top of page

KETIKA YESUS BERBICARA TENTANG DIRINYA SENDIRI

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 



Menelusuri Jejak Keilahian dari Mulut-Nya Sendiri

Ada banyak orang yang berbicara tentang siapa Yesus itu. Murid-murid-Nya memuji-Nya. Orang banyak mengaguminya. Bahkan musuh-musuh-Nya punya pendapat sendiri tentang-Nya. Tapi ada satu pertanyaan yang lebih menarik: apa kata Yesus sendiri tentang diri-Nya?

Pertanyaan ini penting, sebab ada perbedaan besar antara "kata orang tentang aku" dan "kata aku tentang diriku sendiri". Kalau seseorang mengaku dirinya raja, itu klaim yang jauh lebih berat daripada kalau orang lain menyebutnya raja. Nah, dalam catatan Injil, ternyata Yesus sendiri—bukan murid-Nya, bukan penulis Injil, bukan orang banyak—mengucapkan sejumlah kalimat tentang diri-Nya yang begitu berani sehingga para pendengar-Nya langsung bereaksi keras. Mari kita telusuri satu per satu.

"Sebelum Abraham Ada, Aku Ada"

Salah satu ucapan paling mengejutkan dari Yesus tercatat dalam Injil Yohanes pasal 8. Di tengah perdebatan dengan para pemimpin agama, Yesus berkata, "Sesungguhnya, sebelum Abraham jadi, Aku ada."

Kalimat ini aneh kalau dibaca sepintas. Kalau Yesus hanya mau bilang "aku sudah ada sebelum Abraham lahir", secara tata bahasa Dia semestinya memakai bentuk lampau. Tapi Dia tidak berkata "aku telah ada"—Dia berkata "Aku ada", memakai kata kerja yang menunjuk pada masa kini, seolah keberadaan-Nya tidak terikat pada urutan waktu sama sekali.

Ucapan "Aku ada" ini bukan kalimat sembarangan bagi telinga orang Yahudi zaman itu. Ribuan tahun sebelumnya, ketika Musa bertanya kepada Allah siapa nama-Nya, jawaban yang diterima adalah "Aku adalah Aku"—sebuah nama yang menjadi identitas paling khas dari Allah Israel sendiri. Ketika Yesus memakai ungkapan yang sama persis untuk diri-Nya, para pendengar-Nya langsung mengambil batu untuk melemparinya. Dalam budaya mereka, itu adalah reaksi terhadap penghujatan—tanda bahwa mereka memahami perkataan Yesus bukan sekadar sebagai klaim usia atau senioritas, melainkan sebagai klaim atas nama Allah sendiri.

Menariknya, bukan semua ahli sepakat seratus persen tentang makna ucapan ini. Ada yang membacanya lebih hati-hati, sebagai Yesus yang berbicara atas nama Allah seperti seorang utusan resmi, bukan mengklaim diri-Nya sendiri adalah Allah. Namun pandangan yang lebih banyak dipegang oleh para ahli Alkitab justru sebaliknya: kontras yang sengaja dibuat Yesus—antara kata "menjadi" (dipakai untuk Abraham, makhluk ciptaan) dan kata "ada" (dipakai untuk diri-Nya sendiri)—menunjukkan klaim akan eksistensi yang tidak berawal dan tidak berbatas.

Ucapan serupa muncul lagi di kemudian hari, saat Yesus ditangkap di Taman Getsemani. Ketika para prajurit datang mencari-Nya dan Dia menjawab "Akulah Dia", mereka justru mundur dan jatuh ke tanah. Sebuah detail kecil yang oleh banyak pembaca dirasakan sebagai gema kekuatan ilahi yang tersembunyi di balik kelembutan-Nya.

"Aku dan Bapa Adalah Satu"

Di lain kesempatan, di serambi Bait Allah, Yesus mengucapkan kalimat yang tak kalah berani: "Aku dan Bapa adalah satu."

Reaksi pendengar-Nya sama seperti sebelumnya—mereka kembali mengambil batu. Dan kali ini mereka bahkan mengucapkan alasannya secara terang-terangan: "Karena Engkau, sebagai manusia, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Yang menarik, Yesus tidak membela diri dengan bilang "kalian salah paham, maksud-Ku bukan begitu." Sebaliknya, Dia justru mempertegas klaim itu dengan argumen tambahan dari Kitab Suci, lalu menutupnya dengan menegaskan sekali lagi hubungan yang begitu erat antara diri-Nya dan Bapa, sampai-sampai Dia menyebutnya sebagai berada "di dalam" satu sama lain.

