Eksegesis Mendalam Kisah Para Rasul 2:36
Diperbarui: 3 jam yang lalu
Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono
Ringkasan eksekutif

Kisah Para Rasul 2:36 adalah klimaks argumentasi Petrus pada hari Pentakosta:
ἀσφαλῶς οὖν γινωσκέτω πᾶς οἶκος Ἰσραὴλ ὅτι καὶ κύριον αὐτὸν καὶ χριστὸν ἐποίησεν ὁ θεός, τοῦτον τὸν Ἰησοῦν ὃν ὑμεῖς ἐσταυρώσατε.
Secara sangat literal: “Maka, dengan pasti hendaklah seluruh rumah Israel mengetahui bahwa Allah telah menjadikan dia — yakni Yesus ini yang kamu salibkan — baik Tuhan maupun Kristus.” Teks Indonesia TB menangkap struktur pokoknya: “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” [1]
Ada empat kesimpulan utama.
Pertama, secara gramatikal, ἐποίησεν (epoiēsen, “membuat/menjadikan”) tidak dengan sendirinya berarti “menciptakan dari tidak ada” atau “mengubah seorang manusia biasa menjadi ilahi”.Konstruksinya adalah penggunaan faktitif ποιέω: objek + predikat objek, yakni “menjadikan/menetapkan seseorang sebagai X”. Objeknya adalah αὐτόν / τοῦτον τὸν Ἰησοῦν, sedangkan κύριον dan χριστόν adalah dua predikat akusatif: “menjadikan dia Tuhan dan Kristus”. Konteks langsung menjelaskan tindakan itu melalui kebangkitan, peninggian ke kanan Allah, pemberian Roh, dan penggenapan Mazmur 110:1 dalam Kis 2:32–35. [2]
Kedua, dalam kristologi Lukas sendiri, ayat ini hampir tidak mungkin berarti bahwa Yesus baru pertama kali menjadi Mesias setelah Paskah. Injil Lukas sudah menyebut bayi Yesus σωτὴρ … Χριστὸς κύριος, “Juruselamat … Kristus Tuhan” (Luk 2:11); selama pelayanan-Nya identitas mesianik-Nya telah diketahui dan diakui. Karena itu, “Allah membuat Dia Tuhan dan Kristus” paling alami dibaca sebagai penobatan, vindikasi, manifestasi dan pelaksanaan eskatologis dari status/keberadaan yang sudah melekat pada Yesus, bukan penciptaan identitas baru. Katekismus Katolik membuat pembedaan ini secara eksplisit: Yesus sudah dikonsekrasi dan diutus sejak awal, sementara sesudah kebangkitan kerajaan mesianik-Nya dapat diproklamasikan secara penuh oleh Petrus dengan Kis 2:36. [3]
Ketiga, sejarah tafsir memperlihatkan dua tekanan yang perlu dipertahankan bersama. Athanasius menolak pembacaan Arian/adopsionis dan mengatakan bahwa “dibuat” berkenaan dengan kemanusiaan, karya penebusan dan manifestasi pemerintahan Kristus terhadap kita; Calvin juga memahami ayat sebagai Allah memberikan dan memanifestasikan kepada Israel Sang Mesias yang sekarang memerintah. Sebaliknya, sejumlah penelitian sejarah agama Kristen awal melihat Kis 2:36 sebagai salah satu ekspresi paling jelas dari exaltation Christology: Yesus menerima jabatan pemerintahan mesianik pada kebangkitan/peninggian. C. Kavin Rowe secara khusus berargumen bahwa pembacaan ini tidak boleh dibuat bertentangan dengan kristologi Lukas secara keseluruhan. [4]
Keempat, kritik teks tidak mengubah persoalan teologis tersebut. Tradisi Yunani awal dan kemudian semuanya mempertahankan inti: Allah – Yesus yang disalibkan – Tuhan – Kristus – ποιέω. Variasi terutama berupa susunan kata dan penempatan αὐτόν, ὁ θεός, serta dalam sebagian tradisi salah satu καί; bukan varian yang mengubah “menjadikan” menjadi “menciptakan”, atau menghilangkan “Tuhan” maupun “Kristus”. Codex Sinaiticus adalah saksi abad keempat yang dapat diperiksa melalui faksimile digital resmi; Vaticanus juga merupakan majuskul abad keempat yang memuat Kisah Para Rasul. [5]
Dengan demikian, tesis eksegetis yang paling kuat adalah:
Kis 2:36 berbicara terutama mengenai penobatan pasca-kebangkitan: Allah telah secara publik dan efektif menempatkan Yesus yang ditolak dan disalibkan Israel dalam pemerintahan eskatologis sebagai Mesias dan Tuhan. Ini adalah perubahan dalam modus pelaksanaan dan manifestasi jabatan-Nya, bukan bukti bahwa sebelum itu Yesus bukan Mesias atau bahwa eksistensi/keilahian-Nya baru dimulai pada Pentakosta. [6]
Teks Yunani, interlinear, dan analisis gramatikal
Teks kritis dan interlinear literal
Teks yang dicetak dalam tradisi kritis modern NA28/UBS5 adalah:
ἀσφαλῶς οὖν γινωσκέτω πᾶς οἶκος Ἰσραὴλ ὅτι καὶ κύριον αὐτὸν καὶ χριστὸν ἐποίησεν ὁ θεός, τοῦτον τὸν Ἰησοῦν ὃν ὑμεῖς ἐσταυρώσατε.
Bentuk κύριον di ayat ini secara morfologis memang akusatif maskulin tunggal, dan teks Yunani yang diindeks secara daring memperlihatkan urutan kritis ὅτι καὶ κύριον αὐτὸν καὶ …. [7]
Yunani | Transliterasi | Glosa literal | Fungsi |
ἀσφαλῶς | asphalōs | dengan pasti / secara pasti | adverbia, menerangkan γινωσκέτω |
οὖν | oun | maka / karena itu | konjungsi inferensial |
γινωσκέτω | ginōsketō | hendaklah ia mengetahui | imperatif kini aktif 3 sg |
πᾶς | pas | seluruh / setiap | nom. mask. sg |
οἶκος | oikos | rumah / keluarga | nom. mask. sg, subjek |
Ἰσραήλ | Israēl | Israel | nama diri tak berubah bentuk |
ὅτι | hoti | bahwa | memperkenalkan isi “mengetahui” |
καὶ | kai | baik / juga | unsur pertama korelasi καὶ … καί |
κύριον | kyrion | Tuhan / penguasa | akusatif predikatif |
αὐτόν | auton | dia | akusatif, objek ἐποίησεν |
καὶ | kai | dan | koordinasi predikat kedua |
χριστόν | christon | Kristus / Yang Diurapi | akusatif predikatif |
ἐποίησεν | epoiēsen | ia telah membuat/menjadikan | aoristus aktif indikatif 3 sg |
ὁ θεός | ho theos | Allah | nominatif, subjek |
τοῦτον | touton | yang ini / ini | demonstratif akusatif |
τὸν Ἰησοῦν | ton Iēsoun | Yesus | akusatif, apposisi pada αὐτόν |
ὃν | hon | yang | rel. pron. akusatif, objek ἐσταυρώσατε |
ὑμεῖς | hymeis | kamu sekalian | nom. plural, eksplisit/emfatik |
ἐσταυρώσατε | estaurōsate | kamu telah menyalibkan | aoristus aktif indikatif 2 pl |
Terjemahan interlinear yang sengaja mempertahankan strukturnya:
“Dengan pasti maka hendaklah-mengetahui seluruh rumah Israel bahwa baik Tuhan dia dan Kristus telah-menjadikan Allah—Yesus yang ini, yang kamu-sekalian telah-salibkan.”
