top of page

Konsep Kurios Yahudi

8 Sep
12 menit membaca

ΚύΡΙΟΣ (KYRIOS) DAN ΘΕΟΣ (THEOS): STUDI ETIMOLOGIS, MORFOLOGIS, SEMANTIS, DAN KRISTOLOGIS TENTANG GELAR YESUS DALAM PERJANJIAN BARU



Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

Abstrak

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

Persoalan mengenai sebutan kyrios (κύριος) bagi Yesus merupakan salah satu persoalan fundamental dalam studi Kristologi Perjanjian Baru. Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Yesus selama pelayanan-Nya di dunia tidak secara konsisten disebut theos (θεός), “Allah”, sedangkan sesudah kebangkitan komunitas Kristen mula-mula secara intensif mengakui-Nya sebagai Kyrios, “Tuhan”. Pertanyaan utama penelitian ini adalah apakah kyrios yang dikenakan kepada Yesus identik dengan theos, dan dalam pengertian apa sebutan tersebut mengandung klaim keilahian.

Kajian ini menunjukkan bahwa secara leksikal dan morfologis kyrios dan theos bukan sinonim. Κύριος merupakan nomina maskulin yang secara historis berkaitan dengan gagasan kuasa, otoritas, penguasaan, kepemilikan, dan status sebagai tuan atau penguasa; sedangkan θεός merupakan nomina yang berarti “Allah/dewa”. Karena itu, secara etimologis tidak dapat disimpulkan bahwa setiap penggunaan kyrios berarti “Allah”. Namun, dalam lingkungan Septuaginta dan Kekristenan Yahudi abad pertama, kyrios memperoleh dimensi teologis yang sangat penting karena digunakan sebagai representasi Yunani bagi יהוה (YHWH) dalam sejumlah tradisi tekstual. Dengan demikian, ketika Perjanjian Baru menerapkan kyrios kepada Yesus dalam konteks kutipan atau gema teks-teks yang berbicara mengenai YHWH, persoalannya tidak lagi semata-mata bersifat leksikal, melainkan kristologis dan ontologis.

Kajian terhadap Filipi 2:9–11, Roma 10:9–13, 1 Korintus 8:6, Markus 1:2–3, dan Yohanes 20:28 menunjukkan bahwa Perjanjian Baru tidak sekadar memberikan gelar kehormatan kepada Yesus, melainkan menempatkan-Nya dalam identitas, otoritas, fungsi, kehormatan, dan pengakuan universal yang dalam monoteisme Yahudi merupakan milik Allah Israel. Oleh karena itu, formulasi akademis yang paling tepat bukanlah “kyrios = theos”, melainkan bahwa dalam konteks-konteks tertentu, pengakuan Yesus sebagai Kyrios merupakan salah satu cara utama Perjanjian Baru memasukkan Yesus ke dalam identitas ilahi Allah Israel, sementara theos dan kyrios tetap merupakan dua leksem yang berbeda secara linguistik.

Kata kunci: κύριος, θεός, YHWH, Septuaginta, Kristologi, monoteisme Yahudi, Filipi 2:9–11, Roma 10:9–13, Yohanes 20:28.

1. Pendahuluan: Masalah Kyrios dalam Kristologi

Salah satu persoalan yang paling sering muncul dalam diskusi mengenai keilahian Yesus adalah kenyataan bahwa Perjanjian Baru tidak selalu menggunakan predikat theos bagi Yesus. Dalam Injil Sinoptik, misalnya, Yesus terutama diperkenalkan melalui kategori-kategori seperti Mesias, Anak Allah, Anak Manusia, Guru, dan Kyrios. Karena itu muncul pertanyaan: jika Yesus sungguh Allah, mengapa Ia selama pelayanan-Nya tidak secara konstan disebut theos?