Memang ada juga pembacaan lain, terutama dari kalangan yang tidak menerima ajaran Trinitas, yang memahami "satu" di sini sekadar sebagai kesatuan tujuan atau kehendak, bukan kesatuan hakikat. Tapi apa pun tafsirnya, satu hal yang tidak bisa dibantah: Yesus sendiri, saat dituduh menghujat karena menyamakan diri-Nya dengan Allah, tidak pernah menarik kembali ucapan-Nya.

Doa yang Membuka Rahasia Batin-Nya

Salah satu bukti paling menyentuh justru bukan muncul dari perdebatan, melainkan dari doa. Menjelang penderitaan-Nya, dalam doa yang dikenal sebagai Doa Imam Besar, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, "Permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."

Ini bukan pernyataan yang dilontarkan untuk menantang lawan bicara. Ini adalah isi hati Yesus sendiri, diucapkan bukan di depan orang banyak yang mendebat-Nya, melainkan di hadapan Bapa-Nya. Justru karena itu, ucapan ini punya nilai kesaksian tersendiri—ia bukan pernyataan strategis dalam sebuah perdebatan, melainkan luapan hati yang jujur.

Yesus mengatakan bahwa Dia "memiliki" kemuliaan itu sejak sebelum dunia dijadikan—bukan sekadar direncanakan akan menerimanya kelak, tetapi benar-benar telah memilikinya. Dalam pemahaman Perjanjian Lama, kemuliaan semacam ini—kemuliaan yang tampak nyata dari kehadiran Allah—adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri, sesuatu yang menurut firman-Nya sendiri tidak akan diberikan kepada siapa pun yang lain.

Kuasa yang Hanya Dimiliki Allah

Selain ucapan-ucapan langsung tentang jati diri-Nya, Yesus juga berulang kali mengklaim untuk diri-Nya sendiri sejumlah kewenangan yang, menurut keyakinan orang Yahudi waktu itu, hanya boleh dimiliki Allah:

Pertama, kuasa mengampuni dosa. Ketika Yesus berkata kepada seorang yang lumpuh, "dosamu sudah diampuni," para ahli Taurat yang hadir langsung bereaksi—bagi mereka, hanya Allah yang berhak mengampuni dosa. Yesus tidak membantah premis mereka. Sebaliknya, Dia justru membuktikan otoritas itu lewat mukjizat penyembuhan.

Kedua, kedudukan sebagai tuan atas hari Sabat. Sabat adalah hari yang ditetapkan langsung oleh Allah sejak penciptaan, namun Yesus menyebut diri-Nya sebagai yang berkuasa atasnya.

Ketiga, peran sebagai hakim di akhir zaman. Yesus berbicara tentang diri-Nya yang kelak akan duduk di atas takhta kemuliaan dan menghakimi segala bangsa—sebuah peran yang dalam Perjanjian Lama hanya disematkan kepada Allah sendiri.

Keempat, klaim telah turun dari surga. Yesus berkata bahwa tidak ada seorang pun yang pernah naik ke surga selain Dia yang telah turun dari surga—sebuah pernyataan yang menggemakan penglihatan kuno tentang sosok agung yang menerima kuasa dan kemuliaan kekal.

Kelima, kesatuan penglihatan dengan Bapa. "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa," kata-Nya kepada murid-murid-Nya—seolah melihat diri-Nya sama saja dengan melihat Allah sendiri.

Bagaimana dengan Seruan Tomas?

Banyak orang mengenal ayat terkenal ketika murid Tomas berseru kepada Yesus yang bangkit, "Ya Tuhanku dan Allahku!" Tapi perlu dicatat: ucapan ini bukan keluar dari mulut Yesus tentang diri-Nya sendiri, melainkan pengakuan seorang murid. Karena itu, secara metodologis, ayat ini sebenarnya berbeda kategori dari ucapan-ucapan Yesus yang sudah kita bahas di atas.

Meski begitu, ayat ini tetap sangat relevan, dan karena dua alasan. Pertama, ucapan Tomas ini diarahkan langsung kepada Yesus, bukan seruan spontan yang ditujukan kepada Allah di kejauhan. Kedua—dan ini yang lebih penting—Yesus sendiri tidak menegur atau mengoreksi Tomas atas kesalahan teologis, sebagaimana biasanya dilakukan oleh malaikat atau rasul lain ketika ada orang yang keliru menyembah mereka. Sebaliknya, Yesus justru berkata, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Diamnya Yesus di sini, dipadukan dengan pujian-Nya atas iman Tomas, oleh banyak pembaca dipahami sebagai bentuk penerimaan diam-diam—bukan kesaksian Yesus tentang diri-Nya sendiri, tetapi tanda bahwa Dia tidak menolak pengakuan itu.

