KENOSIS
- tbsarono
- 3 hari yang lalu
- 9 menit membaca

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono
Kata kunci kenosis (κένωσις, kenōsis) berasal dari kata kerja Yunani κενόω (kenóō, “mengosongkan”), yang dalam konteks Filipi 2:5–11 menggambarkan tindakan Kristus yang “mengosongkan diri” (ἐκένωσεν). Etymologi dan penggunaan kata ini dicatat dalam leksikon Yunani kuno sebagai “mengosongkan, menghilangkan isi”. Dalam teks Filipi, perikop 2:5–11, sering disebut Kristus-hymn atau kenosis hymn, diyakini sebagai tradisi liturgis Kristen mula-mula (mungkin himne baptisan atau pengakuan iman) yang diadaptasi oleh Paulus. Dalam konteks kritis-historis, surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus (sekitar pertengahan abad pertama Masehi) kepada jemaat di Filipi, dengan beberapa sarjana berpendapat pasal 2:5–11 awalnya adalah puisi liturgis pra-Paulus atau prosa hagiografis yang digubah oleh Paulus untuk menekankan kerendahan hati Kristus. Teks ini memuat terminologi Yunani penting—terutama μορφή (morphḗ, “rupa/keadaan”), ἴσος (ísos, “kesetaraan”), dan ἁρπαγμός (harpagmós, “sesuatu untuk direbut”—NRSV: “dieksploitasi”; NIV/ESV: “ditangkap”)—yang diselaraskan dengan berbagai terjemahan Alkitab utama (NA28, UBS5, ESV, NIV, NRSV). Variasi penerjemahan terutama terletak pada frasa “tidak memperhitungkan kesetaraan itu sebagai sesuatu untuk ___” (contoh: NRSV “dieksploitasi”, ESV “untuk ditangkap”, NIV “untuk digenggam”), sehingga implikasi teologisnya berkisar pada apakah Kristus ‘mengosongkan diri’ dengan meninggalkan hak prerogatif-Nya atau sekadar menghindari penyalahgunaan status ilahi-Nya. Kajian akademis terbaru (2019–2024) mencakup studi lintas disiplin: misalnya Ottuh (2020) menganalisis konsep kenosis dalam konteks teologi Afrika; Peter-Dass (2020) memetakan interpretasi Filipi 2 di kalangan teolog Asia; dan Barclay (2022) meninjau kenosis sebagai drama penyelamatan dalam buku Kenosis: The Self-Emptying of Christ in Scripture and Theology. Literatur ini menegaskan tema utama bahwa Kristus, meski dalam μορφή θεοῦ (“rupa/kedudukan sebagai Tuhan”), mengosongkan diri demi kemanusiaan-Nya, sehingga gereja perlu meneladan sikap rendah hati dan rela berkorban (Phil. 2:5–8) dalam kehidupan etis sehari-hari. Rangkuman temuan dan sumber utama disajikan dalam tabel komparatif berikut (mis. tesis, metode, kesimpulan, kekuatan/kelemahan).
1. Etimologi Yunani Kenōsis dan Kenóō
Kata kenōsis (κένωσις) secara harafiah berarti “tindakan mengosongkan diri”. Etimologi Yunani menelusurinya ke kata kerja kenóō (κενόω) yang artinya “mengosongkan, menjadikan kosong”. Misalnya, dalam BDAG didefinisikan sebagai “to make empty, to deprive of content” (Arndt et al., A Greek–English Lexicon, 5th ed.) dan disederhanakan dalam LSJ sebagai “emptying, depletion”. Feinberg (1980) mencatat bahwa terjemahan umum dari κενόω dalam Filipi 2:7 adalah “dia mengosongkan diri” atau “menjadi tidak terkenal”. Dalam Perjanjian Baru kata benda kenosis sendiri sebenarnya tidak dipakai; yang muncul adalah kata kerja bentuk lampau ekenōsen (ἐκένωσεν) dalam Filipi 2:7. Dari analisis leksikal ditemukan lima penggunaan kenóō lain dalam NT (Rom 4:14; 1Kor 1:17; 9:15; 2Kor 9:3; dan diartikan serupa seperti “tidak mengikat syarat” atau “tidak menuntut bayaran dalam pelayanan”). Namun yang paling menonjol adalah Filipi 2:7, sebagai satu-satunya konteks kata ini menggambarkan Kristus menjauhi sesuatu yang melekat pada kemuliaan ilahi-Nya untuk mengambil bentuk manusia. Dengan demikian, kajian etimologi menekankan kata ini bermuatan “pengosongan diri” mutlak, bukan sekadar “rendah hati”.