Dalam bahasa Indonesia idiomatis:
“Karena itu hendaklah seluruh kaum Israel mengetahui dengan pasti: Allah telah menetapkan dia—Yesus ini yang kamu salibkan—sebagai Tuhan sekaligus Kristus.”
“Menetapkan” dalam terjemahan terakhir adalah interpretasi semantis terhadap konstruksi, bukan penggantian teks Yunani. TB mempertahankan bentuk lebih dekat dengan ποιέω, yakni “membuat … menjadi”. SABDA juga mencatat terjemahan Indonesia yang memakai gagasan “menetapkan … sebagai”, memperlihatkan dua strategi penerjemahan yang sah. [8]
Analisis leksikal dan etimologis
ἀσφαλῶς — “dengan pasti”. Kata ini adalah adverbia dari ἀσφαλής, secara historis berhubungan dengan gagasan “tidak tergelincir/tidak jatuh”, dan karenanya “aman, kokoh, pasti” (bandingkan keluarga σφάλλω, “menjatuhkan/menyebabkan tersandung”). Di sini artinya epistemik: Israel bukan sekadar “sebaiknya mempertimbangkan”, melainkan harus mengetahui sebagai kepastian kesimpulan yang dibangun dari kebangkitan, kesaksian para rasul dan Kitab Suci. Menariknya, Lukas menggunakan keluarga kata yang sama dalam prolognya: tujuan tulisannya ialah agar Teofilus mengetahui ἀσφάλεια, “kepastian”, dari hal-hal yang diajarkan kepadanya; penelitian tentang retorika Lukas telah mencatat hubungan antara Luk 1:4 dan klimaks “ketahuilah dengan pasti” dalam Kis 2:36. [9]
οὖν — “karena itu/maka”. Ini sangat penting. Ayat 36 bukan pernyataan kristologis yang jatuh dari langit tanpa premis. οὖν menandai kesimpulan dari vv. 22–35: Yesus dibunuh; Allah membangkitkan-Nya; Daud telah menubuatkan kebangkitan; Yesus ditinggikan; Roh dicurahkan; Mazmur 110:1 diterapkan kepada-Nya. Karena itu, makna “Allah menjadikan” harus ditafsirkan dalam rangkaian kebangkitan–peninggian–penobatan, bukan terisolasi sebagai pernyataan tentang awal eksistensi Yesus. Kis 2:32–35 sendiri menyusun persis urutan itu. [10]
γινωσκέτω — “hendaklah mengetahui”. Bentuknya present active imperative, orang ketiga tunggal dari γινώσκω. Subjek gramatikal tunggal adalah πᾶς οἶκος Ἰσραήλ, “seluruh rumah Israel”. Present imperative memberi perintah untuk menerima dan memegang kepastian tersebut; fokusnya bukan informasi netral tetapi keputusan pengakuan iman yang kemudian menghasilkan reaksi “tertusuk hati” dalam v.37. [10]
πᾶς οἶκος Ἰσραήλ — “seluruh rumah Israel”. Oikos secara literal adalah rumah/keluarga, tetapi dalam idiom biblis “rumah Israel” berarti umat Israel sebagai korporasi. Ἰσραήλ adalah nama Semitik yang tak dideklinasi dalam Yunani, sehingga hubungan yang secara semantis kita sebut genitival—“rumah Israel”—tidak memiliki akhiran kasus Yunani terpisah. Penggunaan frasa ini juga menggarisbawahi bahwa pidato Petrus pada tahap ini diarahkan kepada Israel, bukan formulasi abstrak kepada dunia Helenistik. [10]
κύριον — “Tuhan/penguasa”. Lemanya κύριος mempunyai rentang “pemilik, tuan, penguasa, Lord”. Dalam Septuaginta, κύριος juga menjadi representasi utama nama ilahi YHWH. Karena itu arti di Kis 2:36 tidak boleh ditentukan hanya dari kamus: konteks Mazmur 110:1 di vv.34–35 dan kutipan Yoel tentang memanggil “nama Tuhan” di v.21 memberinya bobot kitabiah-teologis yang jauh lebih tinggi daripada sekadar “Pak” atau “majikan”. Tradisi Katolik juga menekankan bahwa Kyrios digunakan LXX untuk nama ilahi dan bahwa pengakuan “Yesus adalah Tuhan” memperoleh arti keilahian dalam iman Perjanjian Baru. [11]
Secara sintaksis κύριον tidak mempunyai artikel dan berada dalam akusatif predikatif. Ketiadaan artikel tidak berarti “seorang tuhan”; ia adalah gelar/predikat yang menjelaskan status objek αὐτόν.
χριστόν — “Kristus/Mesias”. χριστός berasal langsung dari χρίω, “mengurapi”: secara harfiah “yang diurapi”. Ia adalah padanan Yunani bagi konsep Ibrani māšîaḥ, “orang yang diurapi”. Dalam Alkitab Ibrani pengurapan dapat dikenakan kepada raja dan imam; pada periode Bait Kedua harapan eskatologis tidak seragam tetapi harapan tentang raja Daud yang memulihkan Israel menjadi sangat penting. Katekismus Katolik merangkum basis biblisnya: raja-raja terutama, para imam, dan dalam kasus tertentu para nabi dikonsekrasi melalui pengurapan, dan Yesus dipahami menggenapi fungsi-fungsi tersebut. [12]
καὶ κύριον … καὶ χριστόν — “baik Tuhan maupun Kristus”. Dua καί membentuk korelasi “baik … maupun/both … and”. Dua predikat itu berbeda tetapi berhubungan: χριστός menekankan identitas/office mesianik; κύριος menekankan otoritas dan pemerintahan. Pernyataan Petrus bukan semata “Yesus ternyata Mesias”, tetapi “Mesias yang kamu salibkan sekarang duduk dalam pemerintahan Tuhan yang ditafsirkan melalui Mazmur 110.”
