top of page

Ἐγώ εἰμι, YHWH, dan Pra-eksistensi Kristus: Kajian Eksegetis, Historis, dan Mistikal Yahudi

26 Sep
23 menit membaca

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

Ringkasan eksekutif

Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa frasa Yunani ἐγώ εἰμι (egō eimi, “aku adalah/akulah”) tidak, sebagai konstruksi gramatikal belaka, merupakan nama ilahi dan tidak selalu menunjuk kepada Yesus. Dalam teks kritis Perjanjian Baru yang dipakai di sini, SBLGNT, rangkaian persis ἐγώ εἰμι muncul 47 kali: 5 kali dalam Matius, 3 dalam Markus, 4 dalam Lukas, 24 dalam Yohanes, 7 dalam Kisah Para Rasul, dan 4 dalam Wahyu. Pembicaranya dapat berupa Allah, Yesus, Gabriel, Petrus, Paulus, murid-murid, Yudas, orang yang dahulu buta, bahkan penipu mesianik. Lukas 1:19, misalnya, mempunyai Gabriel berkata Ἐγώ εἰμι Γαβριήλ (“Akulah Gabriel”); Yohanes 9:9 mempunyai orang yang disembuhkan berkata Ἐγώ εἰμι (“Akulah dia”); dan Kisah 10:21 mempunyai Petrus berkata hal yang secara gramatikal sama. Itu dengan sendirinya membatalkan argumen bahwa dua kata tersebut merupakan semacam “kode nama YHWH”.

Namun kesimpulan sebaliknya—bahwa egō eimi Yohanes sama sekali tidak memiliki bobot teologis—juga tidak memadai. Makna teologis muncul dari kombinasi konstruksi, konteks naratif, predikat, interteks Kitab Suci, dan identitas pembicara. Dalam Yohanes 8:24, 8:28, dan 13:19, formula tanpa predikat sangat dekat secara verbal dan fungsional dengan Yesaya 43:10 LXX: Israel diminta “mengetahui dan percaya … bahwa ἐγώ εἰμι”; dalam Yohanes, pendengar harus “percaya” atau kelak “mengetahui … bahwa ἐγώ εἰμι”. Karena itu, latar Yesaya 40–55—khususnya formula Ibrani אֲנִי הוּא (ʾănî hûʾ, “Akulah Dia”)—secara akademis merupakan jembatan yang lebih kuat menuju self-identification YHWH daripada menyamakan langsung setiap egō eimi dengan Keluaran 3:14. Catrin H. Williams, Philip Harner, dan David Ball, dengan nuansa berbeda, menjadi tokoh penting dalam garis penafsiran ini. [1]

Keluaran 3:14 sendiri harus dibaca dengan presisi. Ibrani berbunyi אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה (ʾehyeh ʾăšer ʾehyeh); LXX menerjemahkan Ἐγώ εἰμι ὁ ὤν—secara harfiah, “Aku adalah Yang Ada/Yang Berada”—dan kemudian Ὁ ὢν ἀπέσταλκέν με, “Yang Ada telah mengutus aku.” Jadi dalam LXX, unsur yang secara eksplisit dipakai sebagai sebutan dalam kalimat berikutnya adalah ὁ ὤν, bukan dua kata egō eimi secara terisolasi. Tradisi Yahudi juga sering memahami Ehyeh secara dinamis: “Aku akan ada/akan menyertai”, selaras dengan janji Keluaran 3:12, bukan semata-mata sebagai definisi metafisik abstrak tentang “self-existence”. [2]

Yohanes 8:58 tetap luar biasa: πρὶν Ἀβραὰμ γενέσθαι ἐγώ εἰμι, “sebelum Abraham menjadi/terlahir, Aku adalah.” Pernyataan ini sekurang-kurangnya menempatkan “Aku” sang pembicara secara literer sebelum Abraham; apakah bentuk kini eimi dimaksudkan sebagai eksistensi kekal, keberadaan yang berlanjut dari masa lampau, atau sekaligus gema formula ilahi adalah soal yang diperdebatkan. Yohanes Krisostomus membacanya sebagai keberadaan yang melampaui waktu; Kenneth L. McKay jauh lebih berhati-hati secara gramatikal dan menolak anggapan bahwa Keluaran 3:14 harus menjadi referensi langsung. Karena itu, argumen terbaik untuk pra-eksistensi personal bukan satu kata kerja dalam Yohanes 8:58 saja, melainkan akumulasi Yohanes 1:1–3, 6:38, 6:62, 8:42, 8:58, 16:28, 17:5, dan 17:24. [3]

Tradisi mistik Yahudi memberi analogi penting tetapi bukan kunci rahasia untuk menafsirkan bahasa Yunani Yohanes. Hekhalot/3 Enoch mengenal Metatron sebagai pembawa nama ilahi dan bahkan tradisi “YHWH yang lebih kecil”, sementara polemik rabinik tentang “dua kuasa di surga” menunjukkan betapa sensitifnya batas antara wakil surgawi dan Allah yang esa. Kabbalah kemudian mengembangkan relasi antara nama YHWH dan Ehyeh sebagai bagian dari struktur teosofis ketuhanan; Hasidisme, misalnya Likkutei Moharan, menghubungkan Ehyeh dengan Keter dan dengan keberadaan yang sedang menjadi dalam pertobatan. Tetapi tidak ada dasar historis yang kuat untuk mengatakan bahwa Kabbalah, Hekhalot, atau Hasidisme mengenal ἐγώ εἰμι Yunani sebagai formula teknis yang otomatis berarti “Aku adalah YHWH”. [4]

Terakhir, teori bahwa pra-eksistensi Kristus hanyalah “ide tentang Kristus dalam pikiran Allah” mempunyai preseden konseptual dalam cara Yahudi berbicara mengenai sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya; jadi model itu tidak boleh ditolak dengan slogan. Tetapi sebagai pembacaan keseluruhan Yohanes ia menghadapi persoalan serius: sebuah ide tidak secara literal memiliki kemuliaan “bersama” Allah, datang dari Allah, turun dari surga, diutus, berbicara sebagai “Aku”, lalu kembali ke tempat asalnya. Untuk mempertahankan model pra-eksistensi ideal saja, hampir seluruh bahasa agen dan relasi pra-dunia itu harus dipahami secara proleptik atau metaforis. Simon Gathercole secara eksplisit membela pra-eksistensi Putra sebagai real/personal, bukan sekadar ideal; Richard Bauckham, dari arah berbeda, berargumen bahwa pengikut Yesus dapat menempatkannya di dalam pola identitas dan prerogatif ilahi sambil tetap bermaksud mempertahankan monoteisme Yahudi. [5]

Peta tekstual Perjanjian Baru dan masalah gramatikal

Apa sebenarnya yang dihitung?

Ada dua persoalan yang sering tercampur.

Pertama, ἐγώ adalah kata ganti orang pertama tunggal, sedangkan εἰμι sudah berarti “aku adalah”. Karena subjek sudah terkandung dalam verba, penambahan egō sering memberi penekanan—“aku adalah”—tetapi penekanan itu sendiri tidak bersifat ilahi. Kedua, eimi dapat dipakai dengan predikat eksplisit (“Aku adalah roti”), predikat yang dipahami dari konteks (“Akulah [orang yang kamu cari]”), atau secara “absolut”, yakni tanpa predikat yang secara sintaktis dinyatakan. Kategori terakhir justru membutuhkan konteks paling banyak, bukan paling sedikit.