2. Konteks Historis-Kritikal Filipi 2:1–11
Surat Filipi ditulis Rasul Paulus kepada komunitas gereja di kota Filipi (salah satu provinsi Romawi). Umumnya Filipi ditulis saat Paulus dalam tahanan (tradisional di Roma, kira-kira tahun 53–60 M). Filipi 2:1-11 khususnya sering dikaji sebagai sebuah Christ-hymn awal Kristen, yang mencerminkan doktrin kenosis. Menurut tradisi, ayat 5 (“Hendaklah kamu dalam hati ini yaitu pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”) memperkenalkan bagian himne atau kredo kristologis tersebut. Banyak sarjana lama (Lohmeyer 1928; Martin 1997) berpendapat bahwa 2:6–11 diambil dari liturgi atau himne pra-Paulus, yang menyatakannya dalam bentuk puisi (bernada chiasmus atau paralelisme). Namun, penelitian terbaru mempertanyakan keaslian bentuk puisi ini. Guthrie (2023) misalnya menunjukkan bahwa gaya ayat ini tidak sangat sesuai dengan pola puisi Yahudi atau himne Romawi kuno. Oleh karena itu, beberapa peneliti (Bird & Gupta 2020; Fee 1992) menganggap ini mungkin prosa agung ala Paulus—walau tetap dengan tingkat retorika yang tinggi—bukan nyanyian liturgis terpisah. Du Toit (2026) menyimpulkan walau asal-usul persisnya masih debat, perikop ini jelas mencerminkan peribadatan dan teologi kristen awal (refleksi iman akan kerendahan hati dan pengangkatan Kristus sebagai Tuhan).
Debat historis lain meliputi pertanyaan interpolasi: ada yang mengusulkan (lebih populis) bagian-bagian tertentu seperti “keangungan Allah” (p.6) atau “setara dengan Allah” bisa saja tambahan kemudian oleh penyalin skiptural untuk menegaskan doktrin trinitas. Namun mayoritas sarjana menyatakan bahwa keutuhan teks Filipi 2:5–11 autentik paulinus, terutama karena manuskrip-manuskrip kuno (NA28/UBS5) konsisten dan tidak ada bukti varian yang mencurigakan. Dari sisi sejarah, teks ini menekankan konsep Christus yang tak tergoyahkan dalam kesetaraan dengan Allah (μορφῇ Θεοῦ, ἴσος θεῷ) namun sekaligus rela merendahkan diri. Porsi ini melambangkan jembatan antara pemahaman Yahudi dan pagan: Yesus diproklamasikan sama kekal dan mulia seperti Allah Bapa (atau setara dengan-Yah) namun memilih jalan ketaatan total—penting dalam konteks penggembalaan jemaat Filipi di Roma yang juga menghadapi kultus kekaisaran.
3. Analisis Sintaksis dan Semantik Ayat Kunci (Filipi 2:5–11)
Gramasi. Frasa kunci di Filipi 2:6–11 adalah: Ἐν μορφῇ Θεοῦ ὑπάρχων (enin morphē Theou hyparchōn, “yang di dalam rupa Allah berada”), dan ἴσον Θεῷ ἑαυτὸν οὐχ ἑαυτὸν ἡγήσατο (ison Theō heauton ouch es autou hēgēsato, “tidak memperhitungkan menjadi setara dengan Allah sebagai [sesuatu untuk] di-rebutkan”). Dalam terjemahan NA28/UBS5 (teks bahasa Yunani modern), kata κενόω (kenóō) dipakai dalam bentuk lampau ekenōsen (“dia mengosongkan [diri]”). Sinonim bahasa Inggris dari morphḗ sering “rupa/keadaan”, sedangkan ísos secara literal “setara”. Bentuk harpagmós (ἁρπαγμός) yang dipakai Paulus artinya harfiah “sesuatu untuk direbut” (dari akar harpazō, merampas). Terjemahan Indonesia umum memilih “dipandang sebagai sesuatu yang perlu di-rebutkan” atau “untuk disalahgunakan” tergantung versi.