Pertanyaan tersebut sebenarnya mengandung asumsi linguistik yang perlu diperiksa kembali. Kekristenan abad pertama tidak menyusun Kristologi dengan kategori metafisik yang kemudian menjadi dominan dalam perdebatan konsili abad keempat. Gereja mula-mula tidak memulai dengan istilah homoousios, melainkan dengan bahasa dan kategori yang diwarisi dari Kitab Suci Israel.

Karena itu persoalan yang lebih tepat bukan:

“Apakah kata kyrios secara kamus berarti theos?”

Jawabannya jelas: tidak.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apakah Perjanjian Baru menggunakan kyrios bagi Yesus dengan cara yang memasukkan Yesus ke dalam identitas, fungsi, kehormatan, dan otoritas yang dalam monoteisme Israel merupakan milik YHWH?”

Pertanyaan kedua inilah yang mempunyai bobot kristologis.

2. Etimologi dan Morfologi Kyrios (κύριος)

2.1 Bentuk leksikal

Bentuk dasar yang digunakan dalam leksikon Yunani adalah:

κύριος Transliterasinya: kyrios Pengucapan Koine secara rekonstruktif kira-kira:

[ˈky.ri.os]

Dalam bahasa Yunani klasik dan Koine, kyrios mempunyai medan makna yang berkaitan dengan kuasa, otoritas, penguasaan, kepemilikan, dan status sebagai tuan atau penguasa. LSJ memberikan pengertian dasar yang berkaitan dengan “having power” dan “lord, master”. (Perseus Atlas)

BDAG juga menempatkan gagasan power atau authority sebagai dasar semantis yang penting. Dari sana berkembang penggunaan kyrios untuk pemilik, tuan, penguasa, majikan, dan kemudian sebagai gelar religius. (Agathon Library)

Secara etimologis, kyrios berhubungan dengan κῦρος (kyros), yaitu gagasan mengenai kekuasaan, otoritas, atau validitas. Karena itu hubungan semantis paling mendasar dapat digambarkan:

κῦρος → κύριος → otoritas/penguasa/tuan

Namun perlu ditekankan bahwa hubungan etimologis tidak boleh secara otomatis dijadikan definisi setiap penggunaan kata. Makna sebuah kata dalam teks tertentu ditentukan oleh konteks sintaksis, semantis, pragmatis, dan historisnya.


2.2 Morfologi kyrios

Secara morfologis, κύριος dapat berfungsi sebagai:

  1. adjektiva, “berkuasa”, “milik tuan”, “berotoritas”; dan

  2. nomina substantivis, “tuan”, “pemilik”, “penguasa”, “Tuhan”.

Bentuk substantival maskulinnya adalah:

ὁ κύριοςho kyrios“sang tuan / Tuhan”

Paradigma dasarnya:

Kasus

Singular

Plural

Nominatif

ὁ κύριος

οἱ κύριοι

Genitif

τοῦ κυρίου

τῶν κυρίων

Dativus

τῷ κυρίῳ

τοῖς κυρίοις

Akusatif

τὸν κύριον

τοὺς κυρίους

Vokatif

κύριε

κύριοι

Bentuk yang sangat penting dalam pengakuan Kristen adalah:

κύριε — kyrie

yaitu bentuk vokatif singular, “Tuan!” atau “Tuhan!”

Sedangkan dalam formula:

κύριος Ἰησοῦς Χριστός

kyrios berada dalam nominatif singular maskulin dan berfungsi sebagai predikat atau gelar terhadap Yesus Kristus. Contoh penting terdapat dalam Filipi 2:11:

κύριος Ἰησοῦς Χριστός

“Jesus Christ is Lord.”

Dengan demikian, kyrios dalam formula tersebut bukan sekadar bunyi atau gelar liturgis; secara sintaksis ia menjadi predikasi identitas dan status terhadap Yesus.

3. Theos (θεός): Etimologi dan Morfologi

Berbeda dengan kyrios, kata:

θεός — theos

merupakan nomina yang berarti:

Allah, dewa, atau ilah.