Sensus berikut memakai kriteria yang dapat direplikasi: rangkaian persis ἐγώ εἰμι dalam SBLGNT, termasuk kapitalisasi awal kalimat, kemudian membedakan penggunaan absolut dan berpredikat. Konstruksi seperti Lukas 1:18 ἐγὼ γάρ εἰμι πρεσβύτης (“sebab aku adalah seorang tua”), Yohanes 3:28 οὐκ εἰμὶ ἐγὼ ὁ χριστός (“bukan aku Sang Kristus”), atau Kisah 10:26 καὶ ἐγὼ αὐτὸς ἄνθρωπός εἰμι tidak dihitung dalam angka 47 karena kata-katanya tidak berurutan, tetapi konstruksi semacam itu merupakan kontrol linguistik penting: egō + eimi adalah Yunani biasa yang dapat dipakai manusia dan malaikat.

Sensus dan klasifikasi seluruh rangkaian persis egō eimi

Teks dan pembicara

Yunani inti; terjemahan harfiah

Konteks langsung

Penilaian hubungan dengan YHWH

Mat 14:27 — Yesus

ἐγώ εἰμι; “akulah/aku ini”

Berjalan di laut, “jangan takut”

Mungkin kuat secara teofanik, tetapi tidak karena dua kata itu sendiri. Laut, rasa takut, dan kehadiran penyelamat memberi resonansi ilahi.

Mat 22:32 — Allah dalam kutipan

Ἐγώ εἰμι ὁ θεὸς Ἀβραάμ…; “Aku adalah Allah Abraham…”

Yesus mengutip Kel 3:6

Ya, pembicaranya YHWH, tetapi ini bukan Yesus yang sedang berkata “Aku adalah Allah Abraham”. Sangat penting bagi pertanyaan referen.

Mat 24:5 — penipu mesianik

Ἐγώ εἰμι ὁ χριστός; “Akulah Mesias”

Peringatan tentang penyesat

Tidak; predikat eksplisit adalah “Mesias”, dan klaimnya palsu.

Mat 26:22, 25 — para murid/Yudas

Μήτι ἐγώ εἰμι…?; “Bukan aku, bukan?”

Pertanyaan siapa pengkhianat

Tidak; bahasa identifikasi manusia biasa.

Mrk 6:50 — Yesus

Θαρσεῖτε, ἐγώ εἰμι, μὴ φοβεῖσθε; “Beranilah, akulah; jangan takut”

Berjalan di laut; Markus juga mengatakan ia hendak “melewati” mereka

Mungkin kuat secara teofanik; keseluruhan adegan lebih penting daripada frase semata.

Mrk 13:6 — penipu

Ἐγώ εἰμι; “Akulah [dia]”

Orang datang “dalam nama-Ku”

Tidak secara inheren; identitas mesianik tersirat dan palsu.

Mrk 14:62 — Yesus

Ἐγώ εἰμι; “Akulah [dia]”

Jawaban atas “Engkaukah Mesias, Anak Yang Terpuji?”

Secara sintaktis jawaban afirmatif dengan predikat dari pertanyaan. Bobot teologis terutama datang dari Dan 7:13 + Mzm 110:1 yang segera mengikuti, bukan dari egō eimi sendirian.

Luk 1:19 — Gabriel

Ἐγώ εἰμι Γαβριήλ; “Akulah Gabriel”

Malaikat memperkenalkan diri

Tidak; salah satu kontrol paling jelas bahwa frasa itu bukan nama ilahi.

Luk 21:8 — penipu

Ἐγώ εἰμι; “Akulah [dia]”

Penyesat eskatologis

Tidak; klaim identitas palsu.

Luk 22:70 — Yesus

Ὑμεῖς λέγετε ὅτι ἐγώ εἰμι; “Kalian mengatakan bahwa Akulah [itu]”

Jawaban atas “Engkaukah Anak Allah?”

Tidak dapat dibuktikan sebagai nama YHWH dari frase saja; signifikansi datang dari konteks Anak Manusia di sisi “Kuasa”.

Luk 24:39 — Yesus

ἐγώ εἰμι αὐτός; “Aku sendiri ini”

Identifikasi tubuh kebangkitan

Tidak; fungsi utama adalah kontinuitas identitas tubuh, bukan nama ilahi.

Yoh 4:26 — Yesus

Ἐγώ εἰμι, ὁ λαλῶν σοι; “Akulah [dia], yang sedang berbicara denganmu”

Perempuan menyebut Mesias

Pada tingkat pertama: identifikasi Mesias. Pada tingkat intertekstual mungkin ada gema Yes 52:6 LXX, ἐγώ εἰμι αὐτὸς ὁ λαλῶν. [1]

Yoh 6:20 — Yesus

ἐγώ εἰμι· μὴ φοβεῖσθε; “Akulah; jangan takut”

Berjalan di laut

Makna ganda sangat masuk akal: “ini Aku” secara naratif + resonansi epifanik. Harner/Ball/Brown adalah wakil pembacaan semacam ini. [1]

Yoh 6:35, 41, 48, 51 — Yesus/ucapan Yesus dikutip

ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος…; “Akulah roti…”

Roti kehidupan, manna, turun dari surga

Predikatif, bukan formula nama. Tetapi metafora itu berkaitan dengan pemberian hidup dan asal surgawi.

Yoh 8:12 — Yesus

ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου; “Akulah terang dunia”

Perdebatan di Yerusalem

Predikatif; simbolisme ilahi/Yesaya mungkin, tetapi bukan pembuktian lewat tata bahasa saja. [1]

Yoh 8:18 — Yesus

ἐγώ εἰμι ὁ μαρτυρῶν…; “Akulah yang bersaksi…”

Dua saksi: Yesus dan Bapa

Predikat partisipial; bukan formula nama, meski hubungan kesaksian dengan Pengutus sangat teologis.

Yoh 8:24 — Yesus

πιστεύσητε ὅτι ἐγώ εἰμι; “percaya bahwa Akulah [Dia]”

Mati “dalam dosa-dosamu” jika tidak percaya

Sangat kuat sebagai gema Yes 43:10 LXX, terutama kombinasi percaya + hoti egō eimi. [1]

Yoh 8:28 — Yesus

τότε γνώσεσθε ὅτι ἐγώ εἰμι; “maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah [Dia]”

Pengangkatan Anak Manusia

Sangat kuat terhadap Yes 43:10 karena mengetahui + hoti egō eimi. Namun ayat yang sama menekankan ketergantungan misi pada Bapa.

Yoh 8:58 — Yesus

πρὶν Ἀβραὰμ γενέσθαι ἐγώ εἰμι; “sebelum Abraham menjadi, Aku adalah”

Kontroversi Abraham dan asal-usul Yesus

Klaim pra-Abraham sangat kuat; kemungkinan gema ani hu/Yesaya juga kuat. Hubungan langsung dan eksklusif dengan Kel 3:14 tetap diperdebatkan. [6]

Yoh 9:9 — orang yang dahulu buta

Ἐγώ εἰμι; “Akulah dia”

Tetangga bertanya apakah ia orang yang sama

Tidak sama sekali; bukti internal Yohanes bahwa formula dapat menjadi identifikasi manusia biasa.

Yoh 10:7, 9 — Yesus

ἐγώ εἰμι ἡ θύρα; “Akulah pintu”

Kawanan domba

Predikatif dan metaforis; bukan nama YHWH.