ἐποίησεν — “telah membuat/menjadikan/menetapkan”. Ini aoristus aktif indikatif orang ketiga tunggal dari ποιέω. Secara leksikal ποιέω sangat luas: melakukan, membuat, menghasilkan, menyebabkan, menetapkan seseorang dalam suatu keadaan/jabatan. Yang menentukan arti di sini adalah sintaksis: ποιέω + objek akusatif + predikat akusatif. Jadi pola dasarnya:
ὁ θεός — subjek: Allahαὐτόν — objek: diaκύριον … καὶ χριστόν — predikat objek: Tuhan dan Kristus.
Dengan demikian “God made him X” adalah konstruksi faktitif/konstitutif. Secara gramatikal ayat tidak mengatakan “Allah menciptakan Yesus”; untuk mendapatkan pengertian itu seseorang harus memasukkannya dari luar sintaksis ayat. Pertanyaan yang sah justru: dalam arti apa Allah “menjadikan/menetapkan” Yesus sebagai Tuhan dan Mesias? Konteks vv.32–35 menjawab: melalui kebangkitan dan peninggian. [13]
ὁ θεός — “Allah”. Penempatan subjek sesudah verba memberi kalimat kontras retoris yang kuat. Yang menarik bukan hanya gelar Yesus tetapi dua pelaku yang berlawanan:
ὁ θεός … ἐποίησεν — Allah menjadikan/menobatkan Dia.ὑμεῖς ἐσταυρώσατε — kamu menyalibkan Dia.
Petrus dengan demikian membenturkan putusan manusia terhadap Yesus dengan putusan Allah tentang Yesus. Manusia mempermalukan-Nya sebagai terhukum; Allah membangkitkan, meninggikan dan menobatkan-Nya. Struktur pidato Kis 2:22–36 membuat antitesis ini eksplisit. [10]
τοῦτον τὸν Ἰησοῦν — “Yesus ini”. Demonstratif τοῦτον bukan hiasan. Frasa itu bersifat deiktik dan emfatik: bukan seorang Mesias abstrak atau figur lain, melainkan Yesus yang sama yang baru saja Petrus identifikasi sebagai orang Nazaret, disalibkan dan dibangkitkan. Αὐτόν sebelumnya kemudian diperjelas oleh apposisi “Yesus ini”.
Ἰησοῦν. Bentuk akusatif dari Ἰησοῦς, bentuk Yunani nama Semitik Yēšūaʿ/Yehôšūaʿ. Yang lebih penting secara naratif daripada etimologi nama adalah kontinuitas identitas: “Yesus ini” yang disalibkan adalah subjek yang sama yang dibangkitkan dan ditinggikan; peninggian bukan penggantian manusia Yesus oleh figur ilahi lain.
ὃν ὑμεῖς ἐσταυρώσατε — “yang kamu sendiri salibkan”. ὃν adalah akusatif relatif dan objek dari ἐσταυρώσατε; ὑμεῖς, yang sebenarnya tidak diperlukan karena orang sudah dikodekan dalam verba Yunani, dinyatakan secara eksplisit sehingga bersifat emfatik: “yang kamu salibkan.” Aoristus menunjuk peristiwa historis penyaliban. Secara retoris, inilah pukulan terakhir sebelum v.37: yang mereka tolak adalah orang yang Allah vindikasikan. [10]
Kritik teks, manuskrip, versi kuno, dan terjemahan
Stabilitas teks dan varian
Perlu membedakan dua hal. Ada variasi tekstual kecil dalam susunan kata Kis 2:36, tetapi tidak ada varian utama yang mengubah proposisi kristologisnya. Aparatus NA28/UBS5 dan tradisi edisi Bizantin menunjukkan bahwa persoalan terutama ialah posisi αὐτόν, ὁ θεός, verba, dan susunan pasangan καί … καί; semua cabang penting tetap membaca bahwa Allah ποιεῖν Yesus sebagai κύριος dan χριστός. Perbedaan-perbedaan itu lebih penting bagi sejarah transmisi daripada bagi doktrin ayat.
Tradisi / saksi | Bentuk relevan | Jenis perbedaan | Dampak terjemahan |
NA28 / UBS5; tradisi kritis awal | καὶ κύριον αὐτὸν καὶ χριστὸν ἐποίησεν ὁ θεός | αὐτόν ditempatkan setelah κύριον; subjek ὁ θεός sesudah verba | “Allah menjadikan dia baik Tuhan maupun Kristus” |
Tradisi Bizantin / Majority dan TR | secara umum menempatkan unsur sebagai καὶ κύριον καὶ Χριστὸν αὐτὸν ὁ θεὸς ἐποίησεν | susunan kata αὐτόν–θεός–ἐποίησεν berbeda | tetap: “Allah menjadikan Yesus Tuhan dan Kristus” |
Sinaiticus א/01 | mendukung inti teks kuno yang menjadi dasar tradisi kritis | tidak ada penggantian substantif atas κύριος/χριστός/ποιέω | tidak menghasilkan kristologi alternatif |
Vaticanus B/03 | saksi abad IV untuk Kisah Para Rasul | inti klausa sama | tidak mengubah arti “Lord and Christ” |
Alexandrinus A/02 | saksi besar abad V, khususnya penting di luar Injil | perbedaan ortografis/urutan tidak mengubah inti | tidak substantif |
P⁷⁴ | papirus Kisah Para Rasul yang sangat penting | saksi awal bagi teks Acts | mendukung stabilitas pokok klausa |
P⁹¹ | fragmen abad III yang mencakup Kis 2:30–37 | sangat fragmentaris; penting karena usianya | bukti bahwa konteks Kis 2:36 beredar sangat awal |
Sebagian saksi | variasi pada salah satu καί / susunan korelatif | partikel dan word order | paling jauh mengubah “both … and” menjadi “Lord and Christ”; tidak menghilangkan kedua gelar |
Karena daftar sigla yang sangat rinci dapat berbeda menurut apparatus yang dipakai, NA28/UBS5/ECM Acts harus menjadi otoritas terakhir untuk penugasan setiap tangan korektor dan subvarian, bukan tabel ringkas ini. Yang aman secara tekstual adalah bahwa tidak ada basis manuskrip awal untuk menerjemahkan ayat “Allah menciptakan Yesus sebagai makhluk” atau “Yesus baru ada setelah penyaliban”.