Dalam bahasa Yunani, theos juga dapat digunakan dalam konteks politeistik untuk dewa-dewa, sehingga maknanya ditentukan oleh konteks monoteistik Yahudi atau politeistik Yunani-Romawi.

Morfologinya adalah:

Kasus

Singular

Plural

Nominatif

θεός

θεοί

Genitif

θεοῦ

θεῶν

Dativus

θεῷ

θεοῖς

Akusatif

θεόν

θεούς

Vokatif

θεέ

θεοί

Karena itu secara linguistik:

κύριος ≠ θεός

Tidak ada dasar etimologis untuk mengatakan bahwa kedua kata tersebut merupakan sinonim.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa karena kyrios dapat berarti “Tuhan”, maka kyrios secara otomatis identik dengan theos. Secara filologis kesimpulan itu tidak sah.

Persoalannya baru menjadi teologis ketika kita bertanya:

Siapakah Kyrios itu dalam konteks tertentu?

4. Dari Kyrios sebagai “Tuan” menuju “Tuhan”

Dalam bahasa Yunani umum, seseorang dapat disebut kyrios tanpa menjadi Allah.

Pemilik rumah dapat disebut kyrios.

Pemilik kebun dapat disebut kyrios.

Majikan dapat disebut kyrios.

Penguasa dapat disebut kyrios.

Bahkan seorang manusia dapat dipanggil kyrios sebagai bentuk penghormatan.

BDAG menunjukkan bahwa penggunaan kyrios dalam Perjanjian Baru mencakup pemilik, majikan, penguasa, dan sapaan kehormatan, selain penggunaannya sebagai gelar ilahi. (Agathon Library)

Dengan demikian, kita harus menolak proposisi sederhana:

“Yesus disebut Kyrios, maka Kyrios pasti berarti Allah.”

Tetapi kita juga harus menolak proposisi yang berlawanan:

“Karena kyrios dapat berarti tuan manusia, maka ketika dikenakan kepada Yesus ia tidak mempunyai arti ilahi.”

Keduanya merupakan reduksi.

5. Titik balik: Kyrios dalam Septuaginta

Persoalan menjadi jauh lebih kompleks ketika kita memasuki dunia Septuaginta.

Septuaginta adalah tradisi penerjemahan Kitab Suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Dalam tradisi tersebut, κύριοςdigunakan sebagai salah satu representasi utama bagi nama ilahi:

יהוה — YHWH

Penelitian Martin Rösel menunjukkan bahwa para penerjemah Septuaginta sudah menggunakan kyrios sebagai representasi Tetragrammaton dalam tradisi awal Septuaginta, dan bahwa pemilihan tersebut bukan semata-mata keputusan linguistik tetapi juga memiliki dimensi teologis. (Sage Journals)

Namun, secara akademis kita harus membuat pembedaan penting.

Tidak tepat mengatakan:

“Kyrios adalah nama Ibrani YHWH dalam bentuk Yunani.”

Lebih presisi mengatakan:

Kyrios merupakan istilah Yunani yang dalam tradisi Septuaginta digunakan untuk merepresentasikan atau menerjemahkan YHWH dalam berbagai tradisi tekstual.

Nagel secara tepat mengingatkan bahwa secara linguistik kyrios bukan “jenis Allah” atau nama ilahi Ibrani itu sendiri. Ia merupakan istilah Yunani yang digunakan untuk merepresentasikan nama tersebut. (HTS Teologiese Studies)

Pembedaan ini sangat penting karena mencegah kita melakukan penyamaan etimologis yang tidak sah.

6. Dari YHWH → Kyrios → Kristologi

Di sinilah persoalan menjadi luar biasa penting.

Jika pembaca Yahudi berbahasa Yunani membaca:

κύριος

dalam suatu ayat yang secara tradisional merujuk kepada YHWH, kyrios mempunyai resonansi teologis yang lebih besar daripada kata “tuan” dalam bahasa sehari-hari.