Yoh 10:11, 14 — Yesus

ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός; “Akulah gembala yang baik”

Gembala menyerahkan hidup bagi domba

Predikatif; tetapi Mzm 23 dan Yeh 34 memberi resonansi kuat dengan YHWH sebagai gembala, bersama tradisi gembala mesianik.

Yoh 11:25 — Yesus

ἐγώ εἰμι ἡ ἀνάστασις καὶ ἡ ζωή; “Akulah kebangkitan dan kehidupan”

Lazarus, kematian dan hidup

Predikatif, tetapi klaim mengenai pemberian hidup memiliki bobot ilahi yang tinggi; bukan karena formula gramatikal semata. [1]

Yoh 13:19 — Yesus

ἵνα… πιστεύσητε… ὅτι ἐγώ εἰμι; “supaya … kamu percaya … bahwa Akulah [Dia]”

Prediksi pengkhianatan sebelum terjadi

Salah satu gema Yes 43:10 terkuat: pengetahuan/prediksi peristiwa dan tujuan “supaya percaya bahwa Aku adalah”. [1]

Yoh 14:6 — Yesus

ἐγώ εἰμι ἡ ὁδὸς καὶ ἡ ἀλήθεια καὶ ἡ ζωή; “Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan”

Jalan kepada Bapa

Predikatif; klaim eksklusivitas mediator dan kehidupan sangat tinggi, tetapi bukan bentuk absolut. [1]

Yoh 15:1, 5 — Yesus

ἐγώ εἰμι ἡ ἄμπελος…; “Akulah pokok anggur…”

Yesus dan murid sebagai pokok/cabang

Predikatif; mengolah citra Israel sebagai kebun/pokok anggur. Bukan nama ilahi secara langsung.

Yoh 18:5, 6, 8 — Yesus

Ἐγώ εἰμι; “Akulah [orangnya]”

Rombongan mencari “Yesus orang Nazaret”; mereka mundur dan jatuh

Tingkat pertama adalah jawaban sempurna terhadap pertanyaan “siapa yang kamu cari?”; jatuhnya rombongan memungkinkan pembacaan epifanik kedua. Bukan bukti bahwa pengucapan dua kata itu secara magis menjatuhkan orang.

Kis 9:5; 22:8; 26:15 — Yesus dalam penampakan

Ἐγώ εἰμι Ἰησοῦς…; “Akulah Yesus…”

Panggilan Paulus

Predikat nama eksplisit. Sangat penting bagi identitas Tuhan yang menampakkan diri, tetapi secara sintaktis identifikasi nama, bukan bentuk absolut.

Kis 10:21 — Petrus

Ἰδοὺ ἐγώ εἰμι ὃν ζητεῖτε; “lihat, akulah yang kamu cari”

Para utusan mencari Petrus

Tidak; kontrol manusia biasa yang sangat dekat dengan Yoh 18:5.

Kis 18:10 — “Tuhan” dalam penglihatan

ἐγώ εἰμι μετὰ σοῦ; “Aku menyertaimu”

Penguatan kepada Paulus

Formula kehadiran perjanjian (“Aku besertamu”) mempunyai gema alkitabiah kuat; konteks Kisah mengaitkan “Tuhan” penglihatan dengan Yesus, tetapi konstruksinya memiliki pelengkap meta sou.

Kis 22:3 — Paulus

Ἐγώ εἰμι ἀνὴρ Ἰουδαῖος; “Aku seorang laki-laki Yahudi”

Pembelaan Paulus

Tidak; penggunaan predikatif biasa.

Kis 26:29 — Paulus

ὁποῖος καὶ ἐγώ εἰμι; “seperti aku ini”

Kepada Agripa

Tidak; kopula biasa.

Why 1:8 — “Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa”

Ἐγώ εἰμι τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ; “Aku adalah Alfa dan Omega”

Identitas Allah

Ya, pembicaranya Allah, dan teks secara eksplisit membedakan Yesus dalam 1:5 dari “Tuhan Allah” 1:8. Jadi egō eimi kanonik jelas tidak selalu menunjuk Yesus.

Why 1:17 — figur Anak Manusia/Kristus

ἐγώ εἰμι ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος; “Akulah yang pertama dan yang terakhir”

Ia “telah mati” dan kini hidup

Sangat kuat: “yang pertama dan terakhir” beresonansi dengan gelar YHWH di Yes 44:6; konteks kematian mengidentifikasi figur ini sebagai Kristus.

Why 2:23 — Anak Allah/Kristus

ἐγώ εἰμι ὁ ἐραυνῶν νεφροὺς καὶ καρδίας; “Akulah yang menyelidiki batin dan hati”

Hakim jemaat

Sangat kuat secara fungsi, berdekatan dengan Yer 17:10 tentang YHWH yang menyelidiki hati dan batin.

Why 22:16 — Yesus

ἐγώ εἰμι ἡ ῥίζα καὶ τὸ γένος Δαυίδ; “Akulah akar dan keturunan Daud”

Penutup kitab; Yesus menyebut diri

Predikatif dan mesianik; bukan formula nama pada dirinya sendiri.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “apakah egō eimi dalam Injil selalu menunjuk kepada pribadi Yesus?” adalah tidak dalam dua pengertian sekaligus. Secara referensial, pembicara lain memakai frasa itu; secara semantik, bahkan ketika Yesus yang mengucapkannya, frase itu dapat berfungsi sebagai jawaban identifikasi biasa, kopula dengan predikat, atau ucapan dengan gema teofanik/ilahi. Tidak ada metode leksikal yang sah yang mengubah setiap dua kata egō eimi menjadi “Aku adalah YHWH”.

Sebaliknya, ini juga menjelaskan mengapa pembuktian hanya dengan menunjuk Yohanes 9:9 lalu berkata “jadi ucapan Yesus tidak istimewa” sama-sama terlalu sederhana. Semantik intertekstual bukan identik dengan semantik kamus. “Aku datang” dapat biasa atau teologis; “gembala” dapat pekerjaan manusia atau gambaran YHWH; demikian pula egō eimi memperoleh bobot khusus ketika ditempatkan dalam pola Yesaya, pra-eksistensi, kuasa atas laut, hidup-mati, pengetahuan nubuat, atau gelar “yang pertama dan yang terakhir”.

Dari Keluaran dan Yesaya menuju Injil: konteks kanonik

Keluaran tidak memberi persamaan sederhana “egō eimi = YHWH”

Teks Ibrani Keluaran 3:14 berbunyi:

אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶהʾEhyeh ʾăšer ʾehyeh

Terjemahan yang mungkin mencakup “Aku adalah yang Aku adalah”, “Aku akan menjadi apa yang Aku akan menjadi”, atau—lebih relasional—“Aku akan hadir sebagaimana Aku akan hadir”. Ambiguitas itu muncul karena אֶהְיֶה (ʾehyeh) adalah bentuk pertama tunggal dari h-y-h, “ada/menjadi”. Konteks sebelumnya juga mempunyai janji אֶהְיֶה עִמָּךְ, “Aku akan menyertai engkau” (Kel 3:12). Tafsir rabinik yang dilestarikan Rashi dan b. Berakhot 9b justru menekankan kehadiran Allah bersama Israel dalam penderitaan sekarang dan yang akan datang, bukan hanya definisi metafisika abstrak. [7]

LXX menerjemahkan:

Ἐγώ εἰμι ὁ ὤν … Ὁ ὢν ἀπέσταλκέν με πρὸς ὑμᾶς.“Aku adalah Yang Ada … Yang Ada telah mengutus aku kepada kamu.”