Variasi Terjemahan. Perbedaan utama antara ESV, NIV, NRSV, dan lainnya terdapat pada pengolahan harpagmós. Contohnya, ESV menerjemahkan Filipi 2:6 sebagai “…did not count equality with God a thing to be grasped” (tidak menghitung kesetaraan itu sebagai sesuatu yang ‘dijatuhkan’), sedangkan NIV “…did not consider equality with God something to cling to”. Sebaliknya, NRSV lebih menekankan sisi eksploitasi: “did not regard equality with God as something to be exploited”. Du Toit (2026) mencatat bahwa kata Yunani ἁρπαγμός pada v.6 dapat diartikan “sesuatu untuk direbut” atau “disalahgunakan”; dengan demikian NRSV dan ESV/NIV menyorot nuansa berbeda (eksploitasi vs. kepemilikan). Versi Latin tradisional (Vulgata) “non rapinam arbitratus est” (“tidak dianggabnya suatu rampasan”) mendukung makna “bukan objek untuk diambil”.
Secara keseluruhan, Frasa “tidak memperhitungkan… (harpagmós)” menunjukkan Kristus tidak menganggap status Ilahi-Nya sebagai sesuatu yang harus ditahan dengan paksa atau dieksploitasi. Ia “tidak menganggap menjadi sama dengan Allah sebagai harta yang harus dirampas atau dipertahankan”. Lalu, kata kerja ekenōsen (ἐκένωσεν) secara eksplisit dihubungkan dengan “mengosongkan dirinya” sendiri, yang difahami sebagai pengosongan nilai atau wewenang ilahi demi mengambil “bentuk hamba” dan “rupa manusia” (Phil. 2:7). Dalam analisis semantik, muncul perbedaan tafsir: sebagian modern memandang kenosis ini sebagai penurunan hak prerogatif (“tidak memegang divinitas-Nya”), sedangkan yang lain (mis. Dunn 1989, Martin 1983) menyarankan interpretasi metaforis—menurut mereka “tidak dianggap menahan hak sebagai milik-Nya” saja. Perbedaan terjemahan dan penggalian nuansa ini mempengaruhi implikasi teologis: apakah Kristus secara nyata melepaskan aspek keilahian-Nya atau lebih menekankan kesetiaan dan kerendahan hati-Nya.
4. Tinjauan Literatur Akademik Inggris Terkini (2019–Sekarang)
Kajian akademis dalam 5 tahun terakhir terus menyoroti kenosis Filipi 2 dari berbagai perspektif. Ottuh (2020) membahas konsep kenosis dalam Filipi 2:6–7 terutama dalam konteks teologi Afrika; ia menegaskan bahwa “Filipi 2:6–7 menyiratkan bahwa Yesus mengosongkan diri dari keilahian-Nya untuk menjadi manusia demi keselamatan manusia”, menghubungkan temuan linguistik dengan tantangan kepemimpinan Kristen di Afrika (egoisme vs pelayanan). Peter-Dass (2020) meneliti interpretasi Asia atas Filipi 2:5–11 (IJAC 3:5–25, DOI:10.1163/25424246-00301002), dan menemukan bahwa jemaat Asia sering menghubungkan kenosis dengan keadilan sosial, kesetaraan, dan pemberdayaan—misalnya dijadikan motif pelepasan miskin oleh gereja (befreiung). Ia menyimpulkan bahwa teks kenosis menjadi jangkar kebebasan bagi teologi-konversi Asia, menegaskan eksisnya keragaman tujuan teologis berdasarkan konteks kultur.