Kemudian Perjanjian Baru menggunakan kyrios bagi Yesus.

Maka pertanyaan kritisnya bukan lagi:

“Apakah kyrios berarti Tuhan?”

melainkan:

“Apakah teks Perjanjian Baru memindahkan teks, tindakan, hak, atau kehormatan YHWH kepada Yesus?”

Jika jawabannya ya, maka penggunaan kyrios bagi Yesus memiliki implikasi kristologis yang sangat tinggi.

7. Filipi 2:9–11: Kyrios dan Yesaya 45

Salah satu contoh paling penting adalah Filipi 2:9–11.

Paulus mengatakan bahwa Allah meninggikan Yesus sehingga:

“dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan di bumi dan di bawah bumi.”

Kemudian:

πᾶσα γλῶσσα ἐξομολογήσηται ὅτι κύριος Ἰησοῦς Χριστός

“setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.”

Latar belakang tekstualnya sangat penting.

Yesaya 45:23 berbicara tentang YHWH:

setiap lutut akan bertelutdan setiap lidah akan bersumpah.

Dalam konteks Yesaya, tindakan universal tersebut ditujukan kepada YHWH.

Filipi 2 mengambil pola tersebut dan menerapkannya kepada Yesus yang ditinggikan.

Penelitian terbaru Magnus Rabel dalam New Testament Studies menegaskan bahwa hubungan Filipi 2:10–11 dengan Yesaya 45:23 sangat signifikan: YHWH dalam Yesaya adalah objek pengakuan universal, sedangkan dalam Filipi Yesus yang ditinggikan menerima pengakuan universal sebagai Kyrios. (Cambridge University Press)

Karena itu argumentasinya bukan:

kyrios berarti theos.

Melainkan:

fungsi dan referensi teologis yang dalam Yesaya diberikan kepada YHWH sekarang diterapkan kepada Yesus.

Inilah argumen yang jauh lebih kuat.

8. Roma 10:9–13 dan nama Kyrios

Pola serupa terdapat dalam Roma 10.

Paulus menghubungkan keselamatan dengan pengakuan:

Ἰησοῦς κύριος

“Jesus is Lord.”

Kemudian Roma 10:13 mengutip Yoel 2:32:

“Setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.”

Dalam konteks Yoel, “Tuhan” tersebut menunjuk kepada YHWH.

Yang menarik adalah bahwa konteks Roma 10:9–13 telah berbicara tentang Yesus.

Karena itu penelitian terhadap Roma 10:13 menunjukkan bahwa persoalan referen kyrios di dalam ayat tersebut merupakan salah satu pusat perdebatan akademis mengenai Kristologi Paulus. Studi filologis modern bahkan menyimpulkan bahwa indikator gramatikal dan kontekstual mendukung pembacaan kyrios sebagai merujuk kepada Yesus dalam konteks tersebut. (SciELO)

Dengan demikian struktur argumentasinya menjadi:

YHWH adalah Tuhan yang menyelamatkan

↓

berseru kepada nama YHWH = memperoleh keselamatan

↓

Paulus menerapkan struktur pengakuan tersebut dalam konteks:

Yesus adalah Kyrios

↓

berseru kepada Kyrios = keselamatan.

Sekali lagi, persoalannya bukan sinonimi leksikal, tetapi transfer referensial dan kristologis.

9. 1 Korintus 8:6 dan monoteisme Yahudi

Teks yang lebih subtil adalah 1 Korintus 8:6:

ἀλλ᾽ ἡμῖν εἷς θεὸς ὁ πατήρ ... καὶ εἷς κύριος Ἰησοῦς Χριστός

“Namun bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa ... dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus.”

Secara superfisial seseorang dapat mengatakan:

Bapa = theos Yesus = kyriosmaka Yesus bukan theos.