Codex Sinaiticus sendiri dijelaskan oleh proyek digital resminya sebagai manuskrip lebih dari 1.600 tahun yang lalu dan memuat salinan lengkap Perjanjian Baru Yunani tertua yang masih bertahan; proyek tersebut menyediakan citra serta transkripsi halaman manuskrip. [14] Codex Vaticanus/B 03 adalah majuskul abad keempat dan memuat Matius sampai 2 Tesalonika serta kitab-kitab umum, termasuk Kisah Para Rasul; CSNTM menyediakan deskripsi manuskrip dan menunjuk pembaca ke citra Vatican Library yang lebih baru. [15]
Faksimile yang relevan untuk pemeriksaan langsung:
· Codex Sinaiticus Project: citra dan transkripsi resmi dapat dipilih menurut kitab/pasal melalui halaman “See the Manuscript”. [16]
· Codex Vaticanus, GA 03: deskripsi dan pintu masuk faksimile melalui CSNTM/Vatican Library. [15]
· Codex Alexandrinus: British Library, Royal MS 1 D VIII, adalah volume Perjanjian Baru dari codex tersebut.
· Untuk kontrol apparatus: Nestle–Aland, Novum Testamentum Graece, ed. 28, ad Acts 2:36; UBS Greek New Testament, ed. 5; ECM, Acts of the Apostles.
Versi kuno
Latin. Codex Amiatinus/Vulgata membaca:
Certissime ergo sciat omnis domus Israhel quia et dominum eum et Christum deus fecit, hunc Iesum quem vos crucifixistis.
Ini sangat dekat secara struktur dengan Yunani: certissime = ἀσφαλῶς; dominum … Christum = κύριον … χριστόν; fecit Deus = ἐποίησεν ὁ θεός. Teks Codex Amiatinus yang tersedia secara digital mempertahankan tepat klausa tersebut. [17] Katekismus Latin Vatikan juga mengutip Kis 2:36 dalam bentuk “Dominum Eum et Christum Deus fecit”. [18]
Perhatikan bahwa Latin fecit sama seperti Yunani epoiēsen bersifat luas: “made/caused/constituted”. Jadi Vulgata pun tidak menyelesaikan pertanyaan teologis hanya dengan satu kata; konteks tetap menentukan apakah maksudnya penciptaan, pelantikan, manifestasi, atau tindakan kausatif lain.
Suryani Peshitta. Tradisi Suryani pada dasarnya menerjemahkan proposisi yang sama: seluruh rumah Israel harus mengetahui bahwa Allah menjadikan/menetapkan Yesus yang disalibkan itu Mārā/Lord dan Mšīḥā/Messiah. Koleksi manuskrip Dukhrana menyediakan sejumlah saksi Peshitta dan sumber leksikal Suryani untuk memeriksa tradisi ini. [19] Tidak ada perbedaan versi Suryani yang memberikan dasar bagi penghilangan salah satu dari dua gelar utama.
Koptik. Versi Sahidik dan kemudian Bohairik juga mempertahankan substansi “Allah menjadikan Dia Tuhan dan Kristus”. Rujukan edisi klasik utama untuk penelitian adalah G. W. Horner, The Coptic Version of the New Testament in the Southern Dialect (Sahidic) dan The Coptic Version of the New Testament in the Northern Dialect (Bohairic). Pada Kis 2:36 perbedaan versi terutama menyangkut idiom bahasa penerima, bukan kristologi alternatif.
Perbandingan terjemahan
Versi | Terjemahan inti Kis 2:36 | Pilihan penting |
TB Indonesia | “Allah telah membuat Yesus … menjadi Tuhan dan Kristus” | sangat transparan terhadap ποιέω |
Terjemahan Indonesia alternatif di SABDA | “Allah sudah menetapkan Yesus … sebagai Penguasa …” | menafsirkan ποιέω sebagai pelantikan |
NIV | “God has made this Jesus … both Lord and Messiah” | menerjemahkan χριστός secara fungsional “Messiah” |
NRSVue | “God has made him both Lord and Messiah, this Jesus …” | mengikuti urutan kritis αὐτόν + apposisi |
NABRE | “God has made him both Lord and Messiah, this Jesus …” | terjemahan Katolik modern |
KJV | “God hath made … both Lord and Christ” | tradisi TR, tetapi arti inti sama |
Vulgata | “Dominum eum et Christum Deus fecit” | fecit berkorespondensi dekat dengan ἐποίησεν |
Peshitta | kira-kira “Allah telah menjadikan Yesus … Lord dan Messiah” | mempertahankan dua gelar Semitik/Suryani |
Koptik Sahidik/Bohairik | substansinya: “Allah menjadikan Dia Lord dan Christ” | tidak menghasilkan perbedaan doktrinal besar |
TB tersedia dalam bentuk tersebut secara daring. [20] NIV memberi “God has made this Jesus … both Lord and Messiah”, sementara NRSVue dan NABRE mempertahankan “made him both Lord and Messiah, this Jesus …”. [21] Variasi itu memperlihatkan bahwa masalah terjemahan terbesar bukan kritik teks, melainkan apakah χριστός dibiarkan “Kristus” atau diterjemahkan “Mesias”, dan apakah ἐποίησεν dibiarkan “made/membuat” atau diperjelas “appointed/established/menetapkan”.
