PRA EKSISTENSI IDEAL DAN PERSONAL

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono
Tidak setiap ucapan egō eimi berarti “Aku adalah YHWH”. Namun, dalam beberapa bagian Injil Yohanes, ungkapan itu menggemakan penyataan diri Allah dan menempatkan Yesus dalam hubungan yang sangat khusus dengan identitas Allah Israel. Maknanya ditentukan oleh konteks, bukan oleh dua kata itu saja. Untuk menjelaskan kedudukan Yesus dalam monoteisme, kita perlu membaca bersama tiga hal: keesaan Allah, hubungan Yesus dengan Bapa, dan pernyataan tentang keberadaan-Nya sebelum dunia ada. Saya akan membahasnya melalui teks Alkitab dan latar pemikiran Yahudi.
Pertama, egō eimi merupakan ungkapan bahasa Yunani biasa yang juga dapat memiliki bobot teologis. Ejaan Yunaninya adalah ἐγώ εἰμι: egō berarti “aku”, sedangkan eimi berarti “adalah/ada”. Terjemahannya dapat berupa “Aku adalah…”, “Aku ada”, atau “Akulah orangnya”.
Bukti paling jelas bahwa ungkapan ini bukan nama ilahi secara otomatis terdapat dalam Yohanes 9:9. Orang yang sebelumnya buta mengatakan egō eimi, maksudnya “Akulah orangnya”. Ia tentu tidak sedang mengaku sebagai Allah. Jadi, ungkapan itu juga tidak selalu menunjuk kepada pribadi Yesus. biblehub.com
Dalam Yohanes, pemakaiannya dapat dibedakan demikian:
Pemakaian | Contoh | Makna dalam konteks |
Identifikasi biasa | Orang yang disembuhkan, Yoh. 9:9 | “Akulah orangnya.” |
Identifikasi mesianis | Yesus kepada perempuan Samaria, Yoh. 4:26 | Yesus mengidentifikasi diri sebagai Mesias yang dibicarakan. |
Pernyataan dengan predikat | “Akulah roti hidup”, Yoh. 6:35 | Menjelaskan peran dan identitas Yesus melalui gambaran tertentu. |
Pernyataan tanpa predikat eksplisit dengan bobot pewahyuan | Yoh. 8:24; 8:58; 13:19 | Perlu dibaca bersama konteks naratif dan penyataan Allah dalam Kitab Suci. |
Bahkan kategori terakhir tidak boleh ditafsirkan hanya berdasarkan bentuk gramatikalnya: Yohanes 9:9 juga tidak memiliki predikat eksplisit. Yang menentukan ialah siapa pembicaranya, apa yang dibicarakan, dan teks Kitab Suci mana yang digemakan.
Hubungannya dengan YHWH bersifat tekstual dan teologis, bukan persamaan kamus. Dalam Keluaran 3:14, ungkapan Ibraninya ialah ’ehyeh ’asher ’ehyeh, lazim diterjemahkan “Aku adalah Aku” atau “Aku akan menjadi yang Aku akan menjadi”. Ayat 15 kemudian menyebut nama YHWH.
Terjemahan Yunani kuno, Septuaginta, menerjemahkan Keluaran 3:14 dengan egō eimi ho ōn, kira-kira “Aku adalah Dia yang ada”. Karena itu, egō eimi saja bukan terjemahan langsung empat huruf YHWH. Hubungan antara ’ehyeh dan YHWH penting dalam narasi tersebut, tetapi etimologi persis nama YHWH tetap diperdebatkan. biblehub.com
Untuk beberapa ucapan Yesus, paralel yang lebih dekat justru terdapat dalam Yesaya 43:10. Allah menyatakan bahwa umat dipanggil mengenal dan percaya bahwa “Akulah Dia”—Ibraninya ’ani hu’, diterjemahkan egō eimi dalam Septuaginta. Yohanes 13:19 memakai pola serupa: Yesus memberitahukan sesuatu sebelum terjadi supaya ketika terjadi, para murid percaya bahwa egō eimi. Kesamaan antara nubuat, penggenapan, dan pengenalan terhadap pembicara memberi alasan kuat untuk melihat gema Yesaya. biblehub.com
Dengan demikian, argumennya bukan “Yesus mengucapkan dua kata sakral”, melainkan Yohanes menampilkan Yesus dengan bahasa penyataan diri yang dalam Kitab Suci digunakan Allah Israel.