Namun argumentasi tersebut terlalu sederhana.

Paulus sedang berbicara dalam lingkungan monoteisme Yahudi.

Latar belakang yang sangat mungkin adalah Shema:

“TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.”

Yang dilakukan Paulus bukanlah menghapus monoteisme Israel, melainkan menyusun kembali pengakuan monoteistik tersebut secara kristologis:

εἷς θεός — satu Allah εἷς κύριος — satu Tuhan

Bapa dan Yesus dibedakan, tetapi Yesus tidak ditempatkan di luar struktur monoteistik tersebut. Inilah salah satu alasan Richard Bauckham berbicara tentang divine identity. Pertanyaan utama bukan sekadar apakah Yesus memiliki “atribut Allah”, tetapi apakah Yesus ditempatkan di dalam identitas unik Allah Israel.

10. Markus 1:2–3: jalan bagi YHWH dan kedatangan Yesus

Markus membuka Injilnya dengan mengutip teks yang berkaitan dengan persiapan jalan bagi Tuhan.. Dalam Yesaya 40:3, suara tersebut berkaitan dengan persiapan jalan bagi YHWH.

Markus menerapkan pola tersebut pada kedatangan Yesus.

Struktur teologisnya menjadi:

YHWH datang → persiapkan jalan bagi-Nya

dan dalam narasi Markus:

persiapkan jalan → Yohanes Pembaptis → pelayanan Yesus.

Dengan demikian Markus membangun sebuah hubungan intertekstual yang tidak boleh direduksi menjadi sekadar penggunaan gelar.

Yesus tampil dalam ruang naratif yang dalam Kitab Yesaya merupakan ruang kedatangan YHWH.

11. Yohanes 20:28: Kyrios dan Theos secara eksplisit

Jika seseorang bertanya:

“Apakah Perjanjian Baru pernah secara eksplisit menggunakan theos terhadap Yesus?”

Jawabannya adalah:

ya.

Yohanes 20:28:

ὁ κύριός μου καὶ ὁ θεός μου
“Tuhanku dan Allahku.”

Secara morfologis:

  • ὁ κύριός = nominatif singular maskulin, dengan artikel, “Tuhan/Tuanku”

  • μου = genitif singular orang pertama, “-ku”

  • καί = konjungsi, “dan”

  • ὁ θεός = nominatif singular maskulin dengan artikel, “Allah”

  • μου = “-ku”

Strukturnya:

ὁ κύριός μου“Tuhanku”

dan

ὁ θεός μου“Allahku.”

Kedua predikasi tersebut diarahkan kepada Yesus dalam narasi.

Yang sangat penting adalah bahwa teks ini tidak mengatakan:

“Yesus adalah kyrios, tetapi bukan theos.”

Sebaliknya, Tomas menggabungkan kedua predikat tersebut dalam satu pengakuan iman:

“Tuhanku dan Allahku.”

Dengan demikian Yohanes menyediakan sesuatu yang berbeda dari Paulus: Paulus sering bekerja secara intertekstual dengan kyrios dan teks-teks YHWH, sedangkan Yohanes 20:28 memberikan predikasi theos secara eksplisit.

12. Mengapa Yesus tidak selalu disebut Theos selama hidup-Nya?

Pertanyaan ini sekarang dapat dijawab dengan lebih presisi.

Pertama, karena θεός bukan satu-satunya kategori yang tersedia untuk berbicara mengenai identitas ilahi Yesus.

Perjanjian Baru menggunakan berbagai kategori:

  • Kyrios,

  • Anak Allah,

  • Anak Manusia,

  • Firman,

  • Hikmat,

  • gambar Allah,

  • Mesias,

  • Yang Kudus,

  • Anak,

  • dan berbagai formula lainnya.

Kedua, bahasa Kristologi Perjanjian Baru masih berada dalam horizon monoteisme Yahudi.