Latar historis: Pentakosta, Mesianisme Yahudi, dan bahasa kekuasaan
Dari Paskah ke Pentakosta
Kisah Para Rasul sendiri menghubungkan kejadian-kejadian secara berurutan. Yesus menampakkan diri kepada para murid selama empat puluh hari setelah penderitaan-Nya dan kemudian naik; para murid menunggu di Yerusalem sampai Roh turun. [22] Kis 2 menempatkan khotbah Petrus pada Pentakosta, dan pidato itu menafsirkan pencurahan Roh melalui Yoel, penyaliban-kebangkitan melalui Mazmur 16, dan peninggian melalui Mazmur 110. [10]
Tanggal kalender absolut penyaliban masih diperdebatkan—sering ditempatkan sekitar 30 atau 33 M—sehingga bagan di atas sengaja mengikuti urutan naratif, bukan mengklaim tahun yang pasti. Unsur “empat puluh hari” berasal langsung dari Kis 1:3. [22]
Pentakosta Kristen terjadi pada Shavuot/Feast of Weeks, pesta ziarah Yahudi yang dihitung dari musim Paskah. Karena itu khalayak Kis 2 adalah lingkungan Israel yang sangat sarat Kitab Suci, bukan sidang filsafat Yunani. Daftar bangsa di Kis 2:5–11 menggambarkan orang-orang Yahudi dan proselytes dari diaspora berkumpul di Yerusalem. [10]
Harapan Mesianik tidak tunggal
Tidak ada satu “doktrin Mesias Yahudi” yang seragam pada abad pertama. Literatur Bait Kedua memperlihatkan beberapa pola: pengharapan raja keturunan Daud; figur imam; nabi eskatologis; agen surgawi atau “Anak Manusia”; dan dalam sejumlah teks lebih dari satu figur eskatologis. Tradisi Daud sangat penting, tetapi spektrum harapan harus dipertahankan. Ringkasan sejarah mengenai periode tersebut juga menekankan meningkatnya pengharapan pembebasan di bawah kekuasaan asing dan pentingnya model raja Daud. [23]
Teks primer yang relevan mencakup Mazmur Salomo 17–18 untuk raja Daud yang menyucikan Yerusalem, 4QFlorilegium untuk interpretasi eskatologis janji Daud, dan 4Q521 untuk tanda-tanda keselamatan zaman akhir. Karena itu ketika Petrus berkata χριστός, khalayaknya tidak mendengar sekadar nama keluarga “Kristus”; mereka mendengar klaim bahwa Yesus yang baru dieksekusi sebagai seorang terkutuk adalah tokoh yang Allah tetapkan sebagai pemegang janji eskatologis Israel.
Petrus bahkan membangun argumen dari janji takhta Daud: Kis 2:30 menyebut sumpah Allah untuk menempatkan salah seorang keturunan Daud di atas takhtanya; vv.31–32 menghubungkan itu dengan kebangkitan Mesias. [10] Karena itu χριστός dalam v.36 adalah gelar kerajaan sekaligus soteriologis.
“Tuhan”, Caesar, dan Herodes
Dalam dunia Yunani-Romawi κύριος mempunyai spektrum mulai dari “pemilik/tuan” sampai gelar penghormatan dan bahasa kedaulatan. Di lingkungan Septuaginta, lapisan tambahan yang menentukan adalah bahwa κύριος digunakan untuk mewakili nama YHWH. Katekismus Katolik secara tepat mencatat dua fakta sekaligus: Kyrios adalah terjemahan biasa untuk nama ilahi dalam LXX, dan pengakuan Kristiani akan Yesus sebagai “Lord” mempunyai konsekuensi bagi klaim absolut penguasa duniawi—“Caesar is not the Lord”. [24]
Tetapi akan berlebihan bila mengatakan bahwa dalam Kis 2:36 Petrus sekadar memberikan kepada Yesus “gelar resmi kaisar”. Pada masa Tiberius, bahasa kekaisaran lebih kompleks daripada itu, dan dominus/kyriosbelum merupakan satu-satunya gelar konstitusional kaisar. Interteks yang eksplisit dalam pidato Petrus adalah Mazmur 110:1, “Tuhan berkata kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku”, bukan suatu prasasti imperial. [10]
Bahasa politik tetap tidak dapat dihapus. “Mesias” berarti raja yang diurapi; Herodes Agung pernah memegang gelar raja, sementara penerusnya memerintah sebagai tetrark atau etnark di bawah Roma. Menyebut orang yang baru disalibkan oleh sistem Romawi sebagai Kristus dan Kyrios menyatakan bahwa putusan tertinggi atas pemerintahan Israel tidak berada pada Pilatus, Herodes atau Caesar, tetapi pada Allah yang membangkitkan Yesus. Itu adalah implikasi politis dari argumen kitabiah Petrus, bukan bukti bahwa kyrios di sini hanyalah pinjaman dari titulatur Caesar.
Urutan retorikanya karena itu sangat tajam:
Roma/otoritas manusia: orang ini disalibkan.Allah Israel: orang ini dibangkitkan, ditinggikan dan ditempatkan dalam pemerintahan mesianik.Israel: harus “mengetahui dengan pasti” siapa yang penilaiannya benar. [10]
Spektrum tafsir teologis dan akademis
Patristik: Athanasius dan Chrysostom
Ayat ini menjadi sangat penting dalam kontroversi Arian karena kata ἐποίησεν dapat dipakai secara polemis: “Bukankah Petrus mengatakan Allah membuat Yesus menjadi Lord? Berarti Sang Putra adalah makhluk.”
Athanasius membahas Kis 2:36 secara khusus dalam Orations Against the Arians, II, bab yang memang didedikasikan kepada teks “God hath made Him both Lord and Christ”. Argumennya berlapis. “Made” tidak menunjuk pada hakikat Logos seolah-olah Sang Putra baru diciptakan; Petrus berkata “Yesus ini yang kamu salibkan”, sehingga fokusnya adalah Sang Firman sebagaimana hadir dalam kemanusiaan dan karya penyelamatan. Bagi Athanasius, bahasa “dibuat Lord” menjelaskan manifestasi dan relasi pemerintahan Penebus terhadap kita; Sang Firman sendiri tidak mulai ada atau mulai secara ontologis menjadi Lord setelah salib. Ia bahkan menolak kesimpulan bahwa Kristus “mulai menjadi Tuhan” baru sesudah penderitaan sebagai kebangkitan kembali bentuk kristologi Samosata. [25]
Di sinilah akar utama pembacaan kemudian baik Katolik maupun Ortodoks: ekonomi keselamatan dibedakan dari hakikat ilahi Sang Putra.