Dalam antologi terbaru Kenosis: The Self-Emptying of Christ in Scripture and Theology (Nimmo & Johnson, eds.; Eerdmans 2022), John Barclay (2022) menyumbang kajian “Kenosis and the Drama of Salvation in Philippians 2”. Ia mengulas kenosis sebagai aksi penyelamatan eskatologis: turun-naiknya Kristus sebagai peristiwa teodrama. Berbeda dengan baca sejarah kuno, ia menekankan fungsi naratif kenosis dalam skema penyelamatan Tuhan. Selain itu, Becker (2020) membahas Filipi 2 dalam konteks etika kerendahan hati dalam kitabnya Paul on Humility (Baylor UP), menekankan pentingnya pengosongan sebagai teladan iman. Meski karya Becker belum tersedia DOI, temuan-utamanya menambah diskusi seputar moralitas rendah hati Paulus dan inklusi orang lain.
Dua penerbit terkemuka juga merilis karya tentang Filipi yang relevan. Bird dan Gupta (2020) menulis buku Philippians (Cambridge University Press, DOI:10.1017/9781108645201), sebuah komentar yang mendalam pada seluruh surat, termasuk analisis kenosis. Mereka menekankan fungsi pedagogis himne ini dalam membangun persekutuan jemaat serta menempatkan tafsiran historis (contoh: citraan Yesus sebagai ‘Tuhan yang merendahkan diri’) dalam kacamata mesianik abad pertama. Sementara itu, Blois & Lamb (2024) menyunting Religions 15:1271 (DOI:10.3390/rel15101271), yang terdiri dari “State of the Art” tentang Filipi; meski tidak fokus khusus pada kenosis, tulisan pengantar mereka menyoroti tren riset Filipi terkini dan memberikan bibliografi bibliografi 2008–2024. Ini menegaskan bahwa topik kenosis masih mendapat sorotan luas—baik dalam studi Kristologi, studi komparatif Yesus dengan tradisi-Patris, maupun penerapan etis kontemporer.
Secara metodologi, literatur modern ini menggunakan analisis lintas-bidang: eksegesis linguistik, kritik formalis (struktural vs himne), kajian sosiokultural (Asian/-Afrika), dan pembacaan etis/teologis. Kekuatan utamanya adalah integrasi perspektif global dan dialog teologis; misalnya Ottuh (2020) menggunakan studi kontekstual dan pascastrukturalisme untuk mengajukan relevansi kenosis bagi kepemimpinan gereja Afrika. Peter-Dass (2020) mengadopsi pendekatan post-kolonial dan teologi pembebasan dalam kerangka Asia, sehingga mengungkap penggunaan Filipi 2 di lapangan praktek gereja di Asia. Barclay (2022) memasukkan teori naratif penyelamatan (Teodrama) dan menyoroti telaah tekstual untuk membingkai kenosis sebagai bagian penyelamatan universal. Kelemahan pengkajian ini kadang terletak pada ketiadaan kesepakatan filologis (jadi interpretasi tetap bervariasi), atau keterbatasan dalam data manuskrip (mis. sedikit varian teks unik). Meski begitu, konsensus di literatur modern cenderung menolak makna penyiksaan metafisis (bagaimana Tuhan bisa “kehilangan” kekuatan-Nya secara objektif) dan lebih menekankan nilai aplikatifnya.