Ketiga, kategori kyrios sangat strategis karena memungkinkan para penulis Kristen menyatakan hubungan Yesus dengan YHWH tanpa menghapus pembedaan antara Yesus dan Bapa.

Dengan kata lain, pertanyaan:

“Mengapa Yesus tidak sering disebut theos?”

tidak dapat dijawab dengan:

“Karena gereja mula-mula belum percaya Yesus adalah Allah.”

Data Perjanjian Baru terlalu kompleks untuk kesimpulan tersebut.

Sebaliknya, pola tekstual menunjukkan bahwa gereja mula-mula menggunakan sejumlah strategi kristologis untuk mengekspresikan keunikan Yesus dalam monoteisme Yahudi.

13. Kyrios sebagai masalah semantik, bukan sekadar etimologi

Di sinilah prinsip linguistik yang sangat penting harus diterapkan.

Etimologi tidak sama dengan makna aktual.

Misalnya, kita dapat mengetahui sejarah sebuah kata, tetapi makna kata tersebut dalam sebuah kalimat harus ditentukan berdasarkan penggunaannya.

Demikian pula:

κύριος berasal dari medan makna kuasa/otoritas.

Tetapi dalam teks tertentu ia dapat berarti:

tuan, pemilik, majikan, penguasa, Tuhan, atau representasi ilahi.

Karena itu kita harus bergerak melalui empat tahap:

etimologi → morfologi → sintaksis → semantik dalam konteks.

Barulah setelah itu:

semantik → intertekstualitas → teologi.

Metode tersebut jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada memulai dari dogma lalu memaksa setiap kemunculan kyrios mendukung dogma tersebut.

14. Perbedaan antara Kyrios dan Theos

Dengan demikian perbedaan keduanya dapat dirumuskan sebagai berikut.

Aspek

κύριος (kyrios)

θεός (theos)

Kategori

Nomina/adjektiva

Nomina

Gender

Maskulin

Maskulin

Makna dasar

Tuan, pemilik, penguasa, yang berotoritas

Allah/dewa

Fokus semantis

Otoritas/status/penguasaan

Identitas ilahi

Dapat digunakan bagi manusia?

Ya

Ya, tetapi dalam konteks “dewa/ilah”

Dapat digunakan bagi Allah?

Ya

Ya

Dapat digunakan bagi Yesus?

Ya

Ya

Sinonim mutlak?

Tidak

Tidak

Implikasi ilahi selalu?

Tidak

Tidak selalu dalam konteks politeistik

Implikasi Kristologis tinggi?

Dalam konteks tertentu, sangat kuat

Dalam konteks tertentu, eksplisit

Maka formula:

Kyrios = Theos

harus ditolak jika dimaksudkan sebagai identitas leksikal.

Tetapi formula:

Jesus as Kyrios can be included within the divine identity

merupakan proposisi yang jauh lebih defensibel secara akademis.

15. Dimensi Yahudi: Kyrios dan monoteisme

Hal yang sering dilupakan dalam diskusi populer adalah bahwa Kristologi awal tidak muncul dalam ruang hampa Yunani-Romawi.

Yesus dan para rasul adalah bagian dari dunia Yahudi.

Monoteisme Yahudi bukan sekadar pernyataan bahwa “hanya ada satu dewa”. Ia merupakan pengakuan bahwa:

YHWH adalah satu-satunya Allah Israel dan satu-satunya pencipta, penguasa, hakim, dan objek penyembahan yang sejati.

Karena itu ketika fungsi-fungsi tersebut diberikan kepada Yesus, konsekuensinya jauh lebih besar daripada sekadar pemberian gelar kehormatan.

Inilah alasan mengapa Bauckham menekankan konsep divine identity.

Pertanyaannya bukan:

“Apakah Yesus memiliki sifat yang dimiliki Allah?”

tetapi:

“Apakah Yesus ditempatkan dalam identitas unik yang hanya dimiliki oleh Allah Israel?”