Perbedaan ini penting. ἐγώ εἰμι adalah kopula + subjek emphatik; ὁ ὤν adalah partisip substantival, “Dia/Yang Ada”. Dalam kalimat pengiriman, LXX tidak mengatakan “Egō eimi telah mengutus aku” tetapi ὁ ὤν. Lalu Keluaran 3:15 memberikan tetragrammaton יהוה, YHWH, sebagai nama yang harus diingat turun-temurun. Karena itu, formula apologetis “Yesus berkata egō eimi, dan LXX menerjemahkan YHWH sebagai egō eimi, maka Yesus secara langsung mengucapkan nama YHWH” terlalu pendek secara filologis. [1]

Yang dapat dipertahankan dengan lebih baik adalah hubungan jaringan wahyu diri ilahi: Ehyeh Keluaran, YHWH di ayat berikutnya, dan kemudian formula ʾani hu dalam Ulangan/Yesaya. Di situlah egō eimi absolut menjadi jauh lebih relevan.

Yesaya merupakan interteks yang lebih dekat

Dalam Ulangan 32:39 dan Yesaya 41–52, YHWH berulang kali memakai Ibrani אֲנִי הוּא (ʾani hu), secara idiomatis “Akulah Dia”. LXX lazim menerjemahkannya dengan ἐγώ εἰμι. Contoh yang paling penting adalah Yesaya 43:10:

“…supaya kamu mengetahui dan percaya dan memahami bahwa ἐγώ εἰμι…”

Survei Catrin Williams tentang ʾani hu dan studi-studi yang mengikutinya menjadikan rangkaian Yes 41:4; 43:10; 46:4; 48:12; 52:6 serta Ul 32:39 sebagai latar utama bagi ucapan absolut Yohanes. Literatur itu juga menunjukkan bahwa hubungan dengan Keluaran 3:14 sebaiknya dipahami dimediasi melalui tradisi self-identification YHWH, bukan sebagai persamaan mekanis dua frasa. [1]

Perbandingan berikut khususnya sulit dianggap kebetulan pada tingkat redaksional:

Yesaya LXX

Yohanes

Hubungan

Yes 43:10: “supaya kamu mengetahui dan percaya … ὅτι ἐγώ εἰμι”

Yoh 8:24: “jika kamu tidak percaya ὅτι ἐγώ εἰμι…”

percaya + hoti egō eimi

Yes 43:10: “supaya kamu mengetahui…”

Yoh 8:28: “maka kamu akan mengetahui ὅτι ἐγώ εἰμι”

mengetahui + hoti egō eimi

YHWH mendemonstrasikan keunikan-Nya melalui apa yang Ia nyatakan sebelumnya

Yoh 13:19: Yesus memberitahukan sebelumnya “supaya ketika itu terjadi kamu percaya ὅτι ἐγώ εἰμι”

pengetahuan masa depan → pengenalan identitas

Kemiripan tersebut menjelaskan mengapa Yohanes 8:24, 8:28, dan 13:19 mempunyai kasus intertekstual yang lebih kokoh daripada argumen sederhana “kata yang sama ada di Keluaran”. [1]

Yohanes 8:58 dan persoalan pra-eksistensi

Yohanes 8:58 mempunyai kontras verbal yang sengaja mencolok:

πρὶν Ἀβραὰμ γενέσθαι | ἐγώ εἰμι“sebelum Abraham menjadi | Aku adalah.”

Genesthai adalah infinitif aoris dari γίνομαι, “menjadi/terjadi”, sedangkan eimi adalah present. Minimal yang dapat dikatakan tanpa memasukkan sistem dogmatis kemudian ialah bahwa narasi menempatkan identitas “Aku” Yesus melampaui batas kelahiran Abraham. Pertanyaan lebih sulit adalah apa tepatnya nilai aspek/waktu eimi: “Aku sekarang ada”, “Aku telah terus ada”, atau present yang disengaja untuk mengekspresikan eksistensi yang tidak dibatasi? Tradisi patristik memilih yang terakhir; Kenneth McKay kemudian menekankan kemungkinan konstruksi keberadaan yang berlanjut dan menilai rujukan langsung kepada Kel 3:14 tidak diperlukan. [8]

Reaksi mengambil batu pada 8:59 menunjukkan bahwa klimaks perkataan dianggap sangat ofensif dalam alur cerita, tetapi reaksi itu sendiri tidak menetapkan secara eksak analisis gramatikal yang harus dipakai pembaca. Sebelumnya konflik telah mencakup Abraham, asal-usul Yesus, pengetahuan akan Allah, dan klaim “hari-Ku” yang dilihat Abraham. Oleh sebab itu, “mereka mengambil batu, maka egō eimi pasti adalah pelafalan literal nama YHWH” terlalu menyempitkan konteks. Pembacaan yang lebih kuat ialah: Yohanes 8:58 menyatukan pra-eksistensi, identitas yang melampaui Abraham, dan kosa kata self-identification yang telah dipersiapkan oleh Yesaya. [6]

Bahkan jika Yohanes 8:58 dikeluarkan dari perdebatan, Injil Yohanes tetap mempunyai pola pra-eksistensi kumulatif: Logos sudah “pada mulanya”; Yesus “turun dari surga”; berbicara tentang naik ke tempat “di mana Ia sebelumnya berada”; “keluar dari Allah”; “datang dari Bapa dan masuk ke dunia”; dan meminta kemuliaan yang telah Ia miliki “bersama” Bapa sebelum dunia ada. Itulah sebabnya persoalan pra-eksistensi tidak dapat diselesaikan hanya dengan menentukan satu kemungkinan terjemahan eimi dalam 8:58. Gathercole secara khusus menekankan bahwa bukti pra-eksistensi harus dianalisis sebagai pola agen dan misi, bukan sebagai permainan satu istilah. [9]

Laut, gembala, kehidupan, dan “yang pertama dan terakhir”

Di luar ucapan absolut Yohanes, beberapa pernyataan berpredikat mempunyai alasan intertekstual yang justru lebih kuat daripada frase absolut tertentu. Dalam adegan berjalan di laut, misalnya, “Akulah; jangan takut” muncul ketika Yesus melakukan tindakan yang dalam teks-teks Israel diasosiasikan dengan kedaulatan Allah atas laut. Markus bahkan mengatakan ia hendak “melewati” para murid—bahasa yang dapat mengingatkan pembaca pada peristiwa penampakan ilahi. Karena itu, Mat 14:27/Mrk 6:50/Yoh 6:20 layak disebut teofanik, sekalipun “egō eimi” secara leksikal masih dapat berarti “ini Aku”.

Demikian pula “gembala yang baik” dalam Yohanes 10 berinteraksi dengan Mzm 23 dan terutama Yeh 34, tempat YHWH sendiri datang mencari dan menggembalakan domba-Nya, sekaligus menjanjikan seorang gembala dari garis Daud. Justru dualitas itu penting: sebuah metafora dapat menempatkan Yesus dalam fungsi yang sangat tinggi tanpa menghapus perbedaan antara Dia dan Dia yang mengutusnya.