Yohanes 8:58 memperkuatnya: sebelum Abraham genesthai—“menjadi/ada”—Yesus mengatakan egō eimi. Dalam alur perdebatan tentang Abraham, pernyataan ini paling wajar dibaca sebagai klaim keberadaan yang mendahului Abraham. Penggunaan bentuk sekarang memberi bobot khusus, tetapi kesimpulan mengenai identitas ilahi-Nya harus bertumpu pada keseluruhan Injil, bukan pada bentuk waktu kata kerja saja.
Kedua, “sudah ada dalam rencana Allah” berbeda dari “sudah ada bersama Allah”. Keduanya perlu dibedakan secara akademis:
Pengertian | Maksud |
Praeksistensi ideal | Seseorang atau sesuatu sudah diketahui, dipilih, atau ditetapkan Allah sebelum hadir dalam sejarah. |
Praeksistensi personal | Subjek yang kemudian hadir dalam sejarah sudah sungguh ada sebelumnya. |
Alkitab memang memakai bahasa penetapan sebelum kelahiran atau penciptaan. Yeremia dikenal sebelum dibentuk dalam kandungan (Yer. 1:5); orang percaya dipilih sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4). Ayat-ayat itu tidak otomatis berarti mereka sudah hidup secara personal sebelumnya.
Tradisi Yahudi juga mengenal gagasan bahwa nama Mesias mendahului dunia. Pesachim 54a memasukkan nama Mesias dalam daftar hal yang diciptakan sebelum dunia. Akan tetapi, “nama Mesias sudah ada” tidak dengan sendirinya menjawab apakah yang dimaksud ialah penetapan, realitas surgawi, atau keberadaan personal. Lagi pula, redaksi Talmud lebih kemudian daripada Perjanjian Baru; kita tidak boleh langsung menganggapnya sebagai keyakinan semua orang Yahudi pada zaman Yesus. The Sefaria Library
Jadi, gagasan praeksistensi ideal bukan gagasan tanpa dasar. Persoalannya ialah apakah gagasan itu cukup menjelaskan semua pernyataan Yohanes tentang Yesus.
Menurut penilaian saya, pembacaan praeksistensi personal lebih kuat karena kesaksian berikut saling memperjelas:
Yohanes 1:1–3,14: Firman sudah ada pada mulanya, berada bersama Allah, menjadi perantara penciptaan, lalu menjadi daging.
Yohanes 6:38,62: Yesus berbicara tentang turun dari surga dan naik ke tempat Ia berada sebelumnya.
Yohanes 17:5: Yesus memohon kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada.
Yohanes 17:24: Yesus berbicara tentang kasih Bapa kepada-Nya sebelum dunia dijadikan.
Yohanes 17:5 khususnya memiliki bahasa yang bersifat relasional: “Aku”, “Engkau”, dan kemuliaan yang dimiliki “bersama-Mu”. Pembacaan ideal harus menafsirkan kepemilikan tersebut sebagai sesuatu yang baru tersedia dalam ketetapan Allah. Itu mungkin diajukan sebagai penafsiran, tetapi memerlukan alasan tambahan, terutama ketika dibaca bersama bahasa “turun” dan “kembali”.
Praeksistensi personal di sini tidak berarti tubuh manusia Yesus sudah berada di surga sebelum kelahiran-Nya. Klaimnya ialah bahwa Dia yang hadir sebagai manusia mempunyai keberadaan sebelumnya sebagai Firman.