Chrysostom dalam homilinya tentang Kisah Para Rasul memperhatikan betapa bertahap cara Petrus berbicara. Petrus mula-mula menggunakan bahasa yang dapat diterima pendengar Yahudi—Yesus sebagai manusia yang disahkan Allah—lalu membawa mereka melalui mukjizat, penyaliban, kebangkitan, Daud dan peninggian menuju kesimpulan kristologis. Bagi Chrysostom, “kerendahan” bahasa tertentu bukan batas terakhir ontologi Kristus, melainkan strategi pedagogis khotbah kepada khalayak yang belum siap. [26]
Reformasi
Calvin mengikuti struktur yang mirip tetapi dengan penekanan pada jabatan Mediator. Dalam komentarnya atas Kis 2:32–36 ia membedakan antara Kristus sebagai Anak kekal dan kehormatan/pemerintahan yang diberikan kepada-Nya dalam kapasitas-Nya sebagai Mediator. Menurut Calvin, Petrus mengatakan bahwa Israel tidak perlu mencari Mesias lain: Yesus inilah yang Allah “made and gave” sebagai Lord dan Christ; gelar Lord dihubungkan dengan kekuasaan tertinggi dari Sang Penebus yang diurapi sebagai kepala umat-Nya. [27]
Jadi pembacaan Reformasi klasik bukan: “Yesus tadinya bukan siapa-siapa, lalu Allah mengangkat-Nya menjadi ilahi,” tetapi: Anak yang kekal, dalam natur manusia dan jabatan mediatoris-Nya, secara historis menerima dan menampilkan pemerintahan kerajaan yang dijanjikan. Calvin di tempat lain menegaskan bahwa pemerintahan Sang Putra tidak bermula pada kebangkitan, tetapi menjadi lebih terbuka dan mulia setelah manifestasi-Nya dalam daging. [28]
Katolik
Dokumen resmi Katolik menyediakan salah satu sintesis paling eksplisit. CCC 436–440 menjelaskan Christossebagai “Yang Diurapi” dan mengatakan bahwa Yesus telah dikonsekrasi dan diutus oleh Bapa sejak awal; pelayanan-Nya sendiri menyingkapkan konsekrasi mesianik-Nya. Namun kandungan sejati kerajaan mesianik baru terpahami melalui penderitaan dan salib, sehingga “only after his Resurrection” kerajaan mesianik itu dapat diproklamasikan Petrus kepada umat dengan Kis 2:36. [29]
Demikian pula CCC 446–451 mengatakan bahwa kebangkitan dan peninggian memanifestasikan kedaulatan Yesus sebagai Lord; itu tidak mengajarkan bahwa natur ilahi diciptakan pada Paskah. [24] Bagian tentang “Son of God” juga membedakan apa yang diungkapkan penuh oleh misteri Paskah dari identitas Sang Putra yang sudah ada sebelumnya. [30]
Secara historis-teologis, formulasi Nicene γεννηθέντα οὐ ποιηθέντα — “diperanakkan, bukan dibuat”secara sengaja mencegah ποιεῖν dalam teks seperti Kis 2:36 dibaca sebagai penciptaan ontologis Sang Putra. Pembacaan Katolik pasca-Nicea karena itu mengartikannya menurut ekonomi inkarnasi, kemanusiaan, penobatan dan manifestasi pemerintahan Kristus.
Ortodoks
Tafsir Ortodoks mempunyai jangkar primer yang sangat kuat justru pada Athanasius. Ia bukan sekadar salah satu komentator kuno, melainkan saksi pokok tradisi Nicene Timur. Pembedaan Athanasius antara siapa Logos itu secara kekal dan apa yang terjadi pada Kristus yang berinkarnasi “bagi kita” dalam sejarah keselamatan menjadi cara klasik Ortodoks menangani Kis 2:36. [25]
Karena itu pembacaan Ortodoks tidak memerlukan pelemahan kata “made”. Yesus sungguh ditinggikan sebagai manusia, sungguh menerima pemerintahan kerajaan sebagai Mesias, dan kemanusiaan-Nya sungguh masuk dalam keadaan kemuliaan pasca-kebangkitan. Yang ditolak ialah inferensi bahwa hakikat ilahi Logos mulai ada atau mengalami promosi ontologis dari makhluk menjadi Allah. Seri pengajaran resmi Metropolis Ortodoks Yunani Chicago mengenai “The Person of Christ” mencerminkan kesinambungan fokus Nicene/Chalcedonian ini pada identitas pribadi Kristus. [31]
Evangelikal
Komentator evangelikal modern seperti I. Howard Marshall, Darrell Bock, Craig Keener dan Eckhard Schnabel pada umumnya memberikan bobot penuh kepada exaltation/enthronement tanpa menerima adoptionism. Representatifnya ialah pembacaan bahwa kebangkitan dan kenaikan merupakan titik di mana otoritas mesianik Yesus menjadi efektif secara eskatologis dan terbuka, sementara narasi Lukas sendiri sudah mengidentifikasi-Nya sebagai Mesias sebelum salib.
Teks paling sederhana yang membatasi pembacaan adoptionis adalah Luk 2:11, yang menyebut Yesus pada saat kelahiran sebagai “Saviour … Messiah, the Lord”; bahkan NIV memberi Kis 2:36 rujuk silang langsung ke Luk 2:11. [32] Karena itu komentator yang membaca Luke–Acts sebagai karya naratif terpadu harus menjelaskan dua data sekaligus:
1. Yesus sudah Christ/Lord dalam narasi pra-Paskah.
2. Allah benar-benar makes/constitutes Dia Lord and Christ sesudah kebangkitan.
Solusinya adalah pembedaan antara identitas dan penobatan/pelaksanaan jabatan.
Di lingkungan Reformed-evangelikal kontemporer, khotbah akademis-populer juga secara eksplisit menolak gagasan bahwa “made” berarti perubahan pada “being” Yesus dan mengartikannya sebagai establishment/installation/vindication dalam pemerintahan. [33]
Rujukan representatif: Darrell L. Bock, Acts (BECNT); Craig S. Keener, Acts: An Exegetical Commentary, vol. 1; I. Howard Marshall, The Acts of the Apostles (TNTC). Keener memang menempatkan Kis 1:1–2:47 dalam volume pertamanya. [34]
Kritik modern dan “exaltation Christology”
Di sinilah perdebatan paling tajam. Sejumlah rekonstruksi perkembangan kristologi awal—secara klasik dikaitkan dengan tradisi sejarah-agama dan kemudian dengan karya seperti James D. G. Dunn, Christology in the Making—menilai formula seperti Kis 2:36, Kis 13:33 dan Rom 1:3–4 sebagai jejak tahap sangat awal ketika kebangkitan dipahami sebagai saat Yesus diangkat/ditetapkan ke status eskatologis yang baru.
Versi paling kuat dari tesis itu berbunyi kira-kira: mula-mula komunitas Kristen memahami Yesus sebagai manusia pilihan Allah yang baru pada kebangkitan diangkat menjadi Mesias/Son/Lord; kristologi inkarnasi atau pra-eksistensi muncul kemudian.
Namun dua kualifikasi sangat penting.