Wahyu membuat dinamika tersebut bahkan lebih eksplisit. Dalam 1:8, “Aku adalah Alfa dan Omega” dikatakan oleh “Tuhan Allah … Yang Mahakuasa”, bukan oleh Yesus. Beberapa ayat kemudian, figur yang “telah mati dan hidup” berkata “Aku adalah yang pertama dan yang terakhir”—gelar dengan latar Yesaya bagi YHWH. Di 2:23, figur yang diidentifikasi sebagai “Anak Allah” menyatakan dirinya sebagai yang “menyelidiki batin dan hati”, fungsi yang dalam Yer 17:10 dimiliki YHWH. Ini lebih signifikan secara teologis daripada sekadar menghitung dua kata Yunani: penulis dapat membedakan Allah dan Yesus secara naratif sambil menerapkan kepada Yesus bahasa dan fungsi yang berasal dari self-description YHWH.

Sejarah penafsiran Kristen

Dari para Bapa hingga abad pertengahan

Yohanes Krisostomus, dalam Homily 55 on John, secara langsung memperhatikan bentuk waktu Yohanes 8:58: mengapa Yesus tidak berkata “I was”? Bagi Krisostomus, bentuk “I am” mengungkap keberadaan yang terus-menerus dan tidak ditundukkan oleh waktu. Ia juga menghubungkan cara berbicara itu dengan self-description Sang Bapa. Artinya, tafsir pra-eksistensi ontologis atas ayat tersebut bukan penemuan polemik modern; ia sudah sangat eksplisit dalam eksegesis Yunani patristik. [8]

Agustinus membaca teks Yohanes melalui perbedaan antara keberadaan yang masuk ke dalam sejarah dan keberadaan Sang Firman yang tidak bermula bersama kelahiran manusia Yesus. Dalam Tractates on John, “sebelum Abraham” dibaca bukan sekadar sebagai preordinasi tetapi sebagai keberadaan yang melampaui waktu ciptaan. Namun Agustinus juga tidak mereduksi seluruh Kristologi kepada dua kata ego sum; argumennya bergantung pada prolog Yohanes, penciptaan, pengutusan, dan inkarnasi secara keseluruhan. [10]

Ambrosius (De Fide III.61) juga menafsirkan “sebelum Abraham … Aku adalah” sebagai kontras antara permulaan Abraham dan keberadaan yang tidak dibatasi oleh permulaan semacam itu. Pada Abad Pertengahan, Thomas Aquinas meneruskan garis metafisis tersebut. Dalam Summa Theologiae I, q.13, a.11, ia menyebut “He Who Is” (Qui est, mengacu Kel 3:14) sebagai nama yang sangat tepat bagi Allah karena menunjuk pada keberadaan tanpa pembatasan bentuk tertentu; dalam komentarnya atas Yohanes 8, present “I am” juga dibaca dalam kerangka keberadaan yang melampaui ukuran waktu. Penting untuk dicatat bahwa ini adalah pengembangan metafisis atas teks, bukan arti kamus dari egō eimi.

Posisi-posisi modern yang representatif

Perdebatan abad kedua puluh dan dua puluh satu menjadi lebih filologis dan intertekstual:

Sarjana

Karya representatif

Tekanan utama

Philip B. Harner

The “I Am” of the Fourth Gospel (1970)

Membedakan penggunaan berpredikat dan absolut; beberapa ucapan dapat bekerja pada dua tingkat, identifikasi biasa sekaligus teologis.

Raymond E. Brown

The Gospel According to John, AB 29/29A (1966–1970)

Konteks dan simbolisme Yohanes menentukan makna; “It is I” pada laut dapat sekaligus mempunyai nada sakral.

David Mark Ball

“I Am” in John’s Gospel (1996)

Fungsi literer sangat penting; ucapan tertentu sengaja bekerja pada permukaan naratif dan lapisan identifikasi dengan Allah Israel.

Kenneth L. McKay

“‘I Am’ in John’s Gospel”, Expository Times 107 (1996), 302–303

Mengingatkan terhadap pembacaan tense Yoh 8:58 yang terlalu sederhana; hubungan langsung dengan Kel 3:14 tidak otomatis.

Catrin H. Williams

I Am He: The Interpretation of ʾAni Huʾ in Jewish and Early Christian Literature (2000)

Latar terpenting bagi egō eimi absolut adalah ʾani hu dalam Ulangan dan Yesaya, khususnya Yes 40–55.

James D. G. Dunn

Christology in the Making, ed. rev. (1989)

Menempatkan bahasa pra-eksistensi dalam konteks Hikmat/Logos Yahudi dan membedakan perkembangan antara korpus-korpus PB.

Richard Bauckham

Jesus and the God of Israel (2008)

Bahasa tentang Yesus dibaca dalam kerangka “identitas ilahi”: bukan sekadar derajat makhluk tertinggi, tetapi partisipasi dalam prerogatif yang mendefinisikan Allah Israel. [11]

Simon Gathercole

“Pre-existence, and the Freedom of the Son…” (2005); The Preexistent Son (2006)

Membela pra-eksistensi real/personal, bukan hanya eksistensi ideal dalam rencana Allah, dan menekankan bahasa datang/diutus. [9]

Williams dan Ball sangat penting bagi masalah metodologis laporan ini. Williams menekankan bahwa bukan dua kata itu sendiri yang menyampaikan keilahian; cara frasa itu dipakai dan konteksnya yang memberi muatan teologis. Survei intertekstual modern juga menunjukkan bahwa Yes 43:10, bukan sekadar Kel 3:14, menjelaskan mengapa “percaya/mengetahui bahwa egō eimi” dapat berfungsi sebagai self-identification yang sangat tinggi. [1]

Sebaliknya, McKay merupakan koreksi berguna terhadap apologetika yang terlalu cepat. Seseorang dapat mengakui bahwa Yohanes 8:58 mengajarkan pra-Abrahamic existence tanpa harus menyimpulkan bahwa tata bahasanya sendiri berbunyi “Aku adalah YHWH”. Perdebatan sebenarnya bergerak pada tiga tingkatan yang harus dibedakan: apa arti gramatikal kalimat; interteks apa yang dibangkitkan; dan konsekuensi teologis apa yang timbul dari keseluruhan narasi.

Garis perkembangan penafsiran dapat diringkas demikian:


Skema itu memperlihatkan satu hal metodologis: tradisi Kristen memang sejak awal membaca Yohanes 8:58 secara ontologis, tetapi penelitian modern telah memperbaiki jalur intertekstualnya. Pernyataan patristik “ini menunjukkan keberadaan kekal” tidak mengharuskan tesis filologis yang lebih sempit “dua kata egō eimi adalah terjemahan persis nama YHWH”.

Perspektif mistik Yahudi: Hekhalot, Kabbalah, dan Hasidisme

Ehyeh dalam tafsir Yahudi bukan sekadar “Being Itself”

Sebelum bergerak kepada mistisisme, diperlukan koreksi historis. Tradisi Yahudi tidak hanya membaca אֶהְיֶה (Ehyeh) melalui kategori “eksistensi diri mutlak”. Tafsir rabinik atas Kel 3:14 sering menekankan kehadiran dan kesetiaan: Allah akan bersama Israel di dalam penderitaan ini dan penderitaan yang akan datang. Pembacaan tersebut memperoleh dukungan naratif dari Kel 3:12, “Aku akan menyertai engkau”. [7]

Itu tidak berarti konsep keberadaan ilahi absen dari tradisi Yahudi. Artinya lebih terbatas: slogan filosofis “I AM = pure self-existence” tidak boleh diproyeksikan kembali sebagai satu-satunya arti Ibrani asli. Dalam teks itu terdapat identitas, kehadiran, kebebasan Allah untuk menyatakan diri, dan kesinambungan dengan nama YHWH di ayat berikutnya.