Ada pula sebagian penafsir yang membaca ucapan Tomas sebagai dua sapaan terpisah: "Tuhanku" untuk Yesus dan "Allahku" untuk Bapa yang membangkitkan-Nya. Tapi bila dibandingkan dengan ungkapan serupa dalam Kitab Mazmur yang biasa dipakai sebagai sapaan langsung kepada Allah, dan dengan memperhatikan bahwa ucapan itu memang ditujukan langsung "kepada-Nya", kebanyakan pembaca memahaminya sebagai satu sapaan utuh yang ditujukan kepada Yesus sendiri.

Bukan Muncul dari Ruang Hampa

Klaim-klaim semacam ini tidak muncul begitu saja tanpa konteks. Dunia Yahudi pada zaman Yesus sebenarnya sudah mengenal gagasan-gagasan tentang sosok-sosok agung yang begitu dekat dengan Allah—duduk di takhta bersama-Nya, menerima kuasa dan kemuliaan yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, keyakinan Yahudi menjaga dengan sangat ketat batas antara Allah dan segala yang lain, sehingga tidak sembarang sosok bisa "dimasukkan" begitu saja ke dalam identitas Allah yang unik itu.

Dua ciri yang biasanya dipakai untuk mengenali "identitas ilahi" dalam kerangka berpikir itu adalah: berperan sebagai pencipta segala sesuatu, dan berkuasa penuh atas segala sesuatu. Dan menariknya, dua ciri inilah yang justru dilekatkan Injil Yohanes secara langsung kepada Yesus.

Tentu saja, sampai hari ini para ahli masih berdebat tentang bagaimana persisnya klaim-klaim Yesus ini harus dipahami dalam kerangka kepercayaan Yahudi yang begitu ketat menjaga keesaan Allah. Ini bukan pertanyaan yang sudah selesai dijawab secara tuntas dan disepakati semua orang—dan kejujuran semacam ini justru penting untuk dipertahankan ketika kita membahas topik seberat ini.

Menyimpulkan: Apa yang Bisa Kita Petik?

Kalau kita kumpulkan semua kesaksian di atas—ucapan "Aku ada" yang menggemakan nama Allah sendiri, klaim kesatuan dengan Bapa, doa yang membuka kemuliaan-Nya sebelum dunia ada, serta klaim atas kuasa-kuasa yang khusus milik Allah—kita mendapati sebuah pola yang konsisten: berulang kali, dari mulut-Nya sendiri, Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi yang begitu dekat, bahkan menyatu, dengan Allah Israel.

Memang benar, Yesus dalam catatan Injil tidak pernah memakai istilah-istilah filsafat yang baru dirumuskan berabad-abad kemudian oleh para bapa gereja untuk menjelaskan hubungan-Nya dengan Bapa secara teknis. Tapi rumusan-rumusan teologis yang datang belakangan itu sesungguhnya bukan menciptakan sesuatu yang baru—mereka mencoba merumuskan secara lebih rapi apa yang sudah lebih dulu tersirat dalam ucapan-ucapan Yesus sendiri.

Dan soal pengakuan Tomas yang begitu terkenal itu? Meski sering dikutip sebagai puncak pengakuan akan keilahian Yesus, sebenarnya ia berada dalam kategori yang berbeda—ia adalah pengakuan seorang murid yang diterima secara diam-diam oleh Yesus, bukan pernyataan Yesus tentang diri-Nya sendiri. Justru itulah yang membuat ucapan-ucapan Yesus sendiri, yang sudah kita telusuri satu per satu di atas, menjadi begitu penting untuk didengarkan langsung—tanpa perantara siapa pun.

Manusia sebagai fungsi kerajaan-Nya. Ini konsisten dengan Sinoptik: Matius 25:31-46 menampilkan Anak Manusia yang datang dalam kemuliaan-Nya, duduk di takhta kemuliaan-Nya, memisahkan bangsa-bangsa seperti gembala memisahkan domba dari kambing — gambaran penghakiman universal-eskatologis yang eksplisit.

Jadi tidak ada kontradiksi: Yesus datang pertama kali sebagai penyelamat, bukan hakim yang menghukum segera; tetapi Ia adalah agen penghakiman final karena identitas-Nya sebagai Anak Manusia dari Daniel 7.

5. "Kerajaan-Ku Bukan dari Dunia Ini"

Yohanes 18:36-37 adalah bagian dari dialog Yesus dengan Pilatus. Konteksnya krusial: Pilatus bertanya "Engkaukah raja orang Yahudi?" Yesus menjawab, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini (ἡ βασιλεία ἡ ἐμὴ οὐκ ἔστιν ἐκ τοῦ κόσμου τούτου); jika kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan... tetapi kerajaan-Ku bukan dari sini."