Apa bahayanya apabila praeksistensi dibatasi menjadi “hanya ide Allah”? Secara akademis, lebih tepat menyebutnya risiko penafsiran dan konsekuensi teologis, bukan langsung menghakimi orang yang menganutnya.
Pertama, perbedaan antara diketahui dan sungguh ada dapat terhapus. Jika semua manusia sudah ada dalam pengetahuan Allah, pernyataan Yesus tentang kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia tidak lagi mengatakan sesuatu yang khas mengenai-Nya.
Kedua, makna inkarnasi berubah. Dalam pembacaan personal, Firman yang sudah ada memasuki kehidupan manusia. Dalam pembacaan ideal, suatu rencana ilahi diwujudkan dalam seorang manusia. Keduanya merupakan klaim berbeda tentang siapa Yesus, meskipun sama-sama dapat memakai ungkapan “Firman menjadi manusia”.
Ketiga, bahasa hubungan sebelum penciptaan menjadi lebih sulit dijelaskan. Mengasihi seseorang yang akan lahir tentu mungkin bagi Allah yang mengetahui masa depan. Namun, ketika kasih itu disandingkan dengan kemuliaan yang sudah dimiliki bersama Bapa dan keberadaan di surga sebelumnya, pembacaan yang semata-mata ideal menjadi semakin kurang langsung.
Keempat, corak keselamatan dan penyataan Allah berubah. Pertanyaannya menjadi: apakah dalam Yesus Allah menyatakan diri melalui Firman-Nya yang hadir sebagai manusia, atau melalui manusia yang mewujudkan rencana-Nya? Perbedaan ini penting bagi pemahaman tentang penyembahan, pengenalan akan Allah, dan keunikan Yesus. Namun, penolakan terhadap praeksistensi personal tidak otomatis berarti seseorang menolak seluruh karya keselamatan Yesus.
Ketiga, keesaan Allah tetap menjadi titik berangkat untuk memahami kedudukan Yesus. Yesus menegaskan pengakuan Israel bahwa Tuhan itu esa (Mrk. 12:29). Yohanes 17:3 menyebut Bapa sebagai satu-satunya Allah yang benar dan membedakan-Nya dari Yesus yang diutus.
Ayat itu harus dipertahankan bersama pernyataan lain dalam Injil yang sama: Firman disebut Allah (1:1), Anak menerima penghormatan sebagaimana Bapa (5:23), dan Tomas menyapa Yesus sebagai Tuhan dan Allahnya (20:28). Tafsir yang memadai perlu menjelaskan semuanya.
Satu pendekatan akademis yang berpengaruh ialah identitas ilahi: Yesus dipahami termasuk dalam cara Allah yang esa menyatakan siapa diri-Nya, terutama melalui penciptaan, pemerintahan, dan penyelamatan. Richard Bauckham mengembangkan pembacaan ini. Dalam pendekatan tersebut, Yesus tidak ditempatkan sebagai dewa mandiri yang menjadi pesaing Allah Israel. SBL_Paul.doc
Contoh pentingnya ialah 1 Korintus 8:6:
Satu Allah, Bapa, dari-Nya segala sesuatu.
Satu Tuhan, Yesus Kristus, melalui-Nya segala sesuatu.
Bauckham membaca rumusan itu sebagai pengungkapan kembali pengakuan keesaan Allah dengan menyertakan Yesus di dalamnya. Tetapi ini bukan kesepakatan semua akademisi. Thomas Gaston dan Andrew Perry, misalnya, mempertanyakan apakah ayat tersebut sungguh memperluas Shema dan apakah Kyrios di sana langsung mewakili YHWH. researchgate.net
Karena itu, kita harus membedakan kesimpulan teologis yang dipertanggungjawabkan dari klaim konsensus akademis.