Hekhalot dan Metatron: nama ilahi dapat “ditanggung” tanpa identitas sederhana

Literatur Hekhalot, terutama 3 Enoch, memberi analogi yang jauh lebih relevan terhadap persoalan “nama” daripada mencari padanan Yunani egō eimi. Enoch yang ditinggikan menjadi Metatron memperoleh kedudukan luar biasa; salah satu tradisi menyebutnya “YHWH yang lebih kecil” dan menghubungkannya dengan Kel 23:21, “nama-Ku ada di dalam dia”. Tradisi juga berbicara mengenai pemberian nama-nama ilahi kepada Metatron. Studi Daphna Arbel menunjukkan bahwa narasi Enoch-Metatron mengolah tradisi figur surgawi yang sangat ditinggikan sekaligus bergerak di wilayah yang membuat batas ilahi harus diawasi dengan ketat. [12]

Justru polemik “dua kuasa di surga” penting. Tradisi rabinik tentang Metatron tidak berkata, “Karena ia membawa nama, ia merupakan Allah kedua yang independen.” Sebaliknya, kemungkinan penafsiran semacam itu ditolak. Ini memberi analogi historis yang berguna untuk PB: partisipasi dalam nama, kuasa, atau fungsi ilahi tidak harus dipahami sebagai munculnya dua dewa terpisah; tetapi partisipasi semacam itu juga bukan hal sepele. Ia menuntut penjelasan tentang hubungan antara Yang mengutus dan agen yang membawa nama-Nya. [13]

Namun 3 Enoch tidak boleh dipakai sebagai “kamus rahasia Yohanes”. Bentuk literatur yang kita miliki jauh lebih kemudian daripada pelayanan Yesus dan sekurang-kurangnya banyak materi Yohanes; ia berguna sebagai saksi perkembangan kategori mistik Yahudi mengenai nama-bearing intermediary, bukan sebagai bukti bahwa pembaca pertama Yohanes 8:58 sedang memikirkan Metatron.

Kabbalah: YHWH dan Ehyeh sebagai nama dalam struktur ketuhanan

Kabbalah abad pertengahan mengembangkan teologi nama dengan cara jauh lebih kompleks. Kajian peer-reviewed Eugene Matanky dan Adam Afterman mengenai “dyad” dua nama empat-huruf menunjukkan bahwa kabbalis awal dapat memperlakukan YHWH dan Ehyeh sebagai pasangan sentral dalam artikulasi struktur ketuhanan. Nama bukan sekadar label fonetis; ia berkaitan dengan cara Yang Tak Terbatas hadir, dikenal, dan termanifestasi melalui tatanan emanatif. [14]

Di sini terdapat analogi konseptual dengan pertanyaan laporan ini, tetapi juga batas yang tegas. Kabbalah tidak mengajarkan kaidah “siapa pun yang berkata ‘I am’ mengklaim YHWH”. Fokusnya adalah nama Ibrani, konfigurasi ilahi, dan emanasi, bukan konstruksi kopular Yunani. Karena itu, Kabbalah dapat memperkaya teologi nama dan kehadiran tetapi tidak dapat dipakai sebagai bukti leksikal bahwa egō eimi Yohanes identik dengan tetragrammaton.

Hasidisme: Ehyeh sebagai “siap untuk menjadi”

Sebuah contoh yang sangat menarik muncul dalam Likkutei Moharan I.6. Tradisi tersebut menghubungkan Keter dengan Ehyeh dan mengembangkan ungkapan Aram אנא זמין למהוי, kira-kira “aku siap/ditakdirkan untuk menjadi”. Dalam konteks pertobatan, bahasa “menjadi” diterapkan secara eksistensial: manusia yang kembali kepada Allah masuk ke dalam suatu mode “siap menjadi”. [15]

Ini penting justru karena berbeda dari pembacaan populer “I AM” sebagai formula statis tentang ontologi. Hasidisme dapat mengambil nama Ehyeh dan menggunakannya secara partisipatoris untuk membicarakan transformasi manusia tanpa membuat manusia yang bertobat menjadi YHWH. Dengan kata lain, bahasa nama ilahi dapat menghasilkan partisipasi mistik tanpa persamaan identitas numerik.

Maka, terhadap pertanyaan “apakah mistisisme Yahudi mengenal analog egō eimi sebagai personal self-identification?” jawaban yang paling defensibel ialah:

Ada analogi kuat pada tingkat Ehyeh, ani hu, YHWH, nama-bearing, kehadiran, dan manifestasi; tetapi tidak ada bukti kuat bahwa tradisi Hekhalot, Kabbalah, atau Hasidisme menjadikan frase Yunani telanjang egō eimi sebagai formula teknis identitas pribadi dengan YHWH. Mengatakan sebaliknya akan mencampur bahasa, periode, dan genre yang berbeda. [16]

Pra-eksistensi “dalam pikiran Allah” dan risikonya

Tiga model yang perlu dibedakan

Istilah “pra-eksistensi” sering dipakai untuk tiga gagasan yang sebenarnya berbeda.

Pra-eksistensi ideal berarti seseorang atau sesuatu “ada” sebelumnya karena sudah ditetapkan, dikenal, atau dimaksudkan dalam rencana Allah. Dalam bahasa religius Yahudi, hal-hal seperti Taurat, bait, kebijaksanaan, atau umat pilihan dapat dibicarakan seolah-olah mendahului kemunculan historisnya. Dalam arti ini, “ada sebelumnya” tidak harus berarti seorang pusat kesadaran pribadi telah hidup sebelum kelahirannya.

Pra-eksistensi melalui personifikasi berada di tengah: Hikmat atau Firman dibicarakan sebagai agen, berbicara, hadir bersama Allah, dan berpartisipasi dalam penciptaan; perdebatan kemudian ialah seberapa “literal” personalitas bahasa itu harus dibaca.

Pra-eksistensi personal/real berarti subjek yang kemudian hadir sebagai manusia sudah merupakan agen yang sesungguhnya sebelum kehidupan duniawinya. Gathercole secara eksplisit mempertahankan kategori terakhir terhadap reduksi pra-eksistensi menjadi sekadar ideal atau konseptual. [9]

Ketiga model itu jangan disamakan. Seseorang dapat benar-benar “ada dalam rencana Allah” tanpa sudah menjadi pribadi yang berelasi dan bertindak. Karena itu, pertanyaan yang harus diajukan kepada Yohanes bukan “apakah Allah memikirkan Mesias sebelum kelahirannya?”—hampir semua model dapat menjawab ya—melainkan “apakah narasi menggambarkan subjek ‘Aku’ sebagai agen yang berelasi dan bertindak sebelum kehidupan duniawinya?”

Risiko filosofis: ide bukanlah subjek personal

Secara filosofis, masalah terberat bagi model “hanya ide” adalah perbedaan antara objek pengetahuan dan subjek tindakan. Sebuah ide tentang seseorang dapat berada dalam pengetahuan Allah tanpa orang yang diideakan itu sendiri sudah bertindak. “Gagasan mengenai Petrus” bukan Petrus sebagai pusat kesadaran.

