun.”
Ini mengejutkan.
Paulus ternyata dapat mengatakan bahwa seseorang mempunyai teologi yang benar mengenai berhala tetapi menggunakan kebenaran itu secara berdosa.
Orang yang kuat mengatakan:
“Berhala bukan apa-apa. Karena itu saya bebas makan.”
Secara proposisional ia benar.
Namun Paulus berkata:
jika kebebasanmu menghancurkan saudaramu, pengetahuanmu tidak digunakan dengan benar.
H. H. Drake Williams III dalam penelitian 2024 menempatkan 1 Korintus 8 dalam proses rekonstruksi etika komunitas: Paulus menggunakan ingatan tentang Yesus dan tanggung jawab terhadap saudara yang lemah untuk mengkalibrasi ulang penggunaan kebebasan. DOI: 10.3390/rel15030316. (MDPI)
Redmond memberikan tekanan homiletis serupa: kebenaran bahwa berhala bukan Allah tidak memberikan izin kepada orang yang “berpengetahuan” untuk merusak hati nurani anggota komunitas lain. Dalam argumentasi Paulus, kebebasan akhirnya dibatasi oleh kasih. (The Gospel Coalition)
Jadi monoteisme Paulus menghasilkan etika:
satu Allah → satu orientasi hidup → satu komunitas yang harus dibangun dalam kasih.
Inilah hal yang sering hilang ketika 1 Korintus 8:6 hanya dijadikan bahan perdebatan metafisik.
XVI. Monoteisme sebagai kritik terhadap berhala modern
Berhala pada zaman modern tidak selalu mempunyai patung.
Jika struktur berhala adalah memberikan kepada sesuatu selain Allah loyalitas, rasa aman, identitas, nilai tertinggi, dan pengabdian yang seharusnya diarahkan kepada Allah, maka prinsip 1 Korintus 8 tetap berlaku.
Uang dapat menjadi pusat loyalitas.
Kekuasaan dapat menjadi pusat loyalitas.
Tokoh rohani dapat menjadi pusat loyalitas.
Institusi gerejawi dapat menjadi pusat loyalitas.
Ideologi dapat menjadi pusat loyalitas.
Keberhasilan pelayanan bahkan dapat menjadi pusat loyalitas.
Paulus akan menjawab:
“bagi kita satu Allah, Bapa.”
Artinya tidak ada kekuatan lain yang boleh menjadi sumber identitas final.
Dan:
“kita untuk Dia.”
Artinya tidak ada tujuan hidup lain yang dapat mengambil tempat tujuan akhir manusia.
XVII. Kebaruan penelitian 2022–2025
Literatur lima tahun terakhir memperlihatkan beberapa perkembangan yang penting.
Pertama, Paula Fredriksen menantang pemakaian kategori “monoteisme” yang terlalu sederhana bagi agama kuno. Menurutnya, dunia Paulus dipenuhi berbagai makhluk dan kuasa ilahi dalam imajinasi masyarakat, sehingga pertanyaan penting bukan hanya berapa banyak makhluk surgawi yang dianggap ada, tetapi kepada siapa loyalitas kultis diberikan. Ini memperhalus pembacaan 1 Korintus 8:5. (Cambridge University Press)
Kedua, Michael F. Bird pada 2022 menekankan bahwa status Yesus dalam kesaksian awal harus dinilai melalui perbandingan dengan figur-figur perantara Yahudi dan Yunani-Romawi. Menurut analisisnya, kategori “agen biasa” tidak cukup menjelaskan seluruh bahasa yang digunakan komunitas awal tentang Yesus. (Baylor University Press)
Ketiga, Andrew Perriman pada 2022–2025 menawarkan koreksi terhadap kecenderungan membaca setiap teks Paulus melalui konstruksi metafisika yang sudah jadi. Ia menekankan narasi misi bangsa-bangsa, peninggian Mesias, pemerintahan, dan eskatologi. Walaupun tidak semua kesimpulannya harus diterima, pendekatannya penting sebagai kontrol terhadap pembacaan yang terlalu cepat. (Wipf and Stock Publishers)