Rumusan yang menurut saya paling sesuai dengan rangkaian teks Yohanes adalah: Yesus merupakan Firman Allah yang menjadi manusia; dalam-Nya Allah yang esa menyatakan diri dan memberikan hidup. Hubungan-Nya dengan Bapa sungguh nyata, dan seluruh karya-Nya berlangsung dalam kesatuan dengan Bapa (Yoh. 1:18; 5:19–23; 14:9–11). Mengatakan Yesus menyatakan identitas YHWH tidak berarti setiap penyebutan YHWH dalam Alkitab harus diganti dengan “Yesus”, atau bahwa Yesus dan Bapa adalah pembicara yang sama.
Keempat, latar mistik Yahudi membantu menjelaskan bahasa kehadiran Allah, tetapi harus digunakan sesuai zamannya. Tidak ada satu sistem “mistik Yahudi” yang seragam sepanjang sejarah. Untuk membaca Perjanjian Baru, bahan paling relevan ialah Kitab Suci Israel, sastra Hikmat, dan tradisi apokaliptik zaman Bait Kedua. Sistem Kabbalah abad pertengahan tidak boleh diproyeksikan langsung ke zaman Yesus.
Beberapa jalur pemikiran penting ialah:
Tradisi | Sumbangannya bagi pembacaan |
Firman Allah—Kej. 1; Mzm. 33:6 | Allah mencipta dan bertindak melalui firman-Nya. |
Hikmat—Ams. 8; Sirakh 24; Kebijaksanaan 7–9 | Hikmat digambarkan hadir bersama Allah dan bekerja dalam ciptaan. Personifikasi sastra belum otomatis berarti pribadi tersendiri. |
Nama Allah—Kel. 23:20–21 | Utusan dapat membawa Nama dan otoritas Allah. Membawa Nama belum dengan sendirinya membuktikan kesamaan hakikat. |
Kemuliaan dan takhta—Yeh. 1; Dan. 7 | Kehadiran dan pemerintahan surgawi digambarkan melalui kemuliaan, takhta, dan figur perantara. |
Dalam tradisi Targum, istilah Aram Memra, “Firman”, juga dipakai dalam penggambaran tindakan Allah. Daniel Boyarin menunjukkan bahwa tradisi Firman dan pemikiran Yahudi relevan untuk memahami prolog Yohanes. Namun, Memratidak boleh otomatis diperlakukan sebagai pribadi tersendiri dalam setiap pemakaian; penanggalan tradisi dan hubungan langsungnya dengan Yohanes juga perlu diuji. researchgate.net
Tradisi Metatron yang lebih kemudian memberi contoh lain: figur surgawi dapat dikaitkan sangat erat dengan Nama dan kewibawaan Allah, sementara teks yang sama tetap membatasi kedudukannya. Kajian Andrei Orlov memperlihatkan ketegangan antara pengagungan Metatron dan penegasan bahwa ia tetap berada di bawah Allah. Ini berguna sebagai perbandingan sejarah gagasan, tetapi bukan bukti bahwa Yesus adalah Metatron atau bahwa Yohanes bergantung pada bentuk akhir tradisi tersebut. marquette.edu
Dari sudut mistik-biblis, Yohanes mengarahkan perhatian pada bagaimana Allah yang tidak kelihatan dapat dikenal dan dialami. Firman menjadi daging dan “berdiam” di antara manusia—bahasa yang menggemakan kemah kehadiran Allah (Yoh. 1:14). Yesus menggambarkan tubuh-Nya sebagai bait (2:19–21), dan melihat-Nya berarti mengenal penyataan Bapa (14:9).
Dengan pembacaan ini, praeksistensi memberi kedalaman pada penyataan tersebut: Dia yang memperkenalkan Allah datang dari hubungan dengan Allah yang mendahului dunia. Itulah sebabnya mengurangi-Nya menjadi “hanya ide” terasa tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan kesaksian Yohanes, sementara menganggap setiap egō eimi sebagai nama YHWH juga melampaui bukti bahasanya.



Komentar