Maka bila pra-eksistensi Yesus semata-mata berarti “Allah sejak kekal mempunyai konsep/rencana mengenai manusia Yesus”, pernyataan seperti:

·      “Aku turun dari surga”;

·      “Aku keluar dari Allah”;

·      “Aku datang dari Bapa dan masuk ke dunia”;

·      “kemuliaan yang Kumiliki bersama-Mu sebelum dunia ada”;

harus secara sistematis diubah dari bahasa agen menjadi prolepsis: orang historis berbicara seakan-akan rencana Allah sebelum kelahirannya adalah tindakannya sendiri. Hal itu mungkin sebagai teori hermeneutik, tetapi tidak boleh disebut hasil “literal” tanpa argumentasi tambahan. Model tersebut memiliki beban pembuktian untuk menjelaskan mengapa penulis begitu konsisten memakai bahasa personal dan relasional. Gathercole membangun kritiknya terhadap ideal pre-existence tepat pada soal realitas agen pra-dunia tersebut. [9]

Yohanes 17:5 khususnya tajam secara filosofis. “Kemuliaan yang Aku miliki bersama-Mu sebelum dunia ada” tidak hanya mengatakan “kemuliaan yang Engkau rencanakan untuk-Ku”. Memang seorang penafsir dapat memilih pembacaan proleptik—bahwa kepemilikan masa depan begitu pasti sehingga digambarkan sebagai milik lampau—tetapi itu adalah langkah interpretatif, bukan sesuatu yang dituntut oleh semantik biasa.

Risiko kristologis: kontinuitas “Aku”

Bila “Kristus pra-eksisten” hanyalah ide impersonal lalu manusia Yesus muncul kemudian, muncul persoalan kontinuitas referen. Siapa “Aku” yang berkata “Aku datang”? Dalam model personal, referennya kontinu: agen yang ada sebelumnya adalah agen yang hidup secara manusiawi. Dalam model ideal murni, referen sebelum kelahiran sebenarnya adalah rencana Allah tentang agen yang belum ada.

Ini tidak membuat model ideal secara logis mustahil, tetapi menimbulkan apa yang dapat disebut masalah identitas dia-kronis. Bahasa naratif menyajikan satu subjek yang datang, melakukan misi, lalu kembali; teori mengatakan sebelum kelahirannya belum ada subjek personal itu. Semakin banyak verba agen—mengutus, datang, turun, melihat, memiliki kemuliaan, kembali—semakin besar biaya hermeneutik untuk menjadikannya seluruhnya metafora tentang predestinasi.

Itulah sebabnya Yohanes 8:58 sebenarnya bukan bukti terkuat jika berdiri sendiri. Yohanes 16:28 dan 17:5, dibaca bersama prolog dan pasal 6, membuat persoalan jauh lebih kumulatif. Sebuah teori ideal-preexistence harus menjelaskan keseluruhan jaringan, bukan hanya menawarkan terjemahan alternatif bagi egō eimi.

Risiko terhadap monoteisme di kedua arah

Ada bahaya pada dua kutub.

Jika pra-eksistensi personal dijelaskan sebagai keberadaan dua dewa yang masing-masing mandiri dan self-existent, monoteisme Yahudi teks-teks itu telah ditinggalkan. Yohanes sendiri tidak menggambarkan dua sumber ketuhanan independen: ia terus membicarakan Yang Mengutus dan Yang Diutus, asal-usul misi, penerimaan perintah, dan hubungan dengan Allah.

Tetapi reduksi sebaliknya—menjadikan seluruh diferensiasi itu sekadar “Allah memiliki sebuah ide yang kemudian menjadi manusia”—dapat menghilangkan terlalu banyak realitas relasional dari teks. Bauckham mengusulkan kategori lain: pengarang-pengarang Kristen awal dapat memasukkan Yesus ke dalam prerogatif yang mendefinisikan identitas Allah Israel tanpa harus membayangkan dua Allah independen. Orang tidak harus menerima setiap rincian model Bauckham untuk melihat manfaat analitisnya: kesatuan ilahi dan diferensiasi agen tidak perlu diperlakukan sebagai pilihan biner. [11]

Tradisi Metatron memberi perbandingan berguna justru pada titik ini. Literatur Yahudi dapat membayangkan makhluk surgawi yang membawa nama dan otoritas luar biasa, tetapi juga membangun pagar keras terhadap kesimpulan “dua kuasa”. Itu menunjukkan bahwa dalam matriks Yahudi, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “ilahi atau tidak ilahi?”, melainkan bagaimana nama, kuasa, kehadiran, dan identitas Allah dapat dimediasi tanpa membelah keesaan Allah. [12]

Risiko pastoral dan apologetis

Ada risiko pastoral bila iman diajarkan bergantung pada silogisme rapuh:

“Egō eimi selalu berarti nama YHWH; Yesus berkata egō eimi; maka setiap kemunculannya membuktikan status ilahi Yesus.”

Seorang pembaca yang kemudian menemukan Gabriel berkata “ἐγώ εἰμι Γαβριήλ”, orang buta berkata “ἐγώ εἰμι”, atau Petrus berkata “ἐγώ εἰμι ὃν ζητεῖτε”, dapat merasa bahwa argumen keseluruhan runtuh. Padahal yang runtuh hanya argumen leksikal yang buruk. Kasus tekstual yang lebih kuat—Yesaya 43, “sebelum Abraham”, tema turun-datang-kembali, gembala, pemberi hidup, “yang pertama dan terakhir”—tetap berdiri.

Di sisi lain, mengatakan kepada komunitas iman bahwa pra-eksistensi hanya “Allah sudah memikirkan Yesus” tanpa menjelaskan ketegangan dengan bahasa personal Yohanes dapat mengubah “datang dari Bapa” dari tindakan subjek menjadi sekadar gaya puitis tentang predestinasi. Secara pastoral, risiko bukan hanya abstraksi metafisis; narasi tentang tindakan sukarela, pengutusan, dan pemberian diri dapat menjadi lebih tipis secara eksistensial. Namun ini harus disebut risiko, bukan konsekuensi logis yang tak terhindarkan: model ideal yang lebih sophisticated dapat berusaha mempertahankan kekuatan etis dan soteriologis bahasa tersebut.

Sintesis, persoalan terbuka, dan sumber yang diprioritaskan

Putusan eksegetis

Temuan keseluruhan dapat dirumuskan dalam beberapa tingkat kepastian.

Sangat pasti: ἐγώ εἰμι tidak secara inheren berarti “Aku adalah YHWH”. Saksi internal PB sendiri sudah cukup: Gabriel, Petrus, Paulus, para murid, Yudas, dan orang yang dahulu buta menggunakannya. Wahyu 1:8 bahkan menunjukkan bahwa ketika frasa itu memang diucapkan secara langsung oleh “Tuhan Allah”, referennya dalam konteks tersebut bukan Yesus.

Sangat mungkin: beberapa ucapan absolut Yohanes sengaja mengambil bahasa self-identification YHWH dari Yesaya ani hu. Yoh 8:24, 8:28, dan 13:19 mempunyai hubungan verbal-fungsional yang khususnya kuat dengan Yes 43:10 LXX. Yoh 4:26 juga berpotensi menggemakan Yes 52:6. Karena itu, tesis “tidak ada hubungan ilahi apa pun; semuanya hanya cara Yunani mengatakan ‘ini aku’” terlalu reduktif. [1]

Kuat tetapi tetap interpretatif: Yoh 8:58 menyatakan pra-eksistensi Yesus terhadap Abraham dan dalam jaringan Yohanes ikut membangun identitas yang melampaui kehidupan duniawi. Klaim bahwa present eimi sendirian secara gramatikal “membuktikan eternitas” terlalu kuat; tetapi klaim bahwa ayat itu hanya mengatakan Yesus ada dalam rencana Allah juga menghadapi konteks yang jauh lebih luas daripada satu tense. [3]

Sangat penting secara metodologis: hubungan dengan YHWH paling kuat ketika beberapa indikator bertemu: bahasa egō eimi, interteks Yesaya, fungsi eksklusif Allah, pra-eksistensi, penguasaan laut/hidup/mati, prediksi sejarah, atau gelar seperti “yang pertama dan terakhir”. Semakin sedikit indikator tersebut, semakin lemah alasan menjadikan egō eimi sebuah self-identification ilahi.