Keempat, Hanna pada 2023 menunjukkan bahwa 1 Korintus 8:6 harus dibaca sekaligus dalam konteks monoteisme, bahasa relasional mengenai Bapa dan Yesus, serta masalah konkret makanan persembahan berhala. (Google Books)
Kelima, Ho pada 2023 menggeser perhatian dari satu ayat menuju kesinambungan 1 Korintus 8–10. Dengan demikian, “satu Allah–satu Tuhan” berfungsi sebagai prinsip anti-berhala yang mengarahkan perilaku komunitas. (DOI)
Keenam, Williams pada 2024 memperlihatkan bahwa doktrin dan etika tidak terpisahkan dalam 1 Korintus 8. Kebenaran teologis harus dikalibrasi oleh perhatian terhadap saudara. (MDPI)
Ketujuh, David K. Bernard pada 2024 kembali menempatkan surat-surat Korintus sebagai bukti penting bagi pembicaraan mengenai hubungan antara Allah dan Yesus serta menekankan kesinambungannya dengan monoteisme Yahudi. Pendekatannya merupakan salah satu proposal kontemporer dan perlu dibaca dalam dialog dengan proposal lain, bukan sebagai konsensus tunggal. DOI: 10.3390/rel15060721. (EBSCO OpenURL Connection)
Kedelapan, Gorman pada 2025 membawa kembali persoalan ini kepada fungsi pastoral dan misioner 1 Korintus: teologi Paulus membentuk jenis komunitas tertentu. Doktrin yang benar harus menghasilkan kekudusan, kesatuan, kesetiaan, dan misi. (Google Books)
Kesembilan, Cleworth pada 2025 memberikan peringatan metodologis yang sangat berguna: latar historis tidak boleh digunakan sedemikian dominan sehingga struktur dan koherensi teks sendiri kehilangan hak untuk menentukan penafsiran. DOI: 10.5325/jtheointe.19.2.0286. (DOI)
XVIII. Kontribusi interpretatif artikel ini: monoteisme sumber–mediasi–telos
Berdasarkan keseluruhan data di atas, saya mengusulkan bahwa struktur 1 Korintus 8:6 paling tepat dijelaskan sebagai:
monoteisme sumber–mediasi–telos.
“Sumber”:
ex hou ta panta.
Segala sesuatu dari Bapa.
“Mediasi”:
di’ hou ta panta.
Segala sesuatu melalui Yesus Kristus.
“Telos”:
hēmeis eis auton.
Keberadaan manusia untuk Bapa.
Kemudian:
hēmeis di’ autou.
Keberadaan umat melalui Yesus Kristus.
Dengan demikian struktur ayat ini dapat dirumuskan:
BAPA → sumber segala sesuatu
YESUS KRISTUS → mediator segala sesuatu
MANUSIA/UMAT → hidup melalui Yesus
BAPA → tujuan akhir keberadaan
Ini sangat dekat dengan struktur besar teologi Paulus.
Asal dari Allah.
Pelaksanaan karya Allah melalui Yesus.
Kehidupan umat melalui Yesus.
Tujuan akhir: Allah.
Itulah sebabnya 1 Korintus 15 berakhir dengan:
“supaya Allah menjadi semua di dalam semua.”
XIX. Apa yang tidak boleh disimpulkan dari 1 Korintus 8:6
Ada beberapa batas hermeneutik yang harus dijaga.
Pertama, ayat ini tidak boleh digunakan untuk menghasilkan dua allah. Ayat 4 sudah mengatakan “tidak ada Allah selain satu.”
Kedua, kita tidak boleh menghapus pembedaan terminologis Paulus. Ia mengatakan “satu Allah, Bapa” dan “satu Tuhan, Yesus Kristus”.
Ketiga, dia dan ek tidak boleh diperlakukan seolah-olah identik. Paulus sengaja membedakan asal dan mediasi.