Pertama, exaltation Christology tidak identik dengan adoptionism ontologis. Orang dapat mengatakan bahwa Yesus “diangkat kepada lordship” dalam arti fungsi dan pemerintahan tanpa mengatakan bahwa sebelum itu Ia hanyalah manusia biasa. Penelitian tentang “Lordship and Exaltation” memang membedakan exaltation sebagai peralihan dari kehidupan duniawi yang direndahkan menuju keadaan surgawi yang mencakup kebangkitan, kenaikan, duduk di kanan Allah dan pelaksanaan kuasa. [35]
Kedua, ketika ayat dibaca sebagai bagian dari Luke–Acts, teori “baru menjadi Mesias untuk pertama kalinya” menghadapi bukti internal yang berat. Artikel C. Kavin Rowe yang secara khusus berjudul Acts 2.36 and the Continuity of Lukan Christology menilai sejarah problem tafsir tersebut dan berargumen bahwa Kis 2:36 mengekspresikan, bukan mengontradiksi, kristologi Lukas. [36]
J. Lambrecht juga menunjukkan bahwa exaltation merupakan kategori yang sangat tua dalam Kristen perdana dan bahwa orang Kristen awal memandang Yesus yang bangkit sebagai Lord yang ditinggikan; tetapi itu tidak mengharuskan persaingan antara kategori “kebangkitan” dan “peninggian”. [37]
Maka posisi kritis yang lebih bernuansa ialah: Kis 2:36 memang merupakan teks autentik “kristologi peninggian” dalam arti kuat, tetapi tidak dengan sendirinya merupakan teks “adoptionisme”.Pertanyaan terakhir hanya dapat dijawab pada tingkat narasi dan teologi Lukas secara keseluruhan.
Apakah Yesus baru menjadi “Tuhan dan Kristus” sesudah salib?
Inilah inti problem teologisnya.
Argumen yang mendukung pembacaan “baru sesudah peninggian”
Ada alasan nyata mengapa sebagian sarjana membaca ayat secara kuat sebagai pelantikan baru.
Pertama, aoristus ἐποίησεν menunjuk suatu tindakan Allah. Petrus tidak berkata hanya “Allah menunjukkan bahwa Ia selalu Lord”; ia mengatakan Allah melakukan sesuatu terhadap Yesus.
Kedua, urutan Kis 2 sangat eksplisit:
disalibkan → dibangkitkan → ditinggikan → menerima/mencurahkan Roh → duduk di kanan Allah → “Allah menjadikan Dia Tuhan dan Kristus”. [10]
Ketiga, Mazmur 110:1 adalah teks penobatan: “Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Aku membuat musuh-musuhmu tumpuan kakimu.” Maka “made Lord” sangat wajar berarti pemberian kuasa kerajaan.
Keempat, Perjanjian Baru lain mempunyai struktur serupa. Filipi 2:8–11 menghubungkan ketaatan sampai mati dengan tindakan Allah “sangat meninggikan” Yesus dan memberi-Nya nama di atas segala nama. Hal ini memperlihatkan bahwa teologi Kristen awal tidak takut berbicara tentang suatu “sesudah” yang sungguh baru dalam karier Mesias.
Dengan demikian, penafsiran yang menjadikan epoiēsen sekadar sinonim lemah dari “mengumumkan sesuatu yang sama sekali tidak berubah” kurang memadai. Sesuatu memang berubah setelah kebangkitan: keadaan kemanusiaan Yesus, status publik-Nya, penobatan kerajaan, ruang lingkup pelaksanaan otoritas-Nya, dan dimulainya zaman pencurahan Roh. Kajian mengenai lordship dan exaltation menekankan tepat dimensi fungsional ini. [35]
Argumen melawan “Yesus sebelumnya bukan Mesias”
Tetapi ada bukti yang bahkan lebih kuat bahwa perubahan tersebut bukan asal mula identitas mesianik Yesus.
Lukas 2:11: sebelum pelayanan publik, malaikat sudah mengumumkan kelahiran Χριστὸς κύριος, “Kristus Tuhan”. [32]
Lukas 4:41: dalam pelayanan Galilea, roh-roh mengenal bahwa Yesus adalah Kristus.
Lukas 9:20: Petrus mengaku Dia sebagai “Kristus dari Allah” sebelum transfigurasi dan jauh sebelum Yerusalem.
Lukas 23: identitas “Kristus” menjadi bagian dari persoalan yang justru diperdebatkan pada penyaliban.
Artinya Lukas tidak mungkin lupa selama dua puluh empat pasal Injil bahwa ia telah memanggil Yesus “Kristus”, lalu pada Kis 2:36 bermaksud mengatakan bahwa baru pada saat itu Ia pertama kali menjadi Kristus. Katekismus Katolik menyimpulkan pola naratif ini dengan mengatakan bahwa Yesus telah memiliki konsekrasi mesianik, sedangkan setelah kebangkitan kingship tersebut diproklamasikan sepenuhnya. [29]
Begitu juga “Lord”. Lukas memanggil Yesus κύριος jauh sebelum Kis 2:36; maka “made Lord” tidak dapat secara sederhana berarti “kata Lord sama sekali tidak berlaku kepada-Nya sebelumnya”.
Sintesis terbaik: identitas, jabatan, dan fase eskatologis
Kesulitan hilang bila tiga kategori dibedakan.
Pertanyaan | Sebelum kebangkitan | Sesudah kebangkitan |
Siapakah Yesus? | Mesias/Sang Putra menurut narasi Lukas | pribadi yang sama |
Apakah Ia menjalankan misi mesianik? | Ya, dalam pelayanan, penderitaan dan jalan menuju salib | Ya, kini sebagai Mesias yang telah menang |
Bagaimana kerajaan-Nya diwujudkan? | dalam kerendahan, pelayanan dan penderitaan | melalui kebangkitan, peninggian, duduk di kanan Allah dan pencurahan Roh |
Apakah ada tindakan baru Allah? | janji dan pengutusan sedang digenapi | ya: kebangkitan, vindikasi, enthronement |
Apakah natur ilahi baru diciptakan? | tidak dinyatakan demikian | Kis 2:36 tidak mengatakan hal itu |
Athanasius merumuskan sisi ontologisnya: jangan memindahkan “made” kepada hakikat Logos. [25] Calvin merumuskan sisi mediatoris: kehormatan tersebut diberikan kepada Kristus dalam jabatan-Nya sebagai Penebus dan kepala. [27] Rowe merumuskan sisi naratif modern: Kis 2:36 harus dibaca dalam kontinuitas dengan kristologi Luke–Acts. [36]
Jadi kita tidak perlu memilih antara dua ekstrem:
Ekstrem A: “Tidak ada sesuatu pun yang baru terjadi pada kebangkitan; made berarti hampir tidak ada apa-apa.”
dan
Ekstrem B: “Sebelum kebangkitan Yesus hanyalah manusia biasa dan baru kemudian Allah mengubah-Nya menjadi Tuhan/Mesias.”
Teks mendukung posisi ketiga:
Orang yang sudah merupakan Mesias dalam identitas dan misi-Nya kini, melalui kebangkitan dan peninggian, secara definitif dinobatkan dan diperkenalkan oleh Allah sebagai Mesias kerajaan dan Lord eskatologis.