Frasa "ἐκ τοῦ κόσμου" (dari dunia) menunjukkan asal-usul/sumber, bukan lokasi atau ruang lingkup operasional. Yesus tidak mengatakan kerajaan-Nya tidak berdampak di dunia — Ia justru menegaskan berikutnya (18:37): "Untuk inilah Aku lahir dan untuk inilah Aku datang ke dalam dunia, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran." Kerajaan-Nya beroperasi di dunia, tetapi asal-usulnya bukan dari struktur kekuasaan duniawi (karena itu tidak dipertahankan lewat kekerasan militer, sebagaimana ditunjukkan dengan penegasan hamba-hamba-Nya tidak melawan). Ini paralel dengan tema kerajaan Sinoptik: "Kerajaan Allah tidak datang dengan tanda-tanda lahiriah... sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu" (Luk 17:20-21), dan pengajaran Yesus yang menolak model mesianik politik-militeristik (bdk. penolakan Yesus untuk dijadikan raja secara paksa setelah pemberian makan 5000 orang, Yoh 6:15 — teks ini penting karena langsung mendahului wacana Roti Hidup).

6. Anak Manusia yang Turun dan Naik — Pra-eksistensi

Yohanes 3:13: "Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia." Dan Yohanes 6:62: "Bagaimana jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat Ia berada semula?"

Dua ayat ini menyatakan secara eksplisit bahwa Anak Manusia memiliki eksistensi pra-inkarnasi di sorga (καταβαίνω/turun mengandaikan titik keberangkatan sebelum kedatangan ke dunia), dan bahwa kenaikan-Nya (ascensio) sebenarnya adalah kembali ke tempat asal — bukan promosi ke status baru, melainkan pemulihan kemuliaan yang sudah dimiliki-Nya sebelumnya (bdk. Yoh 17:5, "muliakanlah Aku... dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada").

Ini menyatukan gelar "Anak Manusia" — yang dalam Daniel 7:13-14 sudah bersifat figur sorgawi yang "datang dengan awan-awan dari langit" dan diberi kekuasaan kekal — dengan Kristologi pra-eksistensi Logos dari prolog Yohanes 1:1-3. Titik pentingnya: dalam Yohanes, gelar "Anak Manusia" tidak semata istilah kerendahan/kemanusiaan (sebagaimana kadang ditafsirkan dalam Sinoptik berdasar Mrk 8:31 tentang penderitaan), melainkan justru gelar untuk figur pra-eksisten dan eskatologis-mulia — penghubung antara sorga dan bumi (bdk. Yoh 1:51, alusi ke tangga Yakub, "malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia").

7. Sintesis Lintas Injil Kanonik

Menyatukan seluruh keempat Injil:

  • Markus menekankan Anak Manusia dalam kerangka penderitaan-kebangkitan (Mrk 8:31; 10:45) dan kedatangan eskatologis dengan kuasa (Mrk 13:26; 14:62 — di sidang Sanhedrin, jawaban Yesus menggabungkan Dan 7:13 dan Mzm 110:1, klaim yang dianggap blasfemi).

  • Matius menambahkan penekanan pada Anak Manusia sebagai hakim eskatologis-kerajaan (Mat 25:31-46) dan Yesus sebagai Musa/Hikmat baru yang memenuhi Taurat, sejalan dengan kutipan Ul 8:3 dalam narasi pencobaan.

  • Lukas menegaskan sifat non-politis kerajaan Allah (Luk 17:20-21; 19:11 dst) dan universalitas keselamatan.

  • Yohanes menyatukan semuanya lewat kategori metafisis eksplisit: Logos pra-eksisten (1:1-18), ego eimi yang menggemakan ani hu Yesaya (6:35; 8:58; 18:5-6), Anak Manusia sorgawi yang turun-naik (3:13; 6:62), pemegang otoritas menghakimi karena identitas Anak Manusia itu (5:27, mengacu Dan 7), namun kerajaan yang asal-usulnya bukan dari struktur dunia (18:36).

Kesatuan tematik seluruh kanon: figur Yesus digambarkan sebagai Pribadi pra-ada dari sorga (Logos/Anak Manusia) yang turun untuk memberi hidup (roti/firman), yang klaim identitas-Nya menggemakan formula pewahyuan diri YHWH sendiri (ego eimi/ani hu), yang kelak akan kembali sebagai hakim eskatologis (sesuai Dan 7 dan tradisi Anak Manusia), tetapi yang kerajaan-Nya pada kedatangan pertama tidak beroperasi menurut logika kekuasaan politik dunia ini.

 

 

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Monotheisme Yesus

Ringkasan Eksekutif Yesus Kristus secara eksplisit menegaskan keesaan Allah yang tunggal. Contohnya, Yesus mengutip Syahadat “Dengarlah, hai Israel: TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4) dal

 
 
 

Komentar


bottom of page