Keempat, “satu Tuhan” tidak boleh direduksi menjadi gelar kehormatan manusiawi biasa. Lingkungan biblis penggunaan Kyrios, fungsi kosmologis “melalui-Nya segala sesuatu”, serta pola konfensional Paulus memberi gelar itu bobot yang sangat tinggi.
Kelima, hubungan dengan Shema tidak seharusnya dipaksakan menjadi bukti tunggal. Hubungannya kuat dan sangat mungkin, tetapi makna dasar ayat telah dapat ditunjukkan melalui konteks 8:4–6.
Keenam, ta panta sebaiknya tidak dipersempit menjadi “hal-hal gerejawi” kecuali ada alasan kontekstual yang kuat. Paralelisme lebih mendukung cakupan kosmologis.
Ketujuh, monoteisme tidak boleh berhenti sebagai matematika ketuhanan. Dalam Paulus ia menghasilkan penyembahan eksklusif, penolakan berhala, kasih, pembatasan kebebasan, dan tanggung jawab terhadap saudara.
XX. Implikasi homiletis bagi pengkhotbah
Bila teks ini dikhotbahkan, pengkhotbah sebaiknya tidak memulai dengan spekulasi metafisik. Mulailah dari masalah Paulus sendiri:
siapa yang berhak menentukan hidup manusia?
Korintus mengatakan:
ada banyak allah, banyak tuan, banyak kuasa, banyak pusat loyalitas.
Paulus mengatakan:
tidak.
“Bagi kita satu Allah, Bapa.”
Artinya:
hidup mempunyai satu sumber.
“Dari-Nya segala sesuatu.”
Artinya:
tidak ada ciptaan yang dapat mengklaim dirinya sebagai asal kehidupan.
“Kita untuk Dia.”
Artinya:
hidup mempunyai satu tujuan final.
“Satu Tuhan, Yesus Kristus.”
Artinya:
umat tidak berjalan menuju Allah dengan otonomi dirinya sendiri; kehidupan dan keselamatan mereka berlangsung melalui Tuhan yang ditetapkan Allah.
“Melalui-Nya kita.”
Artinya:
keberadaan komunitas percaya tidak dapat dilepaskan dari Yesus Kristus.
Lalu aplikasi Paulus sangat tajam:
jika engkau benar-benar percaya kepada satu Allah,
jangan mempunyai berhala.
Jika engkau benar-benar mengakui satu Tuhan,
jangan mempunyai loyalitas tandingan.
Jika engkau benar-benar mempunyai pengetahuan,
jangan menghancurkan saudaramu.
Jika engkau benar-benar hidup untuk Allah,
gunakan kebebasanmu untuk membangun orang lain.
Ini memungkinkan pengkhotbah menghubungkan doktrin dengan kehidupan tanpa mengurangi kedalaman teks.
XXI. Rumusan teologis akhir
Jika seluruh argumentasi Paulus diringkas dalam bahasa yang sedekat mungkin dengan teks, rumusannya adalah:
Allah itu satu.
Allah yang satu itu diidentifikasi Paulus sebagai Bapa.
Segala sesuatu berasal dari Bapa.
Keberadaan manusia diarahkan kepada Bapa.
Yesus Kristus adalah satu Tuhan.
Segala sesuatu ada melalui Yesus Kristus.
Keberadaan umat berlangsung melalui Yesus Kristus.
Karena itu tidak ada ruang bagi allah tandingan maupun tuan tandingan dalam loyalitas umat.
Pengakuan ini harus menghasilkan penolakan terhadap berhala, orientasi hidup kepada Allah, ketaatan kepada Tuhan Yesus, serta kasih yang membatasi penggunaan kebebasan.
Dalam kerangka tersebut, monoteisme Paulus tidak lemah dan tidak ambigu.
Ia justru radikal:
satu sumber — Bapa.
satu orientasi akhir — Bapa.
satu Tuhan yang melalui-Nya segala sesuatu — Yesus Kristus.
Dan seluruh kehidupan komunitas ditempatkan di dalam struktur tersebut.