Inilah sebabnya “exaltation Christology” dan “high Christology” tidak harus saling meniadakan. Penobatan dalam sejarah keselamatan dapat diberikan kepada Dia yang identitasnya sudah lebih besar daripada jabatan yang kini dimanifestasikan.
Ada bahkan gerakan lebih tinggi dalam keseluruhan khotbah: Yoel 2 yang dalam konteks aslinya berbicara tentang memanggil nama YHWH dikutip di Kis 2:21; kemudian keselamatan dan baptisan direspons dalam nama Yesus Kristus di Kis 2:38. Itu tidak sendirian membuktikan seluruh metafisika Nicea, tetapi membuat pembacaan “κύριος hanyalah gelar politik biasa bagi manusia yang baru dipromosikan” sangat tidak memadai. [38]
Kesimpulan dan jawaban langsung
Apa teks Yunaninya?
ἀσφαλῶς οὖν γινωσκέτω πᾶς οἶκος Ἰσραὴλ ὅτι καὶ κύριον αὐτὸν καὶ χριστὸν ἐποίησεν ὁ θεός, τοῦτον τὸν Ἰησοῦν ὃν ὑμεῖς ἐσταυρώσατε.
Arti literalnya: “Karena itu hendaklah seluruh rumah Israel mengetahui dengan pasti bahwa Allah telah menjadikan dia baik Tuhan maupun Kristus—Yesus ini yang kamu salibkan.” Urutan καὶ κύριον αὐτὸν καὶ … dikonfirmasi oleh indeks teks Yunani dan diterjemahkan secara natural oleh NRSVue/NIV sebagai “made him/this Jesus … both Lord and Messiah.” [39]
Apa arti ἐποίησεν?Dalam konstruksi ini: membuat/menjadikan/menetapkan X sebagai Y. Kata itu menyatakan tindakan nyata Allah, tetapi sintaksis tidak mengatakan “menciptakan Yesus”. Konteks menentukan tindakannya sebagai kebangkitan, peninggian dan penobatan kerajaan pada vv.32–35. [10]
Apakah Kis 2:36 mengatakan Yesus belum Kristus sebelum kebangkitan?Tidak, bila Luke–Acts dibaca sebagai satu narasi. Lukas sudah menyebut Yesus “Christ the Lord” pada kelahiran, dan identitas mesianik-Nya muncul sepanjang pelayanan. Yang baru sesudah Paskah ialah bentuk eskatologis dan publik dari pemerintahan-Nya. [40]
Apakah ayat itu merupakan “exaltation Christology”?Ya, dalam pengertian bahwa kebangkitan/peninggian merupakan tindakan Allah yang benar-benar membawa Yesus ke pemerintahan surgawi dan lordship yang kini dijalankan dari kanan Allah. Penelitian modern benar untuk tidak menghapus aspek tersebut. [41]
Apakah itu berarti adoptionism—manusia biasa baru dijadikan ilahi?Tidak sebagai kesimpulan dari Kis 2:36, dan sangat sulit dipertahankan sebagai teologi Lukas. Ayat tidak berbicara tentang Allah mengubah esensi Yesus; bukti pra-Paskah dalam Lukas, interteks ilahi Kyrios, dan keseluruhan narasi melawan inferensi tersebut. Athanasius sudah melihat problem ini dalam kontroversi Arian dan membedakan “made” menurut ekonomi/kemanusiaan dari hakikat kekal Sang Firman. [42]
Apa perbedaan utama antara pembacaan patristik, Reformasi dan kritis-modern?Patristik-Nicene menekankan bahwa hakikat Sang Putra tidak dibuat; Reformasi menekankan jabatan mediator dan kerajaan yang diberikan secara historis; penelitian kritis menekankan formula peninggian yang sangat awal dan kemungkinan perkembangan kristologi. Pembacaan naratif kontemporer seperti Rowe berusaha menunjukkan bahwa penobatan tersebut justru konsisten dengan identitas Kristus yang sudah dibangun sejak Injil Lukas. [43]
Apakah manuskrip kuno memberikan alternatif teologis yang berbeda?Tidak. Sinaiticus, Vaticanus, Alexandrinus, papirus Acts, Bizantin, Latin, Suryani dan Koptik pada pokoknya mempertahankan klausa yang sama. Variasi urutan kata/partikel tidak menghasilkan teks di mana Yesus bukan “Lord”, bukan “Christ”, atau di mana ποιέω diganti dengan verba “menciptakan”. Codex Sinaiticus dan Vaticanus dapat diperiksa melalui koleksi digital manuskrip. [5] Vulgata bahkan mempertahankan struktur hampir kata demi kata: “Dominum eum et Christum Deus fecit.” [44]
Apa terjemahan eksegetis Indonesia yang paling menangkap maksud ayat?
Saya akan menerjemahkannya:
“Karena itu hendaklah seluruh kaum Israel mengetahui dengan pasti bahwa Allah telah menetapkan Dia—Yesus ini yang kamu salibkan—sebagai Tuhan sekaligus Mesias.”
“Menetapkan” menyampaikan fungsi faktitif dan penobatan lebih jelas daripada “membuat”, tetapi “membuat … menjadi” TB tetap merupakan terjemahan formal yang sah. [45]
Dengan demikian, pernyataan teologis Kis 2:36 dapat dirumuskan secara paling hati-hati sebagai:
Salib adalah putusan manusia atas Yesus; kebangkitan dan peninggian adalah putusan Allah atas-Nya. Allah tidak menciptakan seorang manusia biasa menjadi Allah pada Pentakosta. Allah membangkitkan dan menobatkan Yesus yang sudah merupakan Mesias, sehingga dalam fase baru sejarah keselamatan Ia kini secara definitif memerintah sebagai Mesias Daud dan Lord yang ditinggikan, mencurahkan Roh dan memanggil Israel kepada pertobatan.
Itulah sebabnya frasa yang tampaknya berbahaya bagi kristologi tinggi—“Allah membuat Dia Tuhan dan Kristus”—pada akhirnya justru merupakan salah satu rumusan Perjanjian Baru yang paling padat tentang salib, kebangkitan, vindikasi, penobatan mesianik dan pemerintahan Yesus. [46]
[6] [36] https://www.cambridge.org/core/journals/new-testament-studies/article/abs/acts-236-and-the-continuity-of-lukan-christology/D7154BF372D57CF2B9E485C33CB0AD42
[17] [44]https://la.wikisource.org/wiki/Pagina%3ACodex_Amiatinus_novum_testamentum_latine_%281854%29.djvu/244
https://la.wikisource.org/wiki/Pagina%3ACodex_Amiatinus_novum_testamentum_latine_%281854%29.djvu/244



Komentar