5. Aplikasi Praktis: Etika Kehidupan Kristen Sehari-hari
Penafsiran Filipi 2:5–11 sangat berkaitan dengan tuntunan etis Paulus bagi jemaat. Kata pengantar ayat 5 (“hendaklah kamu dalam diri kamu yang ada pada Kristus Yesus”) secara eksplisit mengajak orang percaya meneladani cara berpikir Kristus. Contoh Kristus yang “mengosongkan diri” demi pelayanannya memberikan dasar moral untuk kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih. Secara konkret, Filipi 2:3–4 melanjutkan tema kerendahan: “Jangan lakukan sesuatu karena persaingan atau kesombongan… melainkan dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”. Prinsip ini disimpulkan dari tindakan Kristus dalam pasal 2:5–8: Kristus rela melepaskan hak istimewa-Nya (percaya dengan “tidak menghitung kesetaraan itu sebagai sesuatu untuk diambil”) dan menempatkan diri sebagai hamba sampai wafat. Oleh sebab itu, praktisi Kekristenan dianjurkan mencontoh Kristus: berjiwa hamba, meletakkan kepentingan orang lain, dan sukarela “merendahkan diri” ketika melayani komunitas. Sebagaimana Ottuh (2020) menyimpulkan, kenosis “mencirikan pengosongan diri dan penyangkalan ego”, sikap yang secara terbalik menghadapi budaya egoisme; nilai ini diterjemahkan menjadi kepemimpinan gerejawi yang melayani, bukan mendominasi.
Lebih spesifik, beberapa rekomendasi etis berdasarkan Filipi 2 antara lain: (1) Ukur diri dalam persekutuan – anggap rekan yang lain lebih penting (Phil. 2:3); (2) Hindari motivasi mementingkan diri sendiri – beri prioritas kasih dan persatuan daripada persaingan (Phil. 2:2-4); (3) Imitasi Kristus dalam tindakan – kerendahan hati yang nyata (Phil. 2:7-8) menuntun pada aksi sosial: membantu orang lemah, berkawan dengan yang dipinggirkan, dan bersikap adil; (4) Pilih pelayanan rela berkorban – sebagaimana Kristus taat sampai wafat salib, Kristen dipanggil untuk siap menderita demi kebenaran dan kebaikan sesama. Kesemuanya bertujuan memuliakan Allah melalui “semua lutut bertelut di surga dan di bumi” (Phil. 2:10) serta memuliakan nama Kristus (Phil. 2:11) melalui hidup kudus (pelayanan) sehari-hari.
6. Ketidakpastian Utama & Rekomendasi Penelitian Lanjutan
Meskipun banyak kemajuan dalam studi Filipi 2, sejumlah masalah masih menimbulkan ketidakpastian. Pertama, makna tepat kenosis: Beberapa sarjana (mis. Dunn 1989; Martin 1983) menegaskan bahwa “mengosongkan diri” bersifat retoris/metaforis (tidak memindahkan atribut ilahi sesungguhnya), sementara yang lain lebih harafiah memaknainya sebagai “melepaskan hak” ilahi. Perbedaan ini belum tuntas diselesaikan—membutuhkan kajian interdisipliner (teologi dogmatik, studi Origenes sampai gereja awal, diskusi MIriotik). Kedua, aspek redaksional/tekstual: Beberapa pakar memperdebatkan susunan kalimat asli (adalah ayat 6–7 satu kalimat panjang dalam Yunani, yang mungkin sulit dipindahkan ke dalam struktur terjemahan tertentu) atau varians bacaan kuno (sejumlah manuskrip kuno memakai “μορφῇ Θεῶν” plural). Kajian tekstual kritis baru bisa membantu mengklarifikasi. Ketiga, fungsi liturgis/historis: Apakah Filipi 2:6–11 pernah dinyanyikan dalam doa jemaat awal? Teori penghulu liturgis (“theologos”) yang dihipotesiskan oleh Collins (2003) dan lain-lain patut diuji lebih lanjut menggunakan sumber-sumber material (seperti papirus liturgis atau tulisan Bapa Gereja).
Di bidang teologi praktis, dibutuhkan riset lebih mendalam tentang bagaimana makna kerendahan hati Kristus diterapkan dalam budaya non-Barat kontemporer (mis. dalam studi pascakolonial, feminis, teologi missional). Peter-Dass (2020) mencontohkan pentingnya perspektif lokal Asia; studi serupa bisa dikembangkan untuk konteks lain (Afrika, Amerika Latin). Selain itu, kajian sosiologis/psikologis terkait “kenosis dan kepemimpinan” (mis. Daniel O’Neill 2012) atau “kenosis sebagai kerjasama antaragama” merupakan bidang yang relatif terabaikan. Disarankan pula penggunaan metode baru (analisis wacana korpus, studi neuroetika) untuk menguak bagaimana komunitas pembaca modern memahami seruan Filipi 2:5–11 dalam praktik kehidupan gereja.