XXII. Kesimpulan
1 Korintus 8:4–6 tidak mengubah pengakuan Paulus bahwa Allah itu satu. Ayat 6 harus dibaca di bawah kendali ayat 4: “tidak ada Allah selain satu.” Paulus kemudian mengidentifikasi satu Allah itu sebagai Bapa.
Akan tetapi, monoteisme Paulus mempunyai struktur yang khas. Di samping pengakuan “satu Allah, Bapa”, ia meletakkan pengakuan “satu Tuhan, Yesus Kristus”. Bapa dijelaskan dengan ex hou ta panta: dari-Nya segala sesuatu. Yesus dijelaskan dengan di’ hou ta panta: melalui-Nya segala sesuatu. Umat diarahkan eis auton: kepada Bapa; dan mereka ada di’ autou: melalui Yesus.
Karena itu kategori paling produktif untuk memahami ayat ini ialah bukan persaingan antara Bapa dan Yesus, tetapi relasi sumber, mediasi, dan tujuan.
Bapa adalah sumber segala sesuatu.
Yesus Kristus adalah satu Tuhan yang melalui-Nya segala sesuatu.
Bapa adalah tujuan akhir keberadaan.
Hal itu konsisten dengan pola 1 Korintus 15:24–28, Filipi 2:9–11, Roma 11:36, dan 2 Korintus 4:5–6.
Pada akhirnya, monoteisme Paulus bukan hanya pernyataan tentang hakikat realitas. Ia merupakan panggilan eksistensial:
dari siapa engkau hidup?
melalui siapa engkau hidup?
untuk siapa engkau hidup?
Jawaban Paulus ialah:
dari Bapa, melalui Tuhan Yesus Kristus, dan untuk Bapa.
Itulah arsitektur monoteisme Paulus dalam 1 Korintus 8:6.
Literatur utama 2022–2025
Bird, Michael F. Jesus among the Gods: Early Christology in the Greco-Roman World. Waco: Baylor University Press, 2022, 492 hlm. (Baylor University Press)
Fredriksen, Paula. “Philo, Herod, Paul, and the Many Gods of Ancient Jewish ‘Monotheism’.” Harvard Theological Review 115.1 (2022): 23–45. DOI 10.1017/S0017816022000049. (Cambridge University Press)
Perriman, Andrew. In the Form of a God: The Pre-existence of the Exalted Christ in Paul. Cascade Books/Wipf and Stock, 2022, 272 hlm. (Wipf and Stock Publishers)
Hanna, Emad Atef Ezzat. The Pauline Christology of 1 Corinthians 8:6. Wipf and Stock/Resource Publications, 2023, 80 hlm.; bagian analisis relasional mulai sekitar hlm. 46. (Google Books)
Ho, Sin-Pan Daniel. “Moses and Christ in the Wilderness Narrative: Transformation of Religious Traditions in 1 Cor 10.” Religions 14.7 (2023): 906. DOI 10.3390/rel14070906. (DOI)
Williams III, H. H. Drake. “Recalibrating Christian Ethics at Corinth: Paul’s Use of Jesus the Prototype and Collective Remembrance to Provide Spiritual Guidance on Weaker Brothers and Food Offered to Idols.” Religions15.3 (2024): 316. DOI 10.3390/rel15030316. (MDPI)
Bernard, David K. “Paul’s Christology in the Corinthian Letters.” Religions 15.6 (2024): 721. DOI 10.3390/rel15060721. (EBSCO OpenURL Connection)
Fredriksen, Paula. “Paul Within Judaism Within Paganism.” Religions 15.11 (2024): 1396. DOI 10.3390/rel15111396. (MDPI)
Gorman, Michael J. 1 Corinthians: A Theological, Pastoral, and Missional Commentary. Grand Rapids: Eerdmans, 2025, 477 hlm. (Google Books)
Cleworth, Charles. “The Dangers and Limits of Historical Context as a Hermeneutical Key: A Pragmatic Hermeneutical Case Study in Modern Interpretations of 1 Corinthians 8:6.” Journal of Theological Interpretation19.2 (2025): 286–306. DOI 10.5325/jtheointe.19.2.0286. (DOI)



Komentar