Jika jawabannya ya, maka Kristologi tersebut secara substansial tinggi meskipun kata theos tidak digunakan pada setiap kesempatan.

16. Dimensi devosional dan mistis

Pengakuan:

Ἰησοῦς κύριος

bukan sekadar pernyataan akademis mengenai status metafisik.

Ia juga merupakan pengakuan iman.

Yesus adalah:

  • objek doa,

  • objek pujian,

  • objek pengakuan,

  • pusat keselamatan,

  • hakim eskatologis,

  • dan pusat kehidupan komunitas.

Larry Hurtado menekankan pentingnya devotion to Jesus dalam Kekristenan paling awal. Fenomena tersebut sangat penting karena gereja awal tetap berada dalam lingkungan monoteisme Yahudi tetapi memberikan penghormatan luar biasa kepada Yesus. Dengan demikian, Kristologi tinggi tidak harus dianggap sebagai produk akhir abad-abad kemudian. (Agathon Library)

Dalam pengertian mistis-teologis, pengakuan:

“Yesus adalah Kyrios”

berarti bahwa keberadaan manusia ditempatkan di bawah otoritas Kristus dan bahwa keselamatan Allah dialami melalui pribadi Kristus.

Dengan demikian Kyrios memiliki dimensi:

linguistik → kristologis → liturgis → soteriologis → eskatologis.

17. Dari Kyrios menuju doktrin Tritunggal

Namun harus dijaga satu batas metodologis.

Doktrin Tritunggal tidak boleh dibangun hanya dari kata kyrios.

Doktrin tersebut merupakan hasil sintesis dari berbagai data Kitab Suci:

  1. Allah itu esa.

  2. Bapa adalah Allah.

  3. Yesus memiliki status ilahi.

  4. Roh Kudus memiliki status dan fungsi ilahi.

  5. Bapa, Anak, dan Roh dibedakan.

  6. Namun ketiganya tidak menghasilkan tiga Allah.

  7. Gereja kemudian membutuhkan kategori ontologis yang lebih presisi.

Karena itu istilah homoousios dalam Konsili Nicea tidak boleh dianggap sebagai kata yang sekadar menggantikan kyrios.

Kyrios adalah kategori Perjanjian Baru.

Homoousios adalah kategori dogmatis yang muncul kemudian untuk menjelaskan konsekuensi teologis dari data Kitab Suci.


Keduanya harus dibedakan.

18. Kesimpulan: apakah Kyrios bagi Yesus adalah Theos?

Kesimpulan akademis yang paling presisi dapat dirumuskan dalam empat tingkat.

Pertama: secara etimologis

κύριος dan θεός berbeda.

Tidak ada dasar untuk menyamakan keduanya sebagai sinonim.

Kedua: secara morfologis

Keduanya merupakan nomina Yunani dengan paradigma yang berbeda dan mempunyai fungsi sintaksis yang berbeda.

Ketiga: secara semantis

Kyrios dapat berarti “tuan”, “pemilik”, “penguasa”, atau “Tuhan”, bergantung pada konteks.

Keempat: secara kristologis

Dalam sejumlah konteks Perjanjian Baru, kyrios yang dikenakan kepada Yesus memiliki makna yang jauh melampaui gelar kehormatan biasa karena Yesus ditempatkan dalam pola Kitab Suci yang sebelumnya berbicara tentang YHWH.

Maka proposisi yang paling tepat bukan:

“Kyrios berarti Theos.”

melainkan:

“Κύριος (kyrios) dan θεός (theos) bukan sinonim secara leksikal; namun dalam sejumlah teks kristologis Perjanjian Baru, pengakuan Yesus sebagai Kyrios menempatkan Dia dalam identitas ilahi Allah Israel karena teks, fungsi, kehormatan, nama, dan tindakan yang secara monoteistik berkaitan dengan YHWH diterapkan kepada-Nya.”