Persoalan yang tetap terbuka

Tidak semua pertanyaan mempunyai konsensus akademis. Tidak ada konsensus penuh mengenai seberapa sadar setiap pendengar historis Yesus akan interteks Yesaya ketika mendengar formula tersebut; Injil juga merupakan karya sastra yang memberi bentuk Yunani kepada tradisi mengenai Yesus, sehingga makna pada tingkat narator/pembaca tidak selalu identik dengan apa yang dapat direkonstruksi tentang sebuah ucapan Aram historis.

Demikian pula, para penafsir berbeda mengenai apakah Yohanes 8:58 terutama menggemakan Kel 3:14, Yesaya ani hu, kedua-duanya melalui jaringan tradisi yang sama, atau terutama merupakan klaim temporal yang kemudian memperoleh efek teologis dari keseluruhan Injil. Studi Williams membuat latar Yesaya sangat sulit diabaikan; McKay mengingatkan agar kesimpulan ontologis tidak diselundupkan langsung ke dalam tense; tradisi patristik memberi bukti bahwa pembaca Yunani awal memang mendengar klaim keberadaan trans-temporal. [6]

Hubungan antara kategori “agen ilahi” Yahudi dan bahasa Yohanes juga tetap diperdebatkan. Data Hekhalot dan Metatron menunjukkan bahwa Yudaisme dapat mengembangkan figur pembawa nama yang luar biasa tinggi; tetapi kronologinya mencegah kita menjadikannya sumber langsung sederhana bagi Yohanes. Kabbalah bahkan lebih kemudian lagi. Nilainya terutama komparatif dan fenomenologis, bukan sebagai Sitz im Leben langsung Injil. [17]

Bibliografi pilihan dan hierarki sumber

Untuk penelitian lanjutan, urutan prioritas yang paling sehat adalah teks primer terlebih dahulu, lalu karya filologis/intertekstual, kemudian sejarah doktrin dan mistisisme.

Teks primer utama: teks Yunani kritis PB—SBLGNT/NA28/UBS; teks Ibrani Kel 3 dan Yes 40–55; Septuaginta Kel 3:14, Ul 32:39, Yes 41:4; 43:10; 46:4; 48:12; 52:6. Untuk Yohanes sendiri, perbandingan internal Yoh 9:9 dengan 8:24, 8:28, 8:58, 13:19, dan 18:5–8 sangat penting karena ia mengontrol kecenderungan menjadikan formula itu secara otomatis ilahi.

Eksegesis modern yang paling relevan: Philip B. Harner, The “I Am” of the Fourth Gospel: A Study in Johannine Usage and Thought (1970); David Mark Ball, “I Am” in John’s Gospel: Literary Function, Background and Theological Implications, JSNTSup 124 (1996); Catrin H. Williams, I Am He: The Interpretation of ʾAni Hûʾ in Jewish and Early Christian Literature, WUNT II/113 (2000). Untuk komentari: Raymond E. Brown, The Gospel According to John; C. K. Barrett, The Gospel According to St John; Rudolf Schnackenburg, The Gospel According to St John; Craig S. Keener, The Gospel of John; J. Ramsey Michaels, The Gospel of John; Marianne Meye Thompson, John. Bibliografi dan pentingnya Williams/Ball/Harner bagi masalah ani hu dapat diverifikasi dari survei intertekstual yang membandingkan langsung Yesaya dan Yohanes. [1]

Gramatika dan posisi korektif: Kenneth L. McKay, “‘I Am’ in John’s Gospel”, Expository Times 107 (1996): 302–303, perlu dibaca berdampingan dengan pembahasan tense dalam gramatika Yunani seperti Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics. Nilai McKay bukan bahwa ia “membuktikan” Yohanes tidak mengenal pra-eksistensi, melainkan bahwa ia memaksa pembaca memisahkan nilai gramatikal present dari kesimpulan teologis keseluruhan.

Pra-eksistensi dan monoteisme: Simon J. Gathercole, “Pre-existence, and the Freedom of the Son in Creation and Redemption”, International Journal of Systematic Theology 7 (2005), dan The Preexistent Son (2006), merupakan pembelaan penting bagi pra-eksistensi personal; Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel (2008), merupakan formulasi berpengaruh mengenai bagaimana bahasa yang berkaitan dengan identitas YHWH dapat diterapkan kepada Yesus dalam kerangka monoteistik. [5]

Sumber patristik dan abad pertengahan: Yohanes Krisostomus, Homilies on John, terutama Homili 55; Agustinus, Tractates on the Gospel of John; Ambrosius, De Fide III; Thomas Aquinas, Super Evangelium S. Ioannis pada Yoh 8 dan Summa Theologiae I, q.13, a.11. Krisostomus sangat berharga karena ia seorang pembaca Yunani kuno yang secara eksplisit bertanya mengapa teks memakai “I am” dan bukan “I was”. [18]

Mistisisme Yahudi: untuk Hekhalot, 3 Enoch harus dibaca dalam edisi/terjemahan akademis bersama Daphna Arbel dan kajian Enoch–Metatron; untuk konteks lebih luas, Peter Schäfer, The Origins of Jewish Mysticism, dan Andrei Orlov, The Enoch-Metatron Tradition. Untuk Kabbalah, kajian Matanky–Afterman mengenai pasangan nama YHWH/Ehyeh sangat relevan, bersama karya klasik Gershom Scholem dan Moshe Idel. Untuk Hasidisme, teks primer Likkutei Moharan I.6 memberikan contoh nyata bagaimana Ehyeh dapat dimaknai secara mistik tanpa menjadi klaim bahwa manusia adalah YHWH. [16]

Putusan akhir: dasar akademis terbaik bukanlah “Yesus berulang kali mengucapkan kata sandi ilahi I AM”, tetapi sesuatu yang lebih kuat dan lebih bernuansa: PB memakai egō eimi sebagai Yunani normal; Yohanes sengaja menempatkan sebagian ucapan Yesus ke dalam jaringan self-revelation YHWH, terutama ani hu Yesaya; beberapa konteks memberi Yesus gelar, fungsi, dan pola kehadiran yang dalam Kitab Israel melekat pada YHWH; dan keseluruhan bahasa datang–diutus–memiliki kemuliaan–kembali membuat reduksi pra-eksistensi menjadi “hanya sebuah ide dalam pikiran Allah” secara eksegetis jauh lebih mahal daripada yang sering diakui. Pada saat yang sama, monoteisme dipertahankan paling bertanggung jawab bukan dengan membayangkan dua dewa independen, melainkan dengan menghadapi secara serius baik kesatuan Allah maupun diferensiasi nyata antara Pengutus dan Dia yang diutus yang terdapat dalam teks itu sendiri. [19]

 
 
 

Komentar


bottom of page