Tabel 1. Perbandingan Sumber Akademik Utama tentang Filipi 2 Kenosis (2019–sekarang)
Sumber (Penulis, Tahun) | Tesis Utama | Metode Penelitian | Kesimpulan Utama | Kekuatan / Kelemahan | DOI |
Bird & Gupta (2020) – Philippians (komentar) | Philippians 2:5–11 adalah bagian integral epistolaria Paulus, menyoroti kerendahan hati Kristus sebagai teladan etis | Analisis ekspositori pasal demi pasal (bahasa Yunani) | Penekanan: Paulus menggunakan himne/ajaran Kristus ini untuk memperkuat kesatuan dan kasih jemaat; kerendahan hati Kristus menjadi model normatif | Kuat pada detail tekstual & teologis; perincian kontekstual sejarah liturgi. Terbatas pada perspektif engrosser (mis. tidak membahas implikasi budaya luas). | |
Ottuh (2020) – Verbum et Ecclesia (art. riset) | Konsep kenosis Filipi 2:6–7 dikaitkan dengan teologi inkarnasi dan pelayanan, kontekstualisasi bagi gereja Afrika | Kajian literatur historis-teologis; analisis hermeneutik pasal 2:5–11; studi konteks Afrika | Kristus secara eksplisit “mengosongkan” keilahian-Nya demi keselamatan manusia; konsep ini dicapai sebagai kerendahan hati kontras dengan kepemimpinan ego di Afrika | Mengintegrasikan perspektif kontekstual (Afrika). Terbatas pada konteks regional, sehingga belum generalisasi global; lebih ke perspektif hermeneutik daripada analisis teks kritis. | |
Peter-Dass (2020) – IJ Asian Christianity 3:1 | Filipi 2:5–11 sebagai teks ‘kenosis’ dipahami oleh teolog Asia dalam kerangka teologi pembebasan | Studi bibliografis dan teologi kontekstual Asia; tinjauan literatur Asia | Ayat kenosis dipakai sebagai alat pembebasan: menuntut keadilan ekonomi/sosial, kesetaraan gender, solidaritas antariman di Asia | Kekayaan pengamatan budaya lokal; menampilkan dinamika teks-teologi. Terbatas pada Asia; tidak analisis linguistik mendalam. | |
Barclay (2022) – dalam Nimmo & Johnson (ed.), Kenosis | Kenosis dalam Filipi 2 sebagai bagian narasi keselamatan: Kristus turun sebagai teater penyelamatan umat | Tinjauan naratif-sosiologis; tafsir tekstual Filipi 2:5–11; integrasi dengan teologi modern (teodrama) | Tindakan kenosis Yesus dipahami sebagai aksi penyelamatan yang mengungkap karakter Allah (kasih, keadilan); menekankan dampak keselamatan bagi kredo pemeluk | Pendekatan inovatif (naratif penyelamatan); mempertemukan filologi dan teologi. Mungkin berat secara teoretis bagi pembaca awam, serta belum menitikberatkan perbedaan terjemahan linguistik spesifik. | (bab) Dalam P.T. Nimmo & K.L. Johnson (eds.), Kenosis (Eerdmans, 2022), hlm. 6–23 |
Blois & Lamb (2024) – Religions 15:1271 | Tinjauan komprehensif keadaan riset Filipi terkini (2008–2024) | Pengantar edisi khusus/analisis bibliografis | Menganalisis tren riset: kebutuhan perspektif interdisipliner, inklusivitas topik; menyertakan daftar riset terkini sebagai sumber bagi peneliti berikutnya | Memetakan hampir semua karya baru terkait Filipi; sumber primer kuat. Kelemahan: sekadar bingkai umum, tidak mendalami satu isu spesifik seperti kenosis. |



Komentar