Dan Yohanes 20:28 memperkuatnya secara eksplisit:

ὁ κύριός μου καὶ ὁ θεός μου
“Tuhanku dan Allahku.”

Karena itu, secara akademis kita dapat mengatakan:

Yesus tidak disebut ilahi semata-mata karena kata Kyrios. Yesus disebut dan diperlakukan sebagai ilahi karena keseluruhan pola kesaksian Perjanjian Baru menempatkan Dia dalam identitas, otoritas, karya, kehormatan, penyembahan, dan keselamatan yang dalam monoteisme Israel merupakan prerogatif Allah; dan dalam Yohanes 20:28, predikat Kyrios bahkan berdampingan secara eksplisit dengan Theos.

Dengan demikian, Kristologi Kyrios merupakan salah satu jembatan utama antara monoteisme Israel dan pengakuan gereja bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh mengambil bagian dalam identitas ilahi, tanpa menjadikan kyrios dan theos sebagai sinonim linguistik.



Catatan kaki akademis

[1] Henry George Liddell, Robert Scott, and Henry Stuart Jones, A Greek-English Lexicon, s.v. “κύριος.” LSJ memberikan medan makna dasar kyrios sebagai “having power” dan “lord, master.” (Perseus Atlas)

[2] Frederick William Danker, ed., A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2000), s.v. “κύριος.” BDAG menghubungkan penggunaan kyrios dengan konsep power, authority, ownership, lordship, dan penggunaan religius. (Agathon Library)

[3] Martin Rösel, “The Reading and Translation of the Divine Name in the Masoretic Tradition and the Greek Pentateuch,” Journal for the Study of the Old Testament 31, no. 4 (2007): 411–428. Rösel menunjukkan pentingnya kyriossebagai representasi Yunani bagi Tetragrammaton dalam tradisi Septuaginta. (Sage Journals)

[4] Peter Nagel, “The New Testament κύριος Problem and How the Old Testament Speeches Can Help Solve It,” HTS Teologiese Studies/Theological Studies 76, no. 4 (2020). Nagel secara khusus memperingatkan bahwa kyrios tidak boleh secara linguistik disamakan begitu saja dengan YHWH; persoalannya adalah bagaimana istilah tersebut berfungsi sebagai representasi nama ilahi dalam tradisi Yunani. (HTS Teologiese Studies)

[5] Magnus Rabel, “The Entire Cosmos’ Voluntary and Involuntary Homage to Jesus as Lord: An Investigation into the Scope and Background of Philippians 2.9–11 in Psalm 148 and Isaiah 45.20–5,” New Testament Studies (2025). Artikel ini memberikan analisis terbaru mengenai hubungan Filipi 2:9–11 dengan Yesaya 45:23 dan pengakuan universal terhadap Kyrios. (Cambridge University Press)

[6] Jason A. Staples, “‘Lord, Lord’: Jesus as YHWH in Matthew and Luke,” New Testament Studies. Studi ini membahas penggunaan Kyrios dalam Injil dan hubungannya dengan identitas YHWH. (Cambridge University Press)

[7] Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity (Grand Rapids: Eerdmans, 2008). Karya ini sangat penting untuk pendekatan “divine identity” terhadap Kristologi Perjanjian Baru.

[8] Larry W. Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (Grand Rapids: Eerdmans, 2003/2005). Hurtado menunjukkan pentingnya praktik devosi kepada Yesus dalam Kekristenan paling awal.

[9] Untuk Roma 10:13, lihat studi mengenai hubungan kutipan Yoel 2:32 dengan penggunaan Kyrios dalam Roma 10 dan persoalan referensinya kepada Yesus. Kajian tersebut menunjukkan pentingnya indikator gramatikal dan konteks naratif dalam menentukan referen Kyrios. (SciELO)


 
 
 

Komentar


bottom of page