top of page

Monoteisme Kenosis: Menjelaskan Kehadiran Allah dalam Yesus Kristus

Diperbarui: 5 Agu


Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

Pendahuluan

Sejak awal, iman Kristen berangkat dari satu pengakuan yang diwarisi langsung dari Yudaisme: Allah itu esa. ShemaIsrael — "Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" (Ul 6:4) — adalah fondasi yang tidak pernah ditinggalkan oleh jemaat mula-mula, termasuk oleh Paulus sendiri, yang justru mengutip ulang keesaan Allah ini bahkan ketika berbicara tentang Kristus (1 Kor 8:6). Pertanyaannya kemudian: bagaimana pengalaman jemaat mula-mula akan Yesus sebagai penyingkapan Allah yang penuh — yang menyembuhkan, mengajar, mati, dan bangkit — dapat dijelaskan tanpa harus mengembangkan aparat metafisika tiga-pribadi-satu-esensi yang baru dirumuskan secara resmi berabad-abad kemudian di Nicea (325 M) dan Konstantinopel (381 M)?

Jawabannya terletak pada satu kata Yunani dari Filipi 2:7: ekenōsen — "Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri." Kenosis bukan sekadar penjelasan tentang inkarnasi, melainkan dapat menjadi jalan untuk memahami seluruh peristiwa Kristus sebagai tindakan Allah yang esa itu sendiri, tanpa perlu memperkenalkan pribadi ilahi kedua yang koeksis secara kekal.

Tulisan ini menyusun argumen tersebut secara bertahap: dari premis keesaan Allah, melalui konsep kenosis sebagai tindakan pengosongan diri, hingga penjelasan tentang bagaimana karya, penderitaan, kebangkitan Kristus, dan kehadiran Roh dapat dipahami sebagai satu Allah yang sama yang bertindak dalam mode dan momen berbeda dalam sejarah keselamatan.

1. Premis: Keesaan Allah sebagai Titik Tolak yang Tidak Dinegosiasikan

Setiap penjelasan Kristologis yang berangkat dari monoteisme ketat harus mempertahankan dua hal sekaligus:

  • Allah itu esa — tidak terbagi, tidak majemuk secara ontologis (Ul 6:4; Yes 45:5, 21-22).

  • Yesus adalah penyingkapan Allah yang sesungguhnya, bukan makhluk ciptaan atau utusan biasa, melainkan Allah sendiri yang hadir (Yoh 1:14; Kol 2:9).

Ketegangan antara dua hal ini biasanya diselesaikan gereja arus utama lewat doktrin Tritunggal: satu esensi (ousia), tiga pribadi (hypostasis) yang berbeda namun setara dan kekal. Namun ketegangan yang sama dapat diselesaikan dengan cara lain: bukan dengan memperbanyak pribadi di dalam Allah, melainkan dengan menjelaskan bagaimana Allah yang satu pribadi itu dapat hadir secara penuh dan otentik dalam kondisi manusiawi — yaitu lewat kenosis.

2. Kenosis sebagai Tindakan Allah yang Esa, Bukan Pribadi Kedua yang Turun

Filipi 2:6-7 (LAI):

"...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba..."

Dalam kerangka Tritunggal klasik, ayat ini dibaca sebagai pribadi kedua (Anak/Logos) yang secara sukarela membatasi diri dari kemuliaan surgawi-Nya. Namun jika kerangka tiga-pribadi tidak digunakan, ayat yang sama dapat dibaca lebih langsung: Allah yang esa itu sendiri yang mengosongkan diri-Nya — bukan pribadi lain yang setara-kekal dengan-Nya, melainkan Diri-Nya sendiri — untuk hadir secara penuh sebagai manusia Yesus dari Nazaret.

Kenosis di sini dipahami bukan sebagai "pribadi ilahi meninggalkan pribadi ilahi lain," melainkan sebagai tindakan pembatasan diri (self-limitation) dari Allah yang satu itu: Allah yang mahatahu membatasi pengetahuan-Nya, Allah yang mahakuasa membatasi kuasa-Nya, Allah yang kekal masuk ke dalam waktu dan kematian — semua ini demi kasih-Nya kepada manusia. Pendekatan ini sejalan dengan apa yang dirintis teolog kenotik abad ke-19 seperti Gottfried Thomasius, dan diteruskan pada abad ke-20 oleh Jürgen Moltmann, meski keduanya sendiri tetap bekerja di dalam kerangka Tritunggal. Yang diusulkan di sini adalah melepaskan kerangka itu dan mempertahankan intinya: kenosis sebagai cara Allah yang esa hadir secara otentik dalam kemanusiaan.

3. "Identitas Ilahi": Yesus sebagai Cara Allah Bertindak, Bukan Pribadi Terpisah

Pendekatan yang dikembangkan Richard Bauckham (God Crucified: Monotheism and Christology in the New Testament) memberi kerangka yang berguna di sini. Bauckham menunjukkan bahwa penulis Perjanjian Baru tidak menempatkan Yesus sebagai makhluk perantara antara Allah dan manusia (seperti malaikat tinggi atau hipostasis kebijaksanaan dalam sebagian pemikiran Yahudi Bait Suci Kedua), melainkan langsung memasukkan Yesus ke dalam identitas unik YHWH— karya penciptaan (Kol 1:16), otoritas atas hidup dan mati (Yoh 5:21), penerimaan sembah yang hanya layak bagi Allah (Flp 2:10-11, mengutip Yes 45:23).

Namun "dimasukkan ke dalam identitas Allah" tidak otomatis berarti "pribadi ilahi kedua." Bisa juga dibaca sebagai: Yesus adalah cara Allah yang esa itu bertindak secara langsung dan personal di dalam sejarah manusia — bukan utusan-Nya, bukan wakil-Nya, melainkan Allah itu sendiri yang, lewat kenosis, mengambil rupa manusia untuk menggenapi karya penyelamatan. Monoteisme Yahudi tetap terjaga penuh; yang berubah hanyalah pengakuan bahwa Allah yang esa itu ternyata dapat — dan telah — bertindak dengan cara sedemikian intim sehingga Ia sendiri masuk ke dalam penderitaan dan kematian manusia.

4. Bapa, Anak, Roh sebagai Mode Karya, Bukan Tiga Pribadi Kekal

Jika kerangka tiga-pribadi ditinggalkan, sebutan "Bapa," "Anak," dan "Roh Kudus" tetap dapat dipertahankan — bukan sebagai nama tiga pribadi yang koeksis secara kekal, melainkan sebagai nama bagi mode atau tahap karya Allah yang satu itu dalam sejarah keselamatan:

Sebutan

Mode Karya Allah yang Esa

Bapa

Allah sebagai sumber, pencipta, dan pemelihara — sebagaimana Ia dikenal dalam Perjanjian Lama dan sepanjang sejarah dunia.

Anak / Yesus Kristus

Allah yang sama itu, dalam tindakan kenosis, mengosongkan diri dan hadir secara manusiawi untuk menebus — berkarya dari dalam sejarah, mengalami penderitaan, kematian, dan kebangkitan.

Roh Kudus

Allah yang sama itu, sesudah kebangkitan dan kenaikan, melanjutkan kehadiran-Nya secara langsung dalam hati dan komunitas orang percaya — bukan pribadi ketiga yang berbeda, melainkan kelanjutan kehadiran Allah yang telah berkenosis, sekarang hadir tanpa batasan ruang-tubuh seperti pada masa inkarnasi.

Kerangka ini bergema dengan tradisi modalisme kuno (sering diasosiasikan dengan Sabellius, abad ke-3) dan diteruskan dalam bentuk modern oleh gerakan Oneness Pentecostalism. Klaim dasarnya: Allah tidak pernah berhenti esa dalam pribadi — Ia hanya menyatakan diri secara berbeda tergantung konteks karya-Nya dalam sejarah keselamatan. Doa Yesus kepada "Bapa" (misalnya di Getsemani, Mat 26:39) dalam kerangka ini dipahami bukan sebagai percakapan antar-pribadi ilahi, melainkan sebagai ekspresi otentik dari kemanusiaan Yesus yang telah membatasi diri lewat kenosis — sisi manusiawi-Nya yang bergumul dan berseru kepada Allah, sementara sisi ilahi-Nya adalah Allah itu sendiri.

5. Implikasi Kristologis: Salib dan Kebangkitan sebagai Karya Allah Sendiri

Konsekuensi penting dari kerangka ini adalah pada pemahaman salib. Jika Yesus adalah Allah yang esa itu sendiri dalam kondisi kenosis, maka salib bukanlah peristiwa "Anak dihukum oleh Bapa" (yang dalam sebagian penjelasan Tritunggal populer bisa terdengar seolah dua pribadi berbeda saling berhadapan), melainkan Allah sendiri yang menanggung akibat dosa manusia dalam Diri-Nya sendiri. Ini justru memperkuat kedalaman kasih Allah: bukan Allah mengirim pihak lain untuk menderita, tetapi Allah sendiri yang turun, mengosongkan diri, dan menanggung penderitaan itu secara langsung.

Kebangkitan kemudian dipahami sebagai Allah yang sama itu mengambil kembali kepenuhan yang telah dikosongkan-Nya — bukan kenaikan pribadi kedua kembali kepada pribadi pertama, melainkan pemulihan penuh dari pembatasan diri yang sukarela.

6. Kritik dan Keseimbangan yang Perlu Diakui

Kejujuran akademis menuntut pengakuan bahwa pendekatan ini bukan tanpa tantangan, dan secara historis gereja arus utama (Nicea-Konstantinopel-Kalsedon) menolaknya dengan alasan yang cukup serius:

  1. Relasi personal Bapa-Anak dalam teks Injil. Banyak bagian Injil, terutama Injil Yohanes, menggambarkan relasi timbal balik yang tampak personal dan berkelanjutan antara Yesus dan Bapa — kasih yang saling diberikan (Yoh 17:24), pengutusan (Yoh 5:36-37), kemuliaan yang saling diberikan sejak sebelum dunia dijadikan (Yoh 17:5). Teolog Tritunggal berargumen bahwa bahasa ini sulit direduksi menjadi sekadar "mode" dari satu pribadi yang sama.

  2. Siapa yang berdoa kepada siapa? Jika hanya ada satu pribadi ilahi, muncul pertanyaan teknis: kepada siapa sebenarnya Yesus berdoa di Getsemani, jika bukan kepada pribadi lain? Penjelasan modalis biasanya menjawab ini dengan membedakan sisi ilahi dan sisi manusiawi Yesus secara tajam — namun pembedaan ini sendiri berisiko mendekati ajaran lain yang juga ditolak gereja mula-mula (Nestorianisme, yang justru membelah Kristus menjadi dua pribadi terpisah).

  3. Status historis. Sabellianisme/modalisme dinyatakan sesat oleh konsili-konsili awal gereja (khususnya ditolak keras oleh Tertulianus dalam Adversus Praxean, awal abad ke-3) justru karena dianggap mengaburkan keberbedaan riil antara Bapa dan Anak yang tersirat dalam narasi Injil.

  4. Oneness Pentecostalism modern tetap menjadi gerakan minoritas yang dipandang di luar ortodoksi arus utama oleh sebagian besar denominasi Kristen historis (Katolik, Ortodoks, Protestan mainstream), meski tetap mempertahankan pengakuan penuh akan keilahian Kristus dan otoritas Alkitab.

Penutup

Kerangka monoteisme-kenosis ini menawarkan jalan untuk mempertahankan keesaan Allah yang ketat sekaligus mengakui kepenuhan kehadiran-Nya dalam Yesus Kristus — tanpa mewajibkan struktur tiga-pribadi yang baru dirumuskan formal berabad-abad setelah zaman para rasul. Argumennya bertumpu pada satu gerakan sentral: Allah yang esa, karena kasih-Nya kepada manusia, mengosongkan diri-Nya sendiri (kenosis) untuk hadir secara langsung, personal, dan menebus di dalam diri Yesus dari Nazaret — menanggung sendiri penderitaan dan kematian, lalu memulihkan kepenuhan diri-Nya dalam kebangkitan, dan melanjutkan kehadiran-Nya yang sama lewat Roh.

Pendekatan ini punya akar historis (identitas ilahi ala Bauckham, modalisme kuno, kristologi kenotik abad ke-19–20) namun tetap perlu ditempatkan secara jujur di samping keberatan-keberatan serius yang membuat gereja arus utama akhirnya memilih jalan Tritunggal. Pembaca yang ingin mendalami lebih jauh dapat menelusuri perdebatan Tertulianus versus Praxeas sebagai titik awal historis ketegangan ini

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Monotheisme Yesus

Ringkasan Eksekutif Yesus Kristus secara eksplisit menegaskan keesaan Allah yang tunggal. Contohnya, Yesus mengutip Syahadat “Dengarlah, hai Israel: TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4) dal

 
 
 

Komentar